Bisa Dihargai Rp 500 Juta Per Ons

Jumat, 11 Desember 2009 – 04:34 WIB
USAHA - David Hendra bersama sekandang tokeknya (kiri), serta tokek dalam kandang. Foto: Baskoro Septiadi/Radar Semarang/Internet. Montase: Arsito/JPNN.
Mungkin tak banyak yang menyangka bahwa tokek ternyata bernilai jual tinggiBahkan, hewan yang sefamili dengan cicak itu, telah menjadi komoditas ekspor yang sangat menjanjikan, karena omzetnya bisa mencapai miliaran rupiah.

Laporan BASKORO SEPTIADI, Semarang

TAK
percaya? Bertanyalah kepada David Hendra

BACA JUGA: Disel Dapat Kasur Empuk dan Jatah Makan Nasi Kebuli

Pria 52 tahun itu adalah salah seorang warga Semarang yang menekuni bisnis tokek.

"Sekali transaksi, saya bisa mengantongi uang ratusan juta rupiah
Bahkan hingga miliaran rupiah," ungkap pria kelahiran Probolinggo, 24 November 1957 tersebut, ketika ditemui Radar Semarang di kediamannya, Jl Puspowarno Tengah, Semarang Barat, Kamis (10/12).

Hendra menjelaskan, tokek yang bernilai jual tinggi itu memang bukan sembarang tokek

BACA JUGA: Perjuangkan HAM di Perbatasan, Diteror Akan Dikubur 7 Meter

Beratnya per ekor harus lebih dari 3,5 ons
"Umumnya berat tokek di bawah 2 ons

BACA JUGA: Serahkan Celengan, Bocah 6 Tahun Itu Rela Tak Beli Kucing

Itu tak laku dijualKalaupun dijual, paling hanya laku Rp 2 ribu-3 ribu per ekor buat obat," jelasnya.

Dia menambahkan, tokek sendiri bisa dibagi menjadi tiga jenis: tokek hutan, tokek batu dan tokek rumahMasing-masing memiliki ciri khas yang membedakanNamun, di antara ketiga jenis tokek itu, tokek rumah-lah katanya yang paling mahal.

Untuk tokek rumah seberat 5-5,9 ons, harganya bisa mencapai Rp 250 juta per ons, sehingga per ekornya bisa laku sampai Rp 1 miliar"Bahkan, tokek dengan berat lebih dari 5,9 ons dihargai Rp 500 juta per ons," tuturnya.

Hendra yang baru setahun menekuni bisnis tokek itu, menyatakan baru saja melakukan transaksi tokek rumah seberat 7 onsUntuk transaksi itu, si mediator (penghubung, Red) meminta bayaran Rp 500 juta"Anda percaya atau tidak, tapi ini benar-benar terjadi," tegasnya meyakinkan.

Untuk jenis tokek lain, lanjut Hendra, harganya memang tak setinggi tokek rumahTokek batu misalnya, harganya hanya Rp 5 juta per kg dan harga tokek campuran cuma seperempat harga tokek rumah"Tokek batu itu besar-besarSeekor bisa lebih dari 1 kg," ujarnya.

Karena harganya yang sangat menggiurkan, wajar saja bisnis tersebut sekarang menjadi santapan empuk para tukang tipuModus penipuannya bisa dilakukan dengan pemberian obat, makanan, atau alat pemberat lain yang mampu meningkatkan berat badan tokek"Pernah ada yang memasukkan gotri (peluru) di tubuh tokek biar beratnya tambah," ceritanya.

Namun, pengusaha multi-talenta tersebut memiliki cara sendiri untuk mengantisipasi penipuan dalam bisnisnya ituSuami Tabita Sriwatiningsih tersebut menyatakan telah memiliki jaringan perdagangan tokek yang kuatMayoritas pembeli yang dilayaninya adalah konsumen di luar negeri.

Sementara untuk jaringan ke bawah, mulai dari para penjual dan pengumpul, Hendra menggunakan cara tersendiri guna mencegah penipuanYakni, penjualannya melalui foto, serta pembayaran melalui beberapa tahap"Usaha dengan omzet miliaran seperti ini rawan penipuanKalau tidak cermat, akan mudah ditipu makelarKarena itu, saya punya cara sendiri untuk mengatasi penipuan," ujarnya.

Dia menjelaskan, sistem penjualan tokek dipasarkan melalui foto tertutupTokek tidak diperlihatkan secara utuhNamun, tokek difoto di atas timbangan digital, yang di sampingnya diletakkan koran untuk mengetahui tanggal berapa tokek tersebut difoto.

Foto tersebut kemudian dipasarkan melalui internet atau dikirim dalam bentuk print outOrang yang hendak membeli tokek harus lebih dulu menyatakan sanggup bertransaksi dengan mentransfer sejumlah uang"Selanjutnya, saat terjadi transaksi langsung, barulah dibayar lunas," jelasnya.

Untuk pembelian dari pengumpul atau pemilik, Hendra menggunakan tiga tahap pembayaran untuk menghindarkan penipuanPertama, pernyataan kesanggupan dengan membayar sejumlah tertentuLalu, selama beberapa hari, dia mengamati kondisi kesehatan tokekJika tokek tetap sehat, dirinya baru membayar uang mukaBaru setelah beberapa minggu dipastikan tokek dalam keadaan aman dan sehat, dia membayar lunas harga yang disepakati.

"Tentunya, kita harus lebih cerdas dari para penipuSaya sudah punya pengalaman ditipu orangItu menjadi pengalaman paling berharga," kata pria yang sehari-hari mengendarai Honda Jazz merah tersebut.

Hendra menambahkan, mayoritas tokek itu dijual ke luar negeriNamun, dengan alasan bisnis, dia enggan menyebutkan negara-negara pengimpor tokek asal Indonesia itu"Ya, pokoknya dibeli orang luar sana, Mas," tegas bapak empat anak itu.

Di luar negeri, tokek yang beratnya lebih dari 3,5 ons tersebut digunakan untuk bahan penelitianTermasuk untuk menciptakan obat-obatan, pembuatan senjata biologi, serta kepentingan teknologi biologis lainnya"Tokek untuk pengembangan teknologi ke depan tidak akan surutJustru permintaan akan semakin tinggi," ujarnya optimistis.

Untuk mengembangkan bisnis tersebut, selain di Semarang, kini Hendra telah mampu membuka lima kantor pemasaranMasing-masing yakni di Bekasi, Bandung, Surabaya, Denpasar dan JakartaKantor cabang tersebut, selain untuk bisnis tokek, juga dimanfaatkan Hendra untuk bisnis lain yang telah ditekuninya lebih dulu, yaitu kursus bahasa, pembuatan website, serta bisnis handphone dan komputer(abaz/aro/jpnn/kum)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Beri Semangat agar Indonesia Berani Bermimpi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler