Dari Peluncuran Buku Koruptor Go To Hell Karya Bibit Samad Riyanto

Kasus Antasari Jadi Momentum Serang KPK

Sabtu, 19 Desember 2009 – 00:47 WIB
Foto : Agus Wahyudi/JAWA POS

Setelah aktif lagi sebagai wakil ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Bibit Samad Riyanto menerbitkan sebuah buku berisi pengalaman empirik selama dua tahun memberantas korupsiApa saja isi buku 176 halaman itu?


------------------------------------------------------
  ANGGIT SATRIYO NUGROHO, Jakarta
------------------------------------------------------

 
MALAM itu (16/12) sekitar 100 tamu sudah memenuhi ruangan di Ballroom Hotel Sultan

BACA JUGA: Susahnya Teliti Gelatin agar Tak Masuk Neraka

Mereka sabar menunggu sang pemilik hajat, Bibit Samad Riyanto
Seluruh undangan telah siap duduk melingkar menghadap meja-meja yang ditata di ruangan seluas setengah lapangan bola tersebut

BACA JUGA: Sakit Parah pun, Besarkan Hati Sesama Penderita Kanker

Malam itu mereka akan memperoleh paparan pria 64 tahun terkait peluncuran buku barunya berjudul Koruptor Go to Hell, Mengupas Anatomi Korupsi di Indonesia .
 
Seperempat jam berselang
Sosok yang ditunggu muncul

BACA JUGA: Mukjizat Darah Tali Pusar Terus Berkembang

Mengenakan kemeja panjang berdasi dibalut jaket cokelat muda, Bibit terlihat segarDia melambaikan kedua tangan kepada seluruh tamu undangan malam ituMereka bertepuk tangan menyambut "bintang" malam itu
 
Pria yang dituakan di KPK tersebut lantas duduk di kursi paling depanSatu kelompok dengan tokoh-tokoh senior yang hadir malam ituYaitu, mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie, ekonom Sri-Edi Swasono, Adnan Buyung Nasution, Plt Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean, dan penasihat hukum yang setia mendampingi selama beperkara, Achmad RivaiIstri Bibit, Titiek Sugiharti, anak, beserta cucunya juga hadir dalam peluncuran itu
 
Sejurus kemudian, puluhan tamu merangsek ke deretan kursi yang ditempati BibitMereka menodong Bibit agar bersedia membubuhkan tanda tangan di sampul halaman buku barunya ituDia pun melayani semua permintaan tamunya dengan senang hati"Waktu mau berangkat ke sini, saya tak menyangka akan ada penyambutan semeriah iniSaya sangat berterima kasih," tutur Bibit
 
Orang-orang sudah menunggu-nunggu peluncuran buku ituMaklum, sang penulisnya adalah pelaku langsung dalam proses pemberantasan korupsiPenulisan buku itu dicicil sejak dua tahun laluSejak dia kali pertama menjabat di lembaga antikorupsi tersebutSetiap ada waktu luang, dia membuka laptop dan menuliskan buah pikirannya ituPenyelesaiannya makin dikebut saat dia jeda memimpin lembaga karena berstatus nonaktif"Waktu nonaktif lalu, saya juga rajin menulisYang pasti, saya bicara apa adanya," terang pria kelahiran Kediri tersebutUntuk mengeditnya, dia dibantu seorang wartawan senior Nurlis EMeuko
 
Dalam buku tersebut, Bibit membeber panjang lebar soal pemberantasan korupsi di tanah airSebagian isi buku itu adalah pengalaman pribadi selama berkarir sebagai penegak hukumMulai tiga puluh tahun menjadi polisi hingga dua tahun terakhir menjabat di KPKDi bab-bab awal dia menceritakan bagaimana hebatnya serangan balik koruptor yang belakangan membikin gonjang-ganjing KPKYang paling fenomenal, kriminalisasi yang menyeret dia dan koleganya, Chandra Marta Hamzah, beberapa waktu lalu.
 
Bibit mengakui, setelah penangkapan Antasari Azhar terkait kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, ada kecenderungan untuk menyeret pimpinan KPK lain ke dalam pusaran kasus yang sama"Boleh jadi momentum Antasari inilah yang digunakan koruptor untuk melancarkan serangan balik kepada KPK," ujar Bibit
 
Benih-benih serangan itu perlahan tampak saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan jajaran Komisi III DPRBeberapa anggota komisi yang membidangi hukum itu mempersoalkan kesahihan keputusan yang diambil pimpinan KPK apabila jumlahnya tak lengkap lima orangTembakan bertubi-tubi belakangan bermunculanMulai polemik kasus penyadapan Rani Juliani-Nasrudin yang sempat dipersoalkan kepolisian"Penyadapan (Rani-Nasrudin) ini perintah Antasari yang belakangan diingkari sendiri," ujar Bibit dalam bukunya
 
Yang itu juga sudah menyeret-nyeret salah seorang pimpinan KPKHingga titik klimaksnya, kepolisian menetapkan Bibit dan Chandra sebagai tersangka dengan tudingan berubah-ubah, penyalahgunaan kewenangan, penyuapan, kemudian berubah lagi menjadi pemerasanObjek tuduhannya tetap sama, terkait pencekalan bos PT Masaro Anggoro Widjojo.
 
Bibit juga mengurai lebih panjang anatomi korupsi di negerinyaDia menceritakan dengan bahasa yang cair dan lugas soal maraknya kasus korupsiDia merata-rata dalam sehari laporan korupsi ke KPK mencapai 37 kasus.
 
Salah satu keprihatinannya menyangkut dampak buruk otonomi daerahYakni, terjadi perimbangan keuangan pusat dengan daerah hingga badan-badan legislatifFenomena baru itu mengakibatkan pejabat-pejabat rela menggelontorkan uang demi mengurus hak-hak daerahProses penyimpangan itu rumit karena melibatkan broker dengan pejabat penentu kebijakan atau pengguna anggaran.
  
Dalam bukunya, Bibit juga menceritakan bagaimana skandal pengadaan kerap terjadiItu merupakan kasus yang paling dominan ditangani KPKYang terjadi biasanya bermula dari kedekatan pengusaha dengan pejabatKasus semacam itu biasanya juga didominasi nafsu keserakahanPengusaha berusaha mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari proses ituSebab, sebelumnya dia menjadi penyandang dana pemilu atau pilkada.
 
Dia juga menyorot ketimpangan gaji para kepala daerah dengan kebutuhannya selama iniHal tersebut menjadi titik awal kasus korupsi kepala daerahDia memperkirakan gaji gubernur sekitar Rp 10 juta per bulanApabila dikalikan 12 bulan dikalikan 5 tahun masa jabatan, pendapatan gubernur hanya Rp 600 juta"Kalau dikaitkan dengan aktivitasnya, semua tak sebandingJawabannya karena mereka memiliki hidden income," ujar dia
 
Dalam pengamatannya, ada seorang bupati bergaji Rp 5,5 jutaNamun, dia bisa menetapkan anggaran kebutuhan rumah tangga bupati Rp 50 juta sebulanAngka fantastisPenghasilan terselubung itu bisa didapat dari banyak halDi antaranya, ongkos pungut pajak daerah, perizinan jasa bank, dan "partisipasi komando" dari proyek-proyek yang digarap para pemborongKPK saat ini tengah getol menertibkan potensi-potensi koruptif tersebut
 
Untuk menghilangkan persoalan itu, dia mengusulkan agar biaya kampanye bisa dipangkas"Harus segera dipikirkan kampanye yang tak pakai uangKalau perlu, fasilitas kampanye disiapkan negara," katanyaPersoalan lain yang disorot adalah ketimpangan gaji, keteledoran pengawasan, dan korupsi penegakan hukum.
 
Bibit juga berusaha menggelitik pembacanyaDalam bukunya itu dia berusaha melontarkan istilah-istilah baru, namun umum dalam kasus korupsiMisalnya, soal sogokan untuk calon pegawai negeri sipil (CPNS)Zaman Orde Baru, kata dia, biaya sogok cukup Rp 50 jutanamun, zaman sekarang, biayanya bengkak menjadi Rp 100 jutaKenaikan itu karena adanya biaya reformasi
 
Dalam pemilihan kepala daerah, para kontestan mati-matian "berjuang" agar terpilihRupanya, itu isitilah bagi para kontestan yang membagi-bagikan beras, baju, dan uang (berjuang)Dalam pengelolaan birokrasi, dia juga melontarkan istilah PGPS, untuk menggambarkan penggajian pegawai yang seragam, meskipun kemampuan mereka bedaPGPS merupakan kependekan dari "pintar goblok pendapatan sama"Isitilah itu kerap digembar-gemborkan KPK untuk mendorong reformasi birokrasi, yang tak semata-mata remunerasi gaji pegawaiPegawai  yang bermental buruk digambarkan 805, yang diartikan berangkat jam 8 pulang jam 5, tapi selama di kantor tak berbuat apa-apa alias nol.
 
Selama berkarir sebagai polisi, Bibit dikenal sebagai sosok keras dan tahan sogokanSalah satu bukti adalah semasa menjabat Kapolda KaltimDia berusaha meringkus 234 pembalak hutan tanpa ampunAgar kasus mereka diendapkan di tingkat penyidikan, Bibit mendapat iming-iming sogok Rp 500 juta per kasusKalau dia bermental korup, setidaknya uang Rp 117 miliar sudah di kantongNamun, semua itu ditolak
 
Bibit juga menolak apabila ada permintaan setoran ke oknum pejabat di pusatSudah bisa diduga, gara-gara sikap keras kepala itu, karir Bibit di Polri tak mulusDia pensiun saat berpangkat irjen (setara Mayor Jenderal)Meski pensiunan jenderal, kehidupan Bibit juga sederhana.
 
Demikian halnya saat menjabat Kapolres Jakarta UtaraKetika berbincang dengan Jawa Pos beberapa waktu lalu di rumahnya, dia bercerita bahwa pernah juga sempat dirayu seorang oknum pengacara agar setiap kasus pidana di polres bisa diendapkanPengacara juga menawarkan uang khusus untuk Bibit"Saya bilang, kalau Anda tak keluar dari ruangan saya saat ini juga, Anda saya tangkap," katanya saat ituSejak itu sang pengacara tak pernah lagi bertandang menemui Bibit
 
Saat menjabat Kapolres itu pula, Bibit memberikan kebebasan kepada penyidiknya dalam menangani kasus hingga tingkat polsekDia berprinsip, penyidik harus independen(*/agm)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Abu Dhabi saat Diguyur Hujan Paling Deras sejak Satu Dekade Terakhir


Redaktur : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler