Dokter Cantik Ini bak Robin Hood

Rabu, 21 Desember 2016 – 00:08 WIB
Mesty Ariotedjo, founder WeCare.id. Foto: Imam Husein/Jawa Pos. Foto: IMAMHUSEIN//JAWAPOS

jpnn.com - BAK Robin Hood, dokter cantik itu mengumpulkan donasi dari para dermawan, lalu membagikannya untuk pasien-pasien di daerah terpencil.

Lewat situs WeCare.id, Mesty Ariotedjo membantu ratusan pasien dari Sumatera hingga Papua.

BACA JUGA: Jasad Bayi Ditahan di RSUD Gara-gara si Ortu tak Mampu Bayar

DINDA JUWITA, Jakarta

Sore itu seorang make-up artist sedang sibuk merias wajah ayu Mesty. ”Maaf ya, saya masih belum rapi. Baru pulang dari rumah sakit, langsung make up karena ada acara,” ujarnya begitu menyilakan Jawa Pos masuk ke apartemennya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (18/12).

BACA JUGA: Sepertiga Hati Jefri untuk si Putri

Keletihan tak bisa ditutupi riasan wajah Mesty. Bahkan, dia tampak terkantuk-kantuk.

Namun, perempuan bernama lengkap Dwi Lestari Pramesti Ariotedjo itu tetap ingin menunjukkan semangatnya sebagai public figure yang selalu siap melayani wartawan maupun panggilan tugas di rumah sakit.

BACA JUGA: Demi si Buah Hati, Mengharukan...

Sambil dirias, Mesty bercerita, pada September 2012 dirinya menjalani program internship di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

”Di sana (Flores) mayoritas penduduk punya jaminan kesehatan, tapi fasilitas kesehatannya minim. Sehingga banyak kasus kesehatan yang tidak tertangani dengan baik,” ungkapnya.

Banyak pasien di Flores yang ditemui Mesty yang memiliki cerita pilu. Selain tidak punya biaya untuk berobat, fasilitas layanan kesehatan di sana minim.

”Ya sudah, mau bagaimana lagi? Akhirnya si pasien pun meninggal karena tidak tertangani,” ucap dokter yang kini menempuh pendidikan spesialis anak di FK Universitas Indonesia itu.

Bukan hanya di Flores, kasus semacam itu juga banyak dia temui di daerah-daerah terpencil lainnya di Indonesia.

Maka, seiring berjalannya waktu, Mesty pun mencoba mencari jalan agar bisa membantu masyarakat miskin di kawasan terpencil itu.

Dia kemudian menghubungi temannya yang ahli IT, Gigih Rezki Septianto, untuk bersama-sama menginisiatori lahirnya gerakan crowdfunding (penggalangan dana dari masyarakat lewat situs internet) yang diharapkan bisa memecahkan masalah kesehatan di pelosok-pelosok tersebut.

Gagasan itu akhirnya terwujud pada Oktober 2015. Mereka membuat situs khusus untuk pengumpulan dana bagi pasien-pasien di daerah terpencil yang butuh akses pelayanan kesehatan optimal bernama WeCare.id.

Mesty memaparkan, WeCare.id bekerja sama dengan dokter-dokter di wilayah perifer untuk dihubungkan dengan para pasien yang membutuhkan layanan kesehatan tersebut.

Dari situ pasien dapat memperoleh pengobatan dan fasilitas pendukung lainnya secara memadai.

Melalui WeCare.id calon donatur dapat melihat daftar dan informasi tentang pasien, memilih pasien yang ingin dibantu, lalu bisa memberikan bantuan dengan menyumbang dana mulai Rp 25.000.

Seluruh transaksi donasi yang dilakukan juga ditampilkan secara transparan di situs WeCare.id. Hal itu merupakan bentuk transparansi keuangan yang diberikan WeCare.id kepada para donatur.

Mesty menegaskan, WeCare.id juga mendukung program JKN (jaminan kesehatan nasional) dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang mempermudah masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan memadai.

Persoalannya, hingga saat ini masih banyak warga di daerah terpencil atau warga kurang mampu yang belum memiliki kartu JKN.

Karena itu, WeCare.id siap membantu memfasilitasi warga untuk memproses kepemilikan kartu JKN serta membayarkan premi JKN pasien tidak mampu yang belum menjadi penerima bantuan iuran (PBI).

”Di awal terbentuk, WeCare.id menangani enam pasien tidak mampu. Kasusnya kecelakaan lalu lintas, bayi Caesar yang lahir prematur, diabetes melitus, tumor leher, dan lainnya. Setiap hari satu pasien tertangani. Jadi, tidak sampai enam hari seluruh pasien bisa tertangani dan terdanai. Dari situlah masyarakat mulai percaya kepada WeCare.id,” urai perempuan yang juga berprofesi model profesional tersebut.

Selain model, Mesty seorang musisi. Dia mahir memainkan beberapa alat musik seperti piano, harpa, dan flute. Mesty mengantongi gelar Merrit dari Associated Board of The Royal Schools of Music untuk permainan harpanya.

Sejumlah konser dan beragam prestasi telah diraih perempuan yang mengidolakan penyanyi (alm) Chrisye tersebut.

Wajah cantiknya juga telah kerap menghiasi media sebagai seorang model dan brand ambassador untuk berbagai produk kenamaan.

Nama Mesty juga sempat muncul sebagai anggota termuda dari Indonesia pada The World Economic Forum 2014.

Beragam capaian itu belum membuatnya puas. Di samping berfokus pada pengembangan WeCare.id, Mesty masih berkonsentrasi menyelesaikan pendidikan dokter pediatri yang tengah ditempuhnya.

”Pada dasarnya, saya ingin segera menyelesaikan sekolah saya dan dengan begitu bisa lebih banyak membantu siapa pun yang membutuhkan,” ujar penggemar karya-karya penulis Jepang Haruki Murakami tersebut.

Memang, kesibukan itu membuat Mesty tidak bisa mencurahkan seluruh waktu bagi keberlangsungan WeCare.id. Apalagi, setiap hari, mulai pukul 04.00, dia harus stand by di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Baru pulang pukul 19.00.

”Hal ini sudah saya kondisikan pada tim sejak awal bahwa saya nggak bisa full in charge dan take care of WeCare.id everyday. Dan tim mendukung karena yakin kesibukan saya nanti membawa kebaikan untuk yang lain juga,” ujarnya.

Anak kedua di antara tiga bersaudara tersebut mengungkapkan, hingga kini WeCare.id telah mengumpulkan dana Rp 1,4 miliar dari para donatur dan sudah membiayai hampir 200 pasien dari Sumatera hingga Papua. WeCare.id juga berupaya membantu kesembuhan setiap pasien hingga bisa produktif lagi.

Mesty bersyukur atas kebesaran hati para donatur WeCare.id selama ini. Bahkan, dia cukup kaget ketika ada seorang donatur yang mendonasikan hartanya hingga Rp 50 juta untuk kesembuhan pasien.

”Kalau mereka tidak percaya (kepada kami, Red), tidak mungkin ada donatur yang bersedia menyumbang sebanyak itu,” ucap dokter 27 tahun tersebut.

Mesty mengisahkan, beberapa waktu lalu ada kasus pasien bayi laki-laki yang menderita sakit jantung bawaan.

Dia anak seorang penjaga masjid yang tidak memiliki kartu jaminan kesehatan. Nah, saat itu tagihan rumah sakitnya mencapai Rp 50 juta.

”Dia bukan pasien saya. Namun, ada teman yang ngabari bahwa dia harus pulang paksa. Padahal, pasien itu masih pakai oksigen. Saya nggak sampai hati, ibaratnya membunuh anak perlahan-lahan,” kenangnya.

Dari situ Mesty memutuskan untuk memberikan penjelasan tentang WeCare.id kepada keluarga pasien. Tak lama kemudian, dalam waktu empat hari, terkumpul dana Rp 60 juta untuk pengobatan pasien bayi tersebut.

Kasus pasien bayi itu pun menjadi viral di media sosial. Ujung-ujungnya, jamkesda setempat ikut menanggung seluruh biaya pasien tersebut hingga sembuh. ”Itulah indahnya kebersamaan,” tuturnya.

Perempuan yang gemar diving tersebut mengatakan bahwa WeCare.id juga bekerja sama dengan Pencerah Nusantara, gerakan yang bergerak di bidang kesehatan.

WeCare.id juga menggandeng microfinance Amartha yang merupakan peer-to-peer lending untuk ekonomi inklusif agar lebih memperkuat kemandirian WeCare.id.

”Namun, ada juga kendala setiap kami mencari investor. Banyak yang menanyakan revenue ataupun profit dari gerakan ini. Padahal, kami nonprofit dan tidak fokus pada revenue. Kendala tadi membuat kami susah expand lebih besar karena keterbatasan dana,” paparnya.

Mesty berharap semakin banyak orang yang mengerti kinerja WeCare.id. Dengan begitu, makin banyak pasien di seluruh Nusantara yang akan terbantu. (*/c9/ari)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Othok-Othok, Pendeteksi Gempa Sederhana Made In Warga Jogja


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler