Cari Batik Premium? Datang Saja ke Thamrin City

Senin, 27 Maret 2017 – 21:44 WIB
Ilustrasi. Foto: JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Para pencinta batik tak perlu lagi pergi ke Pekalongan untuk mendapatkan batik khas daerah itu.

Saat ini, batik khas Pekalongan maupun daerah lain sudah tersedia dalam jumlah melimpah di TM Thamrin City maupun Blok B Tanah Abang.

BACA JUGA: Program Pusat Batik Nusantara Manjakan Pebisnis

“Kini penggemar batik premium, tidak perlu ke daerah untuk mendapatkannya. TM Thamrin City sebagai sentra batik nusantara menyediakan pula berbagai batik dari berbagai daerah dengan harga mulai harga grosir sampai batik eksklusif yang digemari selebriti maupun pejabat,” ujar Assistant Vice President (AVP) Marketing Trade Mall Agung Podomoro Ho Mely Surjani.

Salah satu kios yang populer di Thamrin City adalah Batik Putra Fakhruddin di lantai dasar.

BACA JUGA: Tekstil Jadi Senjata Gaet Turis Singapura

Beragam motif batik Pekalongan tersedia di sana. Semuanya adalah batik tulis tradisional yang diambil langsung dari para perajin di Pekalongan.

Tak mengherankan, harga batik di sana juga termasuk mahal jika dibandingkan printing alias cap.

BACA JUGA: Mangga Dua Square Pikat Wisman Dengan Batik Tradisional

Untuk kemeja pria lengan panjang, batik Putra Fakhruddin rata-rata dijual di kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 4,5 juta.

Sedangkan pakaian wanita dijual mulai Rp 2 juta.

Kios Putra Fakhruddin disebut-sebut yang paling populer di Thamrin City.

Sebab, batik dari kios tersebut sering dikenakan presenter televisi setiap siaran.

“Mereka memakai batik Pekalongan karena warna-warni batiknya terekspresi kuat, sehingga sangat menarik dipakai di depan kamera televisi,” ujar Bekti, manajer operasional kios batik Putra Fakruddin.

Dia menambahkan, hal itu membuat batik yang dijual Putra Fakhruddin juga disukai anggota dewan.

Menurut Bekti, kios Putra Fakhruddin di TM Thamrin City merupakan etalase hasil produksi para perajin di Kampung Wiradesa, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Ada sekitar 150-an perajin dan penjahit yang tergabung di dalam sentra indutri batik Wiradesa.

Mereka mengirim lebih dari 200 potong batik jadi ke kios Putra Fakhruddin setiap sepuluh hari sekali.

“Meski tergolong premium harganya, kami cukup kewalahan melayani permintaan,” ujar Bekti.

Di kios batik ini, sebuah kemeja batik pria atau blues wanita rata-rata hanya bertahan di etalase sekitar lima hari.

Awalnya, batik Putra Fakruddin hanya menjajakan produk di butiknya di Pekalongan dengan menyasar pasar para wisatawan dan warga sekitar.

“Sejak buka etalase di TM Thamrin City, Putra Fakhruddin semakin dikenal. Kini omzetnya sekitar Rp 1,5 miliar per bulan baik untuk retail maupun grosir,” ujar Bekti.

Saat kali pertama membuka kios pada 2011, mereka hanya bisa menyewa satu kios di lantai dasar.

Enam bulan berselang, mereka bisa menambah satu kios lagi di lantai yang sama.

Saat ini, mereka memiliki beberapa kios di Thamrin City.

Menurut Ho Mely, batik Putra Fakhruddin di Pusat Batik Nusantara, TM Thamrin City adalah salah satu contoh success story para pedagang batik tradisional di daerah-daerah setelah membuka etalasenya di trade mall-trade mall di bawah manajemen TM Agung Podomoro.

“Dulu, kami turun langsung ke sentra-sentra produksi batik di daerah. Mengajak mereka perlunya membuka etalase di Jakarta. Agar produk mereka semakin dikenal luas. Karena kebanyakan perajin batik kita masih berpola bisnis tradisional, yang sudah cukup puas dengan melayani kebutuhan lokalnya saja. Padahal potensi pasar mereka sangat bagus,” ujar Mely Surjani.

Dibuka sejak 2010, Pusat Batik Nusantara kini dihuni sekitar 2.000 pedagang batik dari berbagai daerah.

Pusat perdagangan batik ini sangat ramai pada hari-hari kerja maupun liburan akhir pekan.

Hal itu menjadikan Pusat Batik Nusantara sebagai sentra perdagangan batik terbesar di Indonesia. (fer)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mbak Puan: Ayo Lestarikan Batik Indonesia


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler