Dua Kali Dipecundangi, PM May Kembali Ajukan Proposal Brexit ke Parlemen

Selasa, 19 Maret 2019 – 02:50 WIB
PM Inggris Theresa May saat mengumumkan permintaan pemilu dini, di Downing Street 10, London. Selasa (18/4). Foto: AFP

jpnn.com, LONDON - Partai Unionist Demokrat (DUP) menyatakan dukungan atas proposal Brexit yang diajukan Perdana Menteri Inggris Theresa May. Melunaknya partai di Irlandia Utara tersebut membuat proposal yang sudah dua kali ditolak bisa lolos dalam voting di Majelis Rendah pekan ini.

Sumber Reuters menyebutkan, kemungkinan dukungan itu menguat setelah ada pertemuan antara Partai Konservatif dan DUP. Wakil Ketua DUP Nigel Dodds mengonfirmasi bahwa mereka melakukan pembicaraan positif dengan beberapa menteri kabinet May. Termasuk dengan Menteri Keuangan Inggris Phillip Hammond.

BACA JUGA: Uni Eropa Mundurkan Tenggat Waktu Brexit

Partai Buruh mengecam perubahan dukungan tersebut. "Ini adalah praktik politik yang korup dan menodai citra Inggris di mata dunia," ujar John McDonnell, kepala kebijakan moneter Partai Buruh. McDonnel menuding Hammond menawarkan anggaran khusus bagi DUP dan Irlandia Utara.

Langkah Konservatif untuk memastikan bahwa proposal bisa lolos pada Rabu nanti terbukti tokcer. Mereka mengincar kubu pro-Brexit dengan momok penundaan perceraian dengan waktu superpanjang. May berkata tegas: jika persetujuan ini tak disetujui, Brexit bakal ditunda selama bertahun-tahun.

BACA JUGA: Inggris Tak Akan Tenggelam Seperti Titanic

"Kalau negosiasi kembali ke titik awal, perpanjangan waktunya bakal jauh lebih panjang. Kita juga wajib mengikuti pemilu Parlemen Eropa Mei nanti," tegas May menurut Sunday Telegraph.

Legislator Esther McVey juga berbalik arah mendukung kesepakatan May. Padahal, mantan menteri Kantor Perdana Menteri itu mengundurkan diri karena tak setuju dengan poin perjanjian. Satu-satunya alasan yang membuatnya berubah haluan adalah opsi no-deal Brexit (tanpa kesepakatan) sudah dihapus.

BACA JUGA: Inggris Diombang-ambing Brexit, Pound Sterling Malah Meroket

"Aturan mainnya sudah berubah. Sekarang saya hanya bisa menutup hidung dan menelan kesepakatan itu," ujarnya kepada BBC.

Matthew Elliott, mantan ketua Vote Leave, ikut berbalik mendukung May. Menurut dia, jika Brexit tak dilaksanakan secepatnya, proses perceraian tak akan terjadi. "Kalau proposal lolos, dalam hitungan minggu kita akan bebas dari institusi politik Uni Eropa," ungkapnya.

May sudah dua kali dipecundangi dalam voting proposal Brexit. Pada pemungutan suara pertama, dia kalah dengan selisih 230 suara. Sedangkan pada voting kedua 12 Maret lalu, May kalah dengan selisih 149 suara. Dia butuh 75 legislator yang mengubah pikiran agar proposal Brexit lolos.

Namun, kabinet May masih belum yakin 100 persen soal kemenangan tersebut. Kabinet May mengatakan bahwa mereka tak akan memastikan voting sebelum yakin akan menang. May hanya mengatakan bahwa porposalnya harus disetujui sebelum 21 Maret.

"Percuma menghelat pemungutan suara jika kalah," ujar Menteri Perdagangan Inggris Liam Fox. Di sisi lain, Partai Buruh mencoba berbagai cara untuk mengalahkan kubu konservatif. (bil/c10/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Uni Eropa Isyaratkan Belum Rela Inggris Pergi


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Brexit   Inggris   Theresa May  

Terpopuler