Caterpillar dan Schneider Perluas Usaha di Batam

Jumat, 19 Mei 2017 – 22:29 WIB
Caterpillar akan melakukan perluasan usahanya yang ada di Dortmund ke Batam, Kepri. Foto: source

jpnn.com, BATAM - Dua investor asing asal Jerman, Catterpillar dan Schneider memperluas usahanya di Batam, Kepulauan Riau.

Catterpillar akan memindahkan pabriknya dari Dortmund, Jerman ke Batam sedangkan Schneider melakukan ekspansi usahanya dengan nilai investasi 141 juta Dolar Amerika.

BACA JUGA: Soal Regulasi Gambut, Pemerintah Harus Beri Kepastian Hukum Investasi

"Catterpillar di Tanjunguncang biasanya produksi alat-alat berat berencana pindahkan pabrik dari Dortmund ke sini. Mereka sudah punya sekitar 600 SDM dan telah mengambil tujuh welder wanita dari salah satu SMK di Batam," kata Deputi V BP Batam, Gusmardi Bustami setelah menerima kunjungan dari 14 perusahaan yang tergabung dalam Singapore Business Federation (SBF).

Sejak mulai beroperasi di Batam pada tahun 2013, Catterpillar telah berinvestasi sebesar 216,4 juta Dolar Amerika dan kembali akan memperluas usahanya dengan nilai 12 juta Dolar Amerika.

BACA JUGA: Urus Izin Investasi di Indonesia 2 Bulan, Vietnam 2 Pekan

Sedangkan Schneider yang berorientasi 100 persen ekspor keluar negeri telah mempekerjakan hampir 1700 SDM dan perluasan usaha ini dipandang sebagai momen baik untuk mengembalikan kejayaan ekonomi Batam.

Gusmardi juga membantah opini yang berkembang di publik bahwa perusahaan-perusahaan top di Batam seperti Mc Dermott dan Siemens tengah lesu.

BACA JUGA: Indonesia Favorit Investor, Dana Asing Masuk Rp 105 Triliun

"Memang saat harga minyak turun 30 Dolar, Mc Dermott teriak, namun mereka berkomitmen untuk tetap di Batam," jelasnya seperti dikutip Batam Pos (Jawa Pos Group) kemarin.

Imbas dari kelesuan ekonomi global memang mengganggu produktivitas Mc Dermott dan Siemens. Namun masih dalam tahap penurunan permintaan order dari luar sehingga ada pengurangan karyawan. "Namun selebihnya masih bertahan, berikut juga dengan 700 perusahaan yang ada di 24 kawasan industri di Batam," katanya.

Gusmardi mengakui kompetisi antar negara di bidang penyediaan lahan industri memang berat. Untuk menyaingi Johor Malaysia masih butuh jalan panjang, namun tidak dengan Vietnam karena Batam masih lebih baik dari negara komunis tersebut.

"Di Batam, masa pengelolaan lahan bisa mencapai 80 tahun. Sedangkan di Vietnam yang dulunya 60 tahun malah dikurangi sebanyak 30 tahun," ungkapnya.

Selain itu, jika ada perusahaan-perusahaan yang tutup di Batam, Gusmardi meminta jangan salahkan BP Batam karena pada dasarnya dunia industri juga berjalan sebanding dengan kemajuan teknologi.

"Inikan bisnis. Ada pasar, apalagi Batam sangat terpengaruh pasar global, jika Singapura menurun, kita juga ikutan," jelasnya.

Teknologi juga menentukan peran dari daya saing perusahaan industri. Teknologi yang kalah saing tentu membuat perusahaan tidak akan mampu bertahan hidup karena ada teknologi yang lebih baik lagi.

"Contohnya Sanyo Battery yang sudah tutup tahun lalu. Mereka tak bisa berkompetisi lagi karena teknologinya kalah bersaing. Akibatnya terpaksa kurangi karyawan supaya bisa hidup atau malah tutup," tegasnya.(leo)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gross Split Lebih Berisiko Bagi Investor


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler