Ganjar

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Senin, 24 Mei 2021 – 06:46 WIB
Ganjar Pranowo. Foto: arsip JPNN.com/Ricardo

jpnn.com - Lamun sira sekti aja mateni, lamun sira banter aja ndisiki, lamun sira pinter aja minteri (Jika kamu sakti jangan membunuh, jika kamu cepat jangan mendahului, jika kamu pandai jangan memintari).

Kalimat itu adalah deretan tiga filosofi Jawa yang diucapkan oleh Jokowi beberapa saat setelah menang Pilpres 2019. Setelah memenangi pertarungan dahsyat melawan Prabowo, Jokowi ternyata kemudian merangkul mantan Danjen Kopassus itu dan membawanya masuk ke kabinet menjadi menteri pertahanan.

BACA JUGA: Provinsi Padang

Ketika menjelaskan alasan langkah politiknya, Jokowi mengutip tiga filosofi Jawa itu. Secara tidak langsung Jokowi mengatakan bahwa dengan memenangi pilpres, dia mendapatkan kesaktian sebagai seorang presiden.

Dengan kesaktian itu dia bisa membunuh siapa saja lawan-lawan politiknya. Namun, Jokowi memilih tidak membunuh lawan politiknya. Dia malah merangkulnya.

BACA JUGA: Khofifah

Jika kamu cepat jangan mendahului. Jokowi ingin mengatakan bahwa harmoni dan keserasian adalah nilai luhur dalam budaya Jawa.

Meskipun kamu punya kecepatan tetapi jika lari sendirian di depan, barisan akan kacau dan tidak tercapai harmoni. Bagi orang Jawa, harmoni, keselarasan, sangatlah penting untuk menciptakan ketenteraman hidup.

BACA JUGA: Yahudi

Jokowi ingin menyampaikan message kepada semua orang agar menjaga harmoni dan keselarasan dengan tetap menjaga barisan dan tidak saling mendahului.

Jika kamu pandai jangan mengakali yang lain. Jokowi mengingatkan bahwa kepandaian tidak ada artinya kalau menjadikan seseorang arogan dan merasa paling pintar, apalagi jika memakainya  untuk mengakali seseorang.

Jokowi menyindir lawan-lawan politiknya yang selama ini menyepelekannya dengan mempertanyakan intelektualitasnya. Malah ada politisi yang menyebut Jokowi plonga-plongo. Jokowi membalasnya dengan mengutip filosofi Jawa itu.

Filosofi Jokowi itu kemarin (23/5) sebagian dikutip lagi oleh Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, ketua Bidang Pemenangan pemilu DPP PDIP, ketika menjelaskan  mengapa Ganjar Pranowo, gubernur Jawa Tengah, tidak diundang pada konsolidasi pemenangan Pemilu 2024 di Semarang, Sabtu (22/5).

Acara itu dihadiri oleh Puan Maharani dan mengundang seluruh anggota dewan dan kepala daerah PDIP Jawa Tengah.  Ganjar sebagai tuan rumah malah tidak diundang dalam perhelatan itu.

Pacul punya membeber alasannya tidak mengundang Ganjar. Bambang Pacul dengan blaka suta tanpa tedeng aling-aling menyebut Ganjar wis kemajon, sudah terlalu maju.

Maksudnya, Pacul menganggap Ganjar sudah kelewatan, tidak bisa menyembunyikan ambisinya untuk menjadi capres pada Pilpres 2024. Dengan kemajon berarti Ganjar dianggap banter (cepat), tetapi mendahului barisan, alias ndisiki.

Dengan begitu, Ganjar dianggap melanggar filosofi lamun siran banter aja ndisiki, kalau kamu cepat jangan mendahului. Bambang Pacul menyebut Ganjar mendahului partai yang sampai sekarang belum memberi instruksi kepada kader untuk mempersiapkan diri maju sebagai capres pada Pilpres 2024.

Pacul juga menganggap Ganjar keminter alias sok pintar, dan melanggar filosofi lamun sira pinter aja minteri. Meskipun kamu pandai jangan memintari atau sok pintar.

Tentu saja ini serangan langsung kepada Ganjar Pranowo sebagai kader PDIP yang kini menjadi gubernur Jateng. Bambang Pacul sebagai ketua DPD PDIP Jawa Tengah seharusnya menjadi mitra politik Ganjar sebagai sesama kader.

Perang dingin antara Pacul vs Ganjar akhirnya menjadi terbuka. Ganjar yang selama ini melakukan banyak manuver dengan aktivitasnya yang tinggi di media sosial, dianggap sudah kebablasan.

Pacul sudah melontarkan kode sebagai peringatan kepada Ganjar. Namun, Ganjar kelihatannnya juga tidak mengindahkan peringatan Pacul agar mengerem aktivitasnya di medsos.

Kata Pacul, popularitas di lembaga survei tidak menjadi faktor untuk menentukan calon presiden dari PDIP. Seorang pemimpin yang ideal adalah memimpin langsung di lapangan, terjun bersama rakyat, bukan sekadar popular di medsos dan di lembaga survei.

Mungkin Pacul belajar dari kasus Jokowi yang melakukan manuver seperti yang ditiru Ganjar sekarang ini. Akibat manuver itu, Megawati akhirnya menunjuk Jokowi menjadi calon presiden pada 2014.

Megawati tidak menafikan kenyataan bahwa popularitasnya ternyata sudah jauh di bawah Jokowi yang saat itu sebagai gubernur DKI. Megawati dan elite politik PDIP terlalu terlambat untuk mengendus manuver Jokowi yang sudah kemajon begitu jauh ketika menyadari bahwa langkah pengusaha mebel itu sudah tidak mungkin lagi dihentikan.

Mega dihadapkan pada fait accompli yang tidak bisa lagi dihindari, sehingga terpaksa menyerahkan rekomendasi kepada Jokowi. Mega berusaha mendegradasikan Jokowi dengan menyebutnya ‘si kerempeng yang menjadi petugas partai’’.

Ternyata Jokowi sukses menundukkan Mega dengan tiga filosofi Jawa yang ampuh itu. Jokowi yang ketika itu sudah begitu saksi karena punya senjata ampuh berupa hasil survei dengan elektabilitas tinggi, tetap bergaya lemah dan tidak mateni.

Jokowi sudah bergerak cepat mendahului orang-orang lain dengan pencitraan yang ditata rapi sejak dari Solo sampai ketika menjadi gubernur DKI. Namun, dia tetap bergaya slow, tidak ndisiki.

Oleh karena itu tidak ada yang menyadari ketika Jokowi tetiba sudah ada di pole position paling depan dan tidak mungkin lagi disalip. Jokowi juga sangat pintar dengan segala manuvernya itu.

Jokowi outsmart, lebih cerdik dari lain-lainnya, tetapi tetap bergaya plonga-plongo dan tidak minteri. Menghadapi fait accompli beruntun itu, Mega tidak punya pilihan lain kecuali mengikhlaskan rekomendasi PDIP untuk Jokowi yang sudah kadung  sekti, banter, dan pinter.

Kali ini Mega tentu tidak mau kecolongan dua kali, apalagi manuver Ganjar sudah terlihat terang-terangan. Dia tidak ingin skenario memajukan Puan Maharani sebagai capres atau cawapres 2024 berantakan karena manuver ganjar.

Namun, Mega harus punya orang untuk menghentikan Ganjar secara terbuka. Tidak ada orang lain yang paling cocok melakukan eksekusi itu kecuali Bambang Pacul.(*)

 

Simak! Video Pilihan Redaksi:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jilbab, Najwa Shihab, dan Ide Socrates


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler