Densus 88 Buru Pria Berpipi Kempot

Bom Berjenis Sama Juga Dikirim Ke BNN

Rabu, 16 Maret 2011 – 06:19 WIB
Kasat Reskrim Jakarta Timur Kompol Dodi Rachmawan (kiri) memeriksa buku sebelum bom meledakan di jalan Utan Kayu, No 68 H, Jakarta Timur 13120, Selasa, 15 Maret 2011. Paket bom yang pengirimnya atas nama Drs Sulaiman Azhar LC, dengan alamat Jl Bahagia Gg Panser No 29 ini, ditujukan oleh Ulil Abshar Abdalla aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) dan sekarang Ketua DPP Partai Demokrat. Foto: Istimewa

JAKARTA---Teror bom kembali melanda ibukotaLedakan bom buku di kantor Komunitas Utan Kayu yang meremukkan telapak tangan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan membuat marah Densus 88

BACA JUGA: Bom Buku Lebih Dari Satu

Korps Burung Hantu mengerahkan semua anggotanya untuk memburu pelaku
Target penangkapan pertama adalah kurir pembawa buku

BACA JUGA: Australia Percaya SBY Tak Korupsi



"Sekarang ditangani Densus 88 Mabes Polri dan Polda Metro Jaya," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar tadi malam
Penyidik memburu pria dengan identitas berpipi kempot dan kurus yang menjadi kurir pembawa buku ke jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur.

Mantan Kasubden Negosiasi Densus 88 Mabes Polri itu menjelaskan, prioritas pertama pengungkapan pengeboman itu adalah melacak kiriman paket buku

BACA JUGA: Anak Buah Dituduh Memeras, Pimpinan KPK Marah

"Selain mendengar keterangan dari saksi mata, inisial tanda tangan, juga memeriksa sidik jari ," kata BoyPenyidik Densus 88 juga memeriksa saksi mata yang mengetahui peristiwa peledakan di Polda Metro Jaya

Tadi malam sekitar pukul 21, sebuah paket bom serupa dengan paket bom Utan kayu juga dikirimkan ke Kantor Badan Narkotika NasionalPaket ditujukan kepada Kepala BNN Komjen Gories MerePaket di amplop coklat itu berhasil dijinakkan oleh tim Gegana Brimob Polda Metro Jaya

Gories Mere selama ini dikenal sebagai pimpinan "informal" Satgas Bom dan komunitas petugas anti terorHingga pukul 22.30 Gories belum bisa dimintai komentarPonselnya di 081124XXX tidak aktifkabareskrimKomjen Ito Sumardi membenarkan ada paket bom di BNN"Berhasil dijinakkan," ujar Ito melalu pesan singkat semalam

Secara terpisah, satu unit penyidik Densus 88 Mabes Polri  tadi malam juga meluncur ke Ciomas, Bogor untuk mengecek alamat jalan Bahagia, Gang Panser, Ciomas, Bogor yang digunakan pengebom dalam suratnya"Ada rumah kosongDikontrakkanKami sedang cari pemiliknya," kata sumber Jawa Pos semalam

Bom buku itu dikirim oleh seorang kurir ke jalan Utan Kayu 68 HDi tempat ini, ada beberapa kantor diantaranya Institut Studi Arus Informasi, Jaringan Islam Liberal, dan kantor berita radio KBR 68H sekitar pukul 10 pagiPaket itu bebrbentuk buku berjudul "Mereka harus dibunuh karena dosa-dosa mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin" dengan penulis Sulaiman Azhar, Lc beralamat Jalan Bahagia, Gg Panser no 29Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Salah satu saksi mata, Wakil Direktur ISAI, Ijo Nayu, menjelaskan paket tersebut telah ada di kantor tersebut sejak pukul 10.00 WIB pagi, berdasarkan keterangan yang ia peroleh dari" resepsionis, paket yang ditujukan kepada Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla"Bersama paket tersebut, terdapat surat pengantar yang inti isinya adalah sebuah permintaan kepada Ulil untuk memberikan sebuah kata pengantar untuk bukunya yang akan terbit," ungkapnya.

Penerima buku pertama kali, Anisa Wulandari, 20,  seorang pria dengan perawakan kurus"Dengan pipi kempot tanpa jerawatPria tersebut mengenakan topi gelap dan jaket hitam, dengan tinggi sekitar 160 sentimeter," katanya menjelaskan.

Dia mengaku, tidak menaruh curiga terhadap pria tersebutBahkan, usai menerima paket tersebut, Anisa hanya meminta pria yang belum diketahui identitasnya itu tandatanganKemudian, oleh Anisa paket yang awalnya diduga berisi buku tersebut dengan lebar 20 sentimeter, panjang 30 sentimeter dengan tinggi sekitar 10 sentimeter.

Salah seorang staf ISAI Saidiman memperhatikan paket tersebut lalu  melihat ada dua buah kawat yang dilengkapi dengan sebuah baterai"Saya curiga, lalu telpon polisi," kata SaidimanTidak sampai satu jam, datang sejumlah anggota Polsek Matraman dan Polres Jakarta Timur langsung membuat garis kuning untuk mengamankan paket tersebutPara pegawai yang ada di kantor tersebut segera diamankan ke luar gedung"Polisi melakukan pemeriksaan terhadap paket tersebut," ungkapnya.

Ditunggu sekitar dua jam, Gegana tidak segera datangSetelah menelpon rekannya yang bertugas di Gegana, Kasat Reskrim Polres Jaktim, Kompol Dodi Rahmawan, kemudian memegang paket tersebut"Dia meminta anggota untuk mencari selang dan mengguyur paket dengan air," kata Bripka Wahyu, salah seorang polisi yang bertugas di tempat kejadian

Tanpa pelindung, Dodi kemudian membuka paket tersebutTepat saat perwira asal Jember, jawa Timur itu membuka baterai di tengah buku, bom meledak.Telapak kiri Dodi remuk.  Yang luka lainnya Komisaris Dodi Rahmawan, Ajun Komisaris Karliman, dan Inspektur Dua BaraJuga satpam Komunitas Utan Kayu MulyanaMereka langsung dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

Dodi masih sadar saat hendak dibawa ke ruang operasi"Doa ya Pak, maaf ya Pak," kata Dodi pada Kabidhumas Polda Metro Kombes Baharudin Djafar di selsar rumah sakitTangan kiri Dodi dibalut perban dan diinfusDodi  adalah lulusan Akpol tahun 1995 dan alumni SMA Negeri 1 Jember tahun 1991Dodi menikah dengan Silvana Said pada 24 Oktober 1998

Kapolda Metro Jaya Irjen Sutarman yang meninjau TKP menyesalkan kejadian itu"Seharusnya menunggu GeganaIni satu bentuk kelalaian yang sangat menyedihakan kita," kata mantan kapolda Jatim iniSutarman menyebut inisiatif petugas sebenarnya sudah baikDiantaranya dengan menjauhkan paket dari kantor dan orangLalu memasang police line"namun, tindakan mengurai tanpa pelindung itu tidak boleh dan salah," katanya.

Tapi, mengapa Gegana tak kunjung datang - Sutarman berdalih itu karena kemacetan lalu lintas"Teman-teman tahu, itu jam sibuk sekali," katanyaPimpinan tim Gegana Polda Kasat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Imam Margono mengakui, jika anak buahnya sempat menerima telepon dari Dodi untuk meminta arahan menjinakkan bomNamun, personel Gegana menolak permintaan Dodi.

"Tidak ada arahan dari Gegana untuk menjinakkan bomApalagi disiram dengan air, itu tindakan bodoh," katanyaMenurut  Imam, Dodi mengira jika paket itu merupakan petasanKendati demikian, dia menegaskan, Dodi seharusnya tidak boleh menganggap remeh akan hal itu"Sebelum meledak, dia (Dodi) sempat menelpon minta arahanTapi Gegana tidak mau, karena itu tidak boleh dan sangat teknisHanya Gegana yang boleh membuka barang mencurigakan," katanya.(rdl/mos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lima Politisi PDIP Segera Diadili


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler