Federasi Itu Hidup dari Kompetisi

Jumat, 15 April 2016 – 09:23 WIB
Menpora Imam Nahrawi. Foto: dok.JPNN

jpnn.com - KOMPETISI Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 segera digulirkan pada 29 April mendatang.  Koordinasi operator kompetisi, PT Gelora Trisula Semesta (GTS) dengan pemerintah, dijadwalkan dilakukan Jumat (16/4) siang ini. 

Meski belum ada koordinasi resmi, Menpora Imam Nahrawi sebelumnya sudah memberikan lampu hijau untuk menggelar kompetisi yang akan memakan waktu panjang. 

BACA JUGA: Saya Disuruh Tiru Gaya SBY

Berikut petikan wawancara wartawan JPNN Mohammad Amjad dengan Menpora Imam Nahrawi di kediamannya pada Rabu (15/4) petang.

Soal kompetisi Pak, setelah proses bekunya PSSI yang panjang ini, kemudian tiba-tiba sekarang ada lampu hijau bagaimana ceritanya? 

BACA JUGA: Tersulit Melawan Rasa Kangen

Pemerintah dan masyarakat bola Indoneis a itu sesungguhnya ingin perubahan radikal soal pengelolaan sepakbola. Tidak semata-mata kompetisi harus segera digulirkan sebagai bagian bahwa sepakbola Indonesia hiburan masyarakat. Tetapi, Tidak boleh dilupakan bahwa sepakbola ini industri besar yang akan mensejahterakan masyarakat. Harus dilihat juga sepakbola ini ladang penghidupan pelaku sepakbola.

Pemerintah inginnya ini ada prestasi juga. Maka bagaimana ini dikombinasikan dalam reformasi tata kelola sepakbola, manajemen kompetisi, klub, federasi dan pembinana usia dini yang jadi konsen  federasi.

BACA JUGA: Sonya Depari Korban Kekerasan via Medsos

Dalam setahun ini kami tidak pernah bilang kompetisi harus berhenti. Yang ada kami minta beberapa klub tidak penuhi kualifikasi klub sesuai FIFA-AFC harus dievaluasi. Dalam perjalanan evaluasi, liga harusnya tetap jalan, tapi faktanya mereka sendiri yang hentikan kompetisi. Sementara masyarakat rindu akan kompetisi. Diputarlah turnamen, meskipun turnamen itu adalah cara kita menilai adakah semangat mereka untuk berubah.

Dari turnamen itu, ada semangat untuk mengubah yang terlihat. Keberanian operator melibatkan auditor independen, itu kami lihat sebagai awal mula perubahan niat dan keinginan bahwa industri bola harus transparan,  dan bisa dinikmati secara terbuka oleh klub yang ada, pemain, dan juga masyarakat. Sehingga turnamen demi turnamen adalah alat kami, TUN untuk melakukan evaluasi sejauh mana reformasi itu mulai dilakukan.

Kalau dihitung, dari turnamen-turnamen yang berjalan sudahkah ada perubahan yang terlihat?

Ada perubahan, setidaknya saya belum mendapatkan keluhan bahwa gaji pemain di turnamen tertunggak. Pascaturnamen, langsung diserahkan oleh klub. Demikian pula pembagian hak siar, sponsor, komersial, saya belum dengarkan keluhan itu dari klub, pemain.

Artinya ketika mereka betul diberi mandat untuk mengelola dengan baik, bisa kok. Kenapa kemarin-kemarin terjadi tunggakan gaji pemain, kenapa kemarin-kemarin ada keluhan, kemarin maksudnya sebelum kami ambil langkah tegas ini. Berarti kan tidak ada kemauan yang besar untuk mengelola ini untuk menjadi industri yang sehat.

Anda melihat kondisinya sudah membaik, apakah benar tidak ada keluhan?

Sejauh ini, pengaduan fisik, pengaduan surat, maupun SMS ke saya itu tidak ada. Artinya ini ada kondisi, ada harapan sepakbola kita untuk berubah.

Apakah ini juga mengubah tingkat kepercayaan kepada operator?

Turnamen demi turnamen itu selalu dilaksanakan oleh beberapa operator. Masing-masing operator ini sudah ada gambarannya. Bagaiamana kemudian operator yang ada, yang nanti akan mengulirkan kompetisi ini, harus betul-betul menjadikan pengalaman turnamen sebagai bagian yang sangat penting untuk dilaksanakan. Jadi ada kesepakatan terbuka kepada klub dan juga lainnya. Nanti kita lihat, operator yang ada ini betul-betul mencerminrkan reformasi tata kelola atau tidak.

Untuk pengelola kompetisi ISC, PT GTS sendiri seperti apa penilaiannya Pak?

Saya belum tahu ini, ini baju baru, meskipun mereka orang lama sekali. Tapi semoga ada kesadaran.Sekarang ada pemaafan terhadap peristiwa-peristiwa sebelumnya, untuk tidak dilakukan kembali di kompetisi independen ini. 

Karenanya, pemerintah ingin melihat kompetisi  independen ini sebagai uji coba atas evaluasi panjang yang sudah kita lakukan. Kalau ternyata dalam kompetisi ini ada keluhan atau persoalan yang tanda kutip tidak profesional , maka memang ke depan harus lebih tegas lagi dalam ambil keputusan. Bisa jadi ke depan nanti, pemerintah melarang orang-orang ini terlibat dalam kompetisi.

Jadi langsung tunjuk orang? 

Sekarang sudah kita beri maafkan dulu lah dalam tanda kutip. Silahkan pak Joko Driyono atau orang lain yang mengelola. Tapi kalau ini pun tidak beres berarti pemerintah masa mendatang harus lebih tegas lagi. 

Kalau laporan Pak Menteri ke Presiden, tanggapannya seperti apa?

Ya.. beliau welcome, siapapun yang menjadi operator, itu betul-betul reformis dan mau melaksanakan reformasi yang dicanangkan oleh pemerintah.

Apakah  Presiden juga tahu kalau orang lama ini yang menjadi operator kompetisi?

Wah... saya belum sampaikan secara langsung. Karena faktanya operator ini belum ketemu dengan kita, mungkin Jumat (16/5) ini akan tahu seperti apa. Nanti semua wartawan saya minta untuk melihat dan terbuka, saya minta terbuka sehingga pertanyaan langsung bisa dilontarkan. Itu sebagai bentuk komitmen bilamana saat kompetisi ini berjalan dan di tengah jalan ada kebohongan, ya kita bisa melakukan tindakan yang lebih tegas lagi.

Soal sanksi terhadap PSSI apakah akan terus bertahan meski ada kompetisi ini? 

Tidak ada kaitan itu. Sudahlah, saat ini ada dua judul, PSSI dan kompetisi. Biarlah ini jadi judul, tool kita untuk melakukan evaluasi perjalanan sepak bola tanah air. Nyatanya turnamen kemarin bisa jalan tanpa federasi PSSI.

Sebenarnya menurut Bapak selama ini, kompetisi itu hidup karena federasi, atau federasi yang hidup dari kompetisi?

Federasi itu hidup dari kompetisi... Coba begini, saya minta teman wartawan cek orang yang ikut di liga super (ISL) tahun 2014. Seperti apa posisi hak, kewajiban, kewenangan klub apakah mereka punya otoritas lebih kebijakan lebih, atau bahkan sebaliknya harus tunduk ke federasi total. 

Padahal bicara kompetisi ini kan sangat profesional, mestinya kan dikelola sendiri. Tapi apakah disitu ada pihak lain yang dominan menguasai operator itu. Karena ke depan pemerintah bertekad bahwa operator kompetisi maupun turnamen, sepenuhnya sahamnya dimiliki oleh klub. 

Berarti tidak ada lagi saham milik federasi di situ?

Tidak ada.. tidak ada.. Biarlah federasi nanti cari solusi dan opsi lain biar yang , memungkinkan mereka berbagi peran secara tegas. Karena tidak hanya mereka mengurusi profesional, tapi usia dini, pembibitan.

Apakah pemerintah tidak ragu dengan GTS?

Ragu sih ragu, Karena saya masih ingat, Pak Joko Driyono yang bilang ke FIFA bahwa kita intervensi. Tapi, kalau sesama manusia merasa bersalah dan mau memperbaiki kenapa tidak kami beri jalan.

Ada rencana ke FIFA untuk menjelaskan bahwa kompetisi bisa jalan tanpa federasi. Justru federasi yang bikin kompetisi bobrok?

Kalau memang ini kompetisi jalan dengan baik, maka akan kami sampaikan bahwa klub-klub ini sudah berjalan lebih baik. Standar reformasi tata kelola sudah jalan. Bahwa sesungguhnya klub di Indonesia ini sudah ingin mengubah. Jangan sampai ada pihak lain atas nama federasi mencoba mencampuri lebih jauh, kecuali mereka melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai komisi displin dan wasit. Jangan ada rangkap posisi, di federasi, ya di kompetisi.

Arti sebuah reformasi itu harus dimaknai, sisi mana kita memulai sesuatu. Saya berprinsip seperti ushul fiqh, maa la yudroku kulluhu, laa yutroku kulluhu. Kalau kita tidak bisa semuanya, maka sebagian. Sebagian itu sedang kita uji coba lewat kompetisi.
Kalau ternyata sebagian inipun belum menujukkan perubahan. Maka ada peristiwa besar yang memang harus dilakukan kebijakan besar juga untuk memutus mata rantai yang buruk ini.

Contoh kebijakan besar?

Nanti kita lihat ke depan. Bisa jadi pemerintah ke depan, kalau memang kompetisi tidak bisa memberikan rasa aman, nyaman, masih terjadi pengaturan skor, terjadi judi, tidak transparannya keuangan dari sponsor, TV rights, hak komersial dan lain sebagainya. Maka berarti ada gurota ynag cukup kuat mengangkangi ini semua. Kalau terjadi, ya pemerintah harus menulis jelas, bahwa orang ini tidak boleh terlibat di bola indonesia.

Apakah sampai federasi baru?

Ya termasuk itu, banyak masyarakat yang mendukung ada federasi baru. Cukuplah nama itu menjadi kenangan kalau tidak bisa diperbaiki lagi. Tapi karena kami menghormati sejarah,  itu cukup berat. ***

BACA ARTIKEL LAINNYA... Saya Senang, Aremania Senang


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler