Ekonom Ungkap Sikap Investor Tak Biasa, Reaksi Tapering The Fed?

Kamis, 04 November 2021 – 17:49 WIB
Ekonom Bhima Yudhistira menyebut dampak keputusan tapering off The Fed sudah mulai terasa. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ekonom Bhima Yudhistira menyebut dampak keputusan tapering off Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve sudah mulai terasa.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) itu menyebut beberapa investor juga bersikap tak biasa hari ini.

BACA JUGA: Tok! The Fed Resmi Mulai Tapering Off

Mereka, kata Bhima, mulai mengansisipasi tekanan ekonomi.

"Apalagi ada krisis logistik yang menghambat pemasukan devisa ekspor indonesia. Investor bisa mencari aset aman. USD Index mulai naik ke 93.7 jadi indikasi perburuan safe haven," ujar Bhima kepada JPNN.com, di Jakarta, Kamis (4/11).

BACA JUGA: Ngeri-Ngeri Sedap Ramalan Ekonom Dunia soal Tapering Off The Fed

Menurut dia gejolak tapering The Fed mulai terasa di posisi keuangan Indonesia.

Bhima menuturkan, awalnya ada dana asing masuk ditopang surplus perdagangan dan booming komoditas. Tetapi satu minggu terakhir dana asing mulai keluar dari pasar modal.

BACA JUGA: Tips dari Ekonom Agar Kuat Menghadapi Tapering The Fed

"Proyeksi harga komoditas yang terus bullish atau naik konsisten juga diragukan," ungkap Bhima.

Keluarnya dana asing juga disumbang oleh faktor penurunan harga gas sebesar 11 persen minyak mentah turun 0,11 persen, batu bara bahkan anjlok 37 persen pada sepekan terakhir.

"Kalau sebelumnya kita happy soal windfall dari krisis energi, mungkin sudah saatnya pakai sabuk pengaman," ujar Bhima.

Bhima menuturkan kenaikan komoditas sebelumnya telah menyebabkan biaya produksi industri manufaktur membengkak sehingga pelaku pasar khawatirkan inflasi lebih tinggi dalam waktu dekat.

Inflasi jelas jadi momok karena menggerus return aset. Indikator lain yang perlu diwaspadai adalah Credit Default Swap yang mengalami titik terendah pada September 2021.

"CDS perlahan fluktuatif mengarah pada kenaikan," ungkapnya.

Bhima mencatat CDS berada di level 83,6 pada (2/11) berada di atas posisi september di 66. Naiknya CDS bisa jadi risiko surat utang Indonesia mulai meningkat lagi.

Menurut dia, pemerintah dan BI harus segera lakukan koordinasi untuk menajag devisa terutama optimalisasi ekspor non komoditas dari dampak kebijakan The Fed.

Di samping itu memberi insentif tambahan agar devisa hasil ekspor (DHE) lebih besar dikonversi ke rupiah.

"Kita sekarang berharap dari uang hasil penjualan sawit dan batu bara akan ditanamkan di dalam negeri bukan malah disimpan di bank luar negeri," beber dia.

Selain itu, upaya yang tidak kalah penting tentunya merealisasikan komitmen-komitmen investasi langsung Foreign direct investment (FDI).

Bhima juga menambahkan pihak swasta maupun BUMN harus kerja ekstra untuk menarik dana investasi jangka panjang ke indonesia, sebagai pengganti risiko larinya modal jangka pendek.

"Jangan sampai BI hanya bermain di suku bunga karena sekali bunga naik 25 bps dikhawatirkan pinjaman bank langsung melemah kembali," tegas Bhima.

Diberitakan sebelumnya, Federal Reserve mengumumkan pengetatan kebijakan atau tapering off pada Rabu (3/11) waktu setempat atau Kamis pagi WIB.

Gubernur The Fed Jerome Powell menyatakan mulai mengurangi pembelian asetnya bulan ini di tengah kekhawatiran inflasi yang meningkat. "Keputusan kami hari ini untuk memulai pengurangan pembelian aset kami," kata Powell seperti dikutip dari Antara. (mcr10/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Badai Tapering The Fed Mendekat, Harga Emas Mulai Morat-marit


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler