Diborgol dan Ditelanjangi di Tahanan Malaysia

Rabu, 25 Agustus 2010 – 00:30 WIB
Tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Batam, Erwan, Asriadi dan Seivo Wewengkang saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPR, Selasa (24/8). Foto : M Ramli/Jawa Pos

JAKARTA – Tiga Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Batam yang sempat ditangkap Polisi Diraja Malaysia yakni Asriadi, Erwan dan Seivo Wewengkang, bersaksi di depan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPR, Selasa (24/8) soreSesuai agenda, raker itu digelar antara Komisi I DPR dengan Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP) Kementrian Kelautan dan Perikanan, Aji Sularso.

Namun Seivo, Asriadi dan Erwan seolah menjadi ‘bintang’ di RDP itu

BACA JUGA: Pemerintah Siapkan Bantuan Hukum TKI Resmi

Laksana pejabat tinggi negara, ketiganya duduk di barisan depan kursi partner rapat Komisi I DPR
Ketiganya didampingi Dirjen P2SDKP Aji Sularso.

Hujan deras disertai angina kencang di luar gedung seolah juga berpindah ke ruang rapat Komisi I DPR

BACA JUGA: Soal Remisi, Patrialis Dibela Marzuki alie

Ketiganya pun dihujani pertanyaan oleh kalangan Komisi I DPR
Hanya saja, dalam RDP yang dipimpin Wakil Ketua Komisi I DPR, Tb Hasanudin itu, Seivo terlihat lebih banyak memberikan kesaksian disbanding dua orang rekannya.

Kesaksian ketiganya pun diawali ketika anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar, Yorrys Raweyai, meminta kronologis peristiwa itu.  Seivo pun menuturkan,  pada tanggal 13 Agustus Sore, dirinya bersama Asriadi dan Erwan pergi ke Tanjung Berakit dengan

BACA JUGA: Adnan Buyung Sudutkan Yusril

“Ada indikasi (kehadiran kapal nelayan Malaysia) berupa banyak lampu Pak,” ujar Seivo mengawali kisahnya.

Selanjutnya, Seivo bersama Asriadi diminta menumpang di kapal tangkapan untuk mengikuti kapal Dolphin 015 yang dikemudikan Kasat DKP Karimun, Hermanto“Rupanya sudah ada tiga kapal yang sudah ditangkap, ini yang akan di-adhoc (diproses sementara) ke Batam,” paparnya.

Ketika dalam perjalanan ke Batam, ternyata ada tiga kapal Polisi Malaysia yang mendekat dan meminta kapal nelayan Malaysia yang ditangkap petugan KKPMeski sempat terjadi perdebatan, namun para petugas KKP itu tak berdaya.

Bahkan sempat terdengar dua kali suara tembakan“Saya hanya dengar dua kali tembakan saja, itu saja PakPang pang, gitu PakLalu kami dinaikkan ke kapal (kapal Polisi Malaysia),” ucap Seivo yang dalam forum itu juga mengenakan seragam lengkap..

“Kita disuruh duduk, kita disuruh telentang, kita diikatPadahal kita memakai atribut (pegawai KKP),” ucap pemilik nama lengkap Seivo Grevo Wewengkang itu.

“Jadi kalian pakai atribut seperti sekarang ini?” selidik Tb Hasanuddin dari kursi pimpinan rapat.

“Iya PakLengkap seperti iniKami lalu dibawa ke kantor Polsek kalau di IndonesiaLalu ke Polres di Tanah TinggiJadi kita disuruh buka seragam kita ini, lalu kita disuruh pakai t-shirtLalu di penjara kita disuruh pakai celana saja,”papar Seivo.

Dari penuturan Seivo, polisi Malaysia juga tidak bertanya“Mereka tidak banyak bertanya (soal) kronologis.  Hanya tanya nama dan sudah berapa lama bekerja,” sambung SeivoSelanjutnya masih pada hari yang sama, menjelang tengah malam ketiganya dimasukkan ke ruang tahanan.

Namun baru pada hari Senin (16/8) pagi, baru ada pejabat dari Konjen RI di Malaysia yang bias menemui Seivo, Asriadi dan Erwan“Soalnya week end (akhir pekan) katanya, Pak,” ucap Seivo.

Tb Hasanuddin juga menyinggung adanya kabar bahwa tiga PNS DKP Batam itu hendak memeras nelayan Malaysia“Termasuk mengenai kabar bahwa petugas DKP merusak GPS di kapal nelayan Malaysia,” ucap Hasanuddin.

Namun dengan tegas Seivo menepis hal itu sembari menggelengkan kepalanya yang tertunduk“Kalau masalah pemerasan kami tidak pernah, begitu juga GPSKami berani disumpahGPS itu mati, tidak dihidupkanposisi mati semua,” kilahnya.

Selain itu, Tb Hasanuddin juga menanyakan tentang salah satu dari tiga pegawai KKP Batam yang terluka“Saya dengar ada yang keningnya lukaBisa diceritakan kenapa?” cecar Hasanuddin.

Mendengar pertanyaan itu, Asriadi langsung menimpali“Saya PakItu karena saya dengan cepat masuk ke kapal dengan tangan terikat, lalu kapal Marine Police Malaysia itu bermanuver cepat, lalu saya terbentur dan luka,” aku Asriadi.

Namun jawaban Asriadi tak memuaskan kalangan dewanAnggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Sidharto Danusubroto, meminta Asriadi berterus terang saja“Saudara jawab yang jujur yaKecelakaan atau dipukuli" Saya punya sumber yang menyatakan saudara luka karena dipukuli ketika diperiksa polisi Malaysia" Jawab yang jujur,” tandas Sidharto.

”Kecelakaan Pak,” timpal Asriadi.

Sementara Happy Simanjuntak, Direktur Pengawasan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan pada Kementrian Kelautan dan Perikanan yang memimpin tim negosiator RI, juga diminta mengisahkan kesaksian saat menjumpai Erwan, Asriadi dan Seivo di Tahanan Polisi Diraja Malaysia.

“Sepertinya Pak Simanjuntak lebih nasionalis saat bernegoisasi untuk membebaskan tiga petugas DKPWaktu itu Bapak geram ya?” Tanya anggota FPG, Enggartiasto Lukito.

Happy pun mengaku jika dirinya tak hanya sekedar geram“Waktu itu saya bukan hanya geram PakSaya marah ketika saya lihat anak buah saya dikenakan pakaian tahanan dan diborgol,” ujar Happy.

Ia pun bertanya ke polisi Malaysia tentang perlakuan ituNamun polisi Malaysia menegaskan bahwa perlakuan itu merupakan prosedur standar.

“Saya jawab, persetan dengan prosedur kalianMereka ini (Seivo, Erwan dan Asriadi) bukan kriminal, bukan pengedar narkoba dan bukan terorisKarena itu, saya minta saat itu juga pakaian dan borgolnya dilepas,” paparnya.(ara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... MK Periksa Puluhan Saksi Tomohon Lewat Telekonferensi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler