Berdiri Memohon sebagai Perlambang Kehilangan Hal Besar dalam Hidup

Rabu, 28 Mei 2014 – 15:30 WIB
INGATKAN DERITA: Dadang Christanto di antara patung-patung korban lumpur karyanya. Foto: Boy Slamet/Jawa Pos

jpnn.com - RUMAH berukuran sedang di Glagah Arum, Sidoarjo, itulah yang menjadi bengkel patung Dadang Christanto sekarang. Di sana terdapat halaman yang cukup luas. Tapi, kesannya jadi sempit. Hampir semua sisi halaman dipenuhi puluhan patung karyanya.

Rumah itu hanya ditinggalinya sementara. Hanya sampai proyek penggarapan galeri alamnya selesai. Setelah itu, dia kembali ke Brisbane, Australia. Di sanalah rumahnya. Tempat dia, istri, dan dua anaknya tinggal selama 15 tahun terakhir.

BACA JUGA: Margaretha Solang, Memanfaatkan Kerang Darah untuk Pacu Pertumbuhan

Sudah lebih dari sebulan dia menempati rumah itu. Hari-harinya dia habiskan untuk membuat patung. Dia tidak sendiri. Ada enam pegawai yang turut membantu.

Kini baru 101 patung yang dia hasilkan. Tidak ada target terhadap jumlah patung yang akan dia buat. ”Saya akan buat sebanyak-banyaknya,” kata Dadang saat ditemui Jawa Pos, Sabtu (24/5).

BACA JUGA: Bawa Buku sejak Ditahan, Deg-degan Tunggu Pengumuman

Setiap pagi Dadang beserta pegawainya siap untuk membuat lagi patung-patung itu. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat adonan berbahan dasar semen.

Lalu, adonan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan yang sudah ada. Jumlahnya empat. Semua berbentuk manusia, dua laki-laki dan dua perempuan. Tahap awal selesai, proses berikutnya dilanjutkan siang.

BACA JUGA: Ke Madeira, Mengunjungi Rumah Sejarah Cristiano Ronaldo

Saat matahari sudah meninggi, lelaki dengan rambut yang sudah mulai beruban itu kembali beraksi dengan patung-patungnya. Dia membuka cetakan pertama.

Hal tersebut memang selalu dia lakukan dua jam sekali untuk memastikan tingkat kekeringan pada adonan patung. Hal yang sama dia lakukan untuk tiga cetakan lain. ”Jika sudah kering, bisa langsung diangkat dari cetakan,” jelasnya.

Galeri alam miliknya nanti hanya diisi patung berbentuk manusia, laki-laki dan perempuan. ”Mewakili warga korban lumpur kan?” ujarnya dibarengi seulas senyum.

Menurut Dadang, ide itu tercetus pada 2008, saat dirinya menyaksikan aksi 400 warga korban Lapindo di Istana Merdeka, Jakarta. Meski dia bukan salah seorang korban, lelaki kelahiran Tegal, 12 Mei 1957, itu merasa iba.

Tragedi tersebut sudah terjadi delapan tahun lalu. Tapi, masih ada masyarakat yang belum dapat ganti rugi atas tenggelamnya rumah mereka berikut harta bendanya.

”Sepertinya tidak hanya rumah yang tenggelam. Mata pencaharian warga mungkin juga ikut tenggelam. Sawah atau kandang, misalnya,” kata Dadang di sela mengecek patung-patung yang dicetaknya pagi tadi.

Sebenarnya bukan kali pertama dia memamerkan karya seni berbau manusia dan lumpur. Itu pernah dia lakukan pada 2006. Yakni, pameran seni rupa 1001 Manusia Tanah di Ancol, Jakarta.

Bagi seorang seniman, membuat patung yang kemudian dijadikan isi galeri alam hanyalah satu bentuk bagian seni. Tapi, dia berharap lebih dari itu.

Tujuannya, ingin membantu warga sekitar untuk membuat lautan lumpur menjadi menarik. Tidak peduli berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk itu. Hitung saja, harga produksi per patung, kata Dadang, adalah Rp 300 ribu.

Namun, sebagai seniman, pertimbangannya bukan semata nominal yang dikeluarkan. Justru kepuasan batin itulah yang tak ternilai. Lebih dari itu, hasil karyanya juga bisa bermanfaat bagi banyak orang.

”Mudah-mudahan, kalau ada patungnya begini, pengunjung semakin banyak. Penghasilan mereka tentu bertambah,” ujarnya dengan senyum mengembang.

Dadang beranjak ke cetakan berikutnya. Pada cetakan kedua, dia memanggil salah seorang pekerja. Rupanya dia butuh bantuan untuk membalik patung itu. ”Biar keringnya merata,” ucapnya saat membalik patung dengan berat sekitar 20 kilogram itu.

Pembuatan patung tidak langsung jadi sekaligus. Bagian tangan dicetak secara terpisah. Sebab, patung dengan tinggi 2 meter tersebut didesain menyerupai orang memohon atau berdoa. Dua siku dilipat hingga rata-rata dada, sedangkan telapak tangan menghadap ke atas. ”Jika sudah kering semua, nanti disambungkan,” jelas alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu.

Tahap akhir pembuatan patung adalah pengecatan. Warna senada dibubuhkan ke semua patung tersebut. Yakni, abu-abu. Dalihnya, agar patung tersebut memiliki warna yang menyerupai warna lumpur.

Namun, sebelum sampai ke tahap itu, beberapa bagian patung perlu dihaluskan. ”Proses terlama ada di sini. Soalnya semua, dari atas sampai bawah,” katanya sambil menunjuk bagian tepi patung yang tampak tidak rata.

Galeri alam Dadang dibuka pada 29 Mei. Hal itu dimaksudkan agar dibukanya galeri bertepatan dengan peringatan delapan tahun luapan lumpur Lapindo.

Semua patung akan dipasang di semua sisi lautan lumpur. Tidak ada desain khusus soal peletakan itu. Namun, lanjut Dadang, berdirinya patung tersebut turut membawa barang-barang bekas. ”Diibaratkan barang itu harta benda yang ikut tenggelam,” jelasnya.

Galeri alam kali ini dinamai Survivor. Bagi dia, nama itu bisa mewakili kehidupan para korban lumpur. Mereka masih bisa survive meski lumpur sudah menenggelamkan rumah dan harta bendanya.

Selesai mengecek patung-patung itu, Dadang beranjak ke halaman samping. Di sana berdiri patung-patung yang sudah jadi. Lalu, dia mengambil sandal bekas dan panci. Dua barang itu kemudian diletakkan di dua tangan patung itu. ”Semua patung nanti berdiri seperti ini,” ujar Dadang dengan menunjukkan gaya patung di galerinya nanti.

Dadang menjelaskan, patung-patung tersebut didesain bukan tanpa arti. Bagi dia, patung itu diibaratkan sedang bersaksi atas kehilangan besar pada hidupnya. ”Gayanya sama dengan gaya orang membawakan foto kerabat atau saudara yang meninggal saat dibawa ke pemakaman,” papar dia.

Dia melanjutkan lagi pembuatan patung. Di minggu terakhir sebelum pembukaan galeri, Dadang beserta enam pegawainya bekerja lebih ekstra. Target dia untuk patung memang sebanyak-banyaknya. Meski demikian, dia memprediksi hanya ada 110 patung yang terpasang pada hari pembukaan galeri itu.

Tidak hanya pembuatan, pemasangan patung juga sudah mulai berjalan. Pada 29 Mei mendatang, semua patung yang bersaksi berdiri di atas lumpur Lapindo.

Impian Dadang untuk kali kesekian kembali terwujud. Dia akan kembali ke Australia dengan perasaan bangga karena telah meninggalkan prestasi di tanah kelahirannya, Indonesia. (Rista R. Cahayaningrum/c7/dos)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sambut Final Liga Champions, Menara Belem Jadi Jujukan Turis di Lisbon


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler