Candi Muara Takus, Jejak Kerajaan Sriwijaya di Provinsi Riau

Minggu, 02 November 2014 – 10:37 WIB

jpnn.com - CANDI Muara Takus merupakan cagar budaya nasional Indonesia. Terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar, Kabupaten Kampar. Tempat ini menjadi salah satu objek wisata terkenal di Riau, bahkan Indonesia. Pengunjung bukan hanya ingin melihat dari dekat peninggalan sejarah masa lalu itu, tapi banyak juga yang menggelar iven bersama rekan kerja ataupun keluarga.


Candi ini terletak sekitar 128 kilo meter dari Pekanbaru, arah ke Sumatera Barat (Sumbar). Hamparan Danau PLTA Koto panjang yang membentang di sisi kanan kiri jembatan baja, memanjakan mata memandang sebelum memasuki jalan kecil arah ke kanan menuju Candi Muara Takus. Setelah  melewati Desa Tanjung Alai, Gulamo, Batu Bersurat dan Koto Tuo, candi itupun terlihat. Jalan yang ditempuh, beraspal mulus. Hanya beberapa bagian saja yang rusak.

BACA JUGA: Tiap SKPD Lapor Kekurangan PNS


Candi dengan stupa berwarna kuning, terlihat jelas. Ada yang tinggi, ada yang rendah. Ada bangunan rata yang tidak berstupa lagi. Bangunan-bangunan ini berada di atas lahan sekitar 74x74 meter. Pagar besi mengelilingi bangunan ini.


Candi Muara Takus merupakan candi Buddha. Ini terlihat dari adanya stupa yang merupakan lambang Buddha Gautama. Ada pendapat yang mengatakan bahwa candi ini merupakan campuran dari bentuk candi Buddha dan Syiwa. Bangunan yang utama adalah yang disebut Candi Tua. Candi ini berukuran 32,80 m x 21,80 m dan merupakan candi bangunan terbesar di antara bangunan yang ada. Letaknya di sebelah Utara Candi Bungsu. Di sebelah Timur dan Barat terdapat tangga yang menurut perkiraan aslinya dihiasi stupa.

BACA JUGA: Pemprov Surabaya Protes Moratorium CPNS


Bangunan kedua dinamakan Candi Mahligai. Bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,44 m x 10,60 m. Tingginya sampai ke puncak 14,30 meter. Bangunan ketiga disebut Candi Palangka, yang terletak 3,85 m sebelah Timur Candi Mahligai. Bangunan ini terdiri dari batu bata merah yang tidak dicetak. Candi Palangka merupakan candi terkecil. Relung-relung batu yang tersusun tidak sama dengan dinding Candi Mahligai. Dulu, sebelum dipugar, bagian kakinya terbenam sekitar satu meter.


Bangunan keempat dinamakan Candi Bungsu. Candi Bungsu terletak di sebelah Barat Candi Mahligai. Bangunannya terbuat dari dua jenis batu, yaitu batu pasir. Selain bangunan-bangunan ini, di sebelah Utara atau tepat di depan gerbang Candi Tua terdapat onggokan tanah yang mempunyai dua lubang. Tempat ini diperkirakan tempat pembakaran jenazah. Lubang yang satu untuk memasukkan jenazah dan yang satunya lagi untuk mengeluarkan abunya. Tempat pembakaran jenazah ini termasuk dalam pemeliharaan karena berada dalam komplek percandian. Di dalam onggokan tanah tersebut terdapat batu-batu kerikil yang berasal dari Sungai Kampar.

BACA JUGA: Kasus Anak Cabuli Anak Meningkat di Mataram


Candi ini sudah pernah dipugar. Batu-bata pada candi bagian atas, merupakan batu-bata masa kini. Tapi, di bagian bawahnya masih asli. Bentuknya seperti tanah, lembut dan meresap air. Di antara batu-batu itu juga ada drainase peninggalan masa silam. Di bagian paling belakang candi ini juga terdapat sumur yang digunakan untuk penelitian.


Di luar pagar bangunan ini terdapat halaman yang luas. Di sini ada pondok-pondok tempat masyarakat berjualan. Di sinilah pengunjung biasanya beristirahat dan sering melakukan berbagai kegiatan. Bisa berbentuk perlombaan, permainan atau hanya sekedar berdiskusi dengan menggelar tikar dan makan bersama. Fasilitas seperti kamar mandi dan musala, juga tersedia di sini.


Kawasan asli candi ini sebetulnya cukup luas, yakni mencapai 4 kilometer persegi. Bahkan sampai di pinggiran Danau PLTA yang terletak tidak jauh dari candi. Sisi danau di kawasan ini juga menjadi lokasi berkunjung bagi wisatawan. Pohon-pohon di sekitarnya yang teduh dan semilir angin di pinggiran danau, membuat pengunjung betah berlama-lama di sini. Paling tidak, mereka menghabiskan sebagian waktu untuk berfoto-foto di sini.


Danau ini dibangun tahun 1992. Waktu itu, Tokyo Elektric Power Limited melakukan proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Desa Koto Panjang, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar. Program kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Jepang itu berupa pembuatan bendungan. Awalnya, air Sungai Kampar Kanan akan dinaikkan hingga 100 meter sehingga bisa menghasilkan 140 megawatt. Hal ini sempat diributkan banyak kalangan. Air setinggi itu dipastikan menenggelamkan gugusan candi, maka diturunkan lagi menjadi 85 meter.


Gugusan Candi Muara Takus memang terselamatkan, tetapi penggalan kisahnya kini juga berada di bawah permukaan air danau. Secuil kisah itu ada di Desa Pongkai, desa dimana tanah liat bahan candi diambil. Bekas-bekas lubang galian tanah di desa yang berjarak sekitar 8 kilo meter di sebelah hilir kompleks Candi Muara Takus ini musnah tenggelam. ‘’Ada delapan desa yang tenggelam, tapi semua sudah dipindahkan. Di sini dulu kawasan pasar,’’ kata Datok Ramli bergelar Rajo Datok Tigo Balai.


Di sisi lain, juga tidak jauh dari candi, terdapat bangunan kecil yang terbuat dari batu-bata yang sama yang digunakan untuk membuat candi. Sudah pasti bangunan ini merupakan bagian dari bangunan candi. Sekitar 20 meter ke arah pinggir sungai, terdapat dermaga. Tidak jauh dari dermaga ini terdapat sumur larangan. Sumur yang juga menjadi bagian dari bangunan candi.


Karena air danau yang tinggi, sumur ini sempat hilang. Warga tempatan kemudian mencarinya dan kembali menemukan sumur itu. Tidak ingin kehilangan lagi, warga kemudian mengubah bentuk sumur ini menjadi sumur cincin. Sumur inipun tidak terlihat jelas, padahal, banyak kisah dan sejarah di dalamnya.


Mengapa kawasan candi ini diyakini masyarakat setempat seluas 4 kilo meter, karena kawasan ini memang dipagar dengan tanggul kuno. Tanggul ini dibuat keliling. Sisa tanggul kuno itu masih terlihat. Tidak jauh dari dermaga. Cukup dengan berjalan kaki saja. Di kawasan sisa tanggul kuno inilah dulu yang menjadi tempat pembuatan dan pembakaran batu-bata untuk membuat candi itu. Tapi kawasan ini juga sudah tenggelam oleh Danau PLTA.

 

Hujan bukan halangan bagi Gubernur Riau H Annas Ma'amun untuk meninjau Objeck Wisata Candi Muara Takus Kabupaten Kampar. Ketertarikan Annas pada objeck wisata Candi Muara Takus bukan hanya sekedar nilai sejarahnya namun juga dari segi nuansa alamnya yang indah, tampak dikelilingi oleh Bukit Barisan yang bejejer serta terdapat danau di sekitar lokasi candi.

 

Direnovasi untuk destinasi wisata Provinsi


Gubernur Riau Anas Maamun bersama Wakil Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rahman  didampingi Bupati Kampar H Jefry Noer dan Ketua DPRD Kampar H Ahmad Fikri SAg, anggota DPRD provinsi Riau H Masnur SH berkunjung ke Candi Muara Takus beberapa waktu lalu.


Annas menjelaskan bahwa nantinya jalan menuju objeck wisata tersebut akan dibuat dua jalur. Di lokasi tersebut akan dikembangkan seluas 4 kilo meter persegi dan akan dibangun Museum Sejarah Candi Muara Takus.


“Agar objek wisata Candi Muara Takus ini dikunjungi para wisatawan kita akan kembangkan, jalan akan kita bangun dua jalur, di area candi akan kita perluas  sekaligus akan dibangun musium candi. Kita jadikan Candi Muara Takus ini sebagai objek wisatawan Provinsi Riau. Saya yakin ini akan menjadi cantik, jadi kalau mau berwisata disinilah tempatnya,”jelas Annas saat berada di lokasi Candi.


Sebelumnya Annas berkonsultasi kepada tokoh masyarakat, ninik mamak dan kades baik itu tentang izin pengembangan maupun ganti rugi pembebasan lahan yang akan dibangun. Selain itu juga nantinya akan dibangun kios-kios untuk masyarakat berjualan ciri khas daerah sehingga masyarakat merasakan dampak pembangunan objeck wisata tersebut.

Bupati Kampar H Jefry Noer menanggapi dengan baik dan mendukung penuh hal ini  dan mengatakan ini merupakan terobosan Gubernur Riau H Annas Maamun untuk membangun kampar lebih baik, dan terjalin singkronisasi antara pemerintah kabupaten dan provinsi terus berjalan melalui koordinasi dalam membangun daerah.

Masyarakat sangat berharap hal tersebut akan terwujud sehingga masyarakat dapat menikmati objek wisata candi ini, khususnya wisatawan lokal, daerah akan berkunjung, dan dampaknya juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat tempatan dengan berjualan makanan dan minuman ciri khas daerah.

 

Menurut Bupati Kampar H Jefry Noer, pembenahannya memerlukan anggaran sekitar Rp92 miliar.‘’Karena membuat jalan jalur dua, juga pemugaran lokasi candi memerlukan biaya sekitar Rp92 miliar. Sekitar angka itu untuk melakukannya karena dimulai dari awal,’’ sebut Jefry.


Karena memang sesuai keinginan Gubri, lanjut bupati, yang perlu dilakukan perbaikan terlebih dahulu adalah akses jalan. Di mana sekarang masih satu jalur, maka harus ditambah menjadi dua jalur. Agar masyarakat dapat memiliki ketertarikan untuk berkunjung.

Sehingga Pemkab Kampar tentunya memerlukan waktu dan anggaran cukup besar untuk membebaskan lahan dan membuat jalan dua jalur menuju salah satu candi tertua di tanah air tersebut.

 

‘’Sekitar candi juga akan dilakukan pembenahan. Mudah-mudahan dengan dukungan Pemprov Riau dapat segera terlaksana sehingga Kampar bisa menjadi destinasi wisata di Riau,’’ tambahnya singkat. (***Sumber:Riau Pos/JPNN)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Alhamdulillah, Gaji Ibu Susi untuk Asuransi Nelayan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler