Gencatan Senjata Omong Kosong ala Rusia di Eastern Ghouta

Rabu, 28 Februari 2018 – 17:01 WIB
Ghouta Timur porak-poranda akibat perang saudara Syria. Foto: Al Jazeera

jpnn.com, GHOUTA - Rusia dinilai sama sekali tidak punya itikad baik untuk menerapkan gencatan senjata di Eastern Ghouta, Syria. Penilaian itu justru muncul ketika Presiden Vladimir Putin mulai bersikap kooperatif terhadap misi PBB.

Agar tujuan PBB untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan terhadap penduduk sipil di Eastern Ghouta, Rusia mengusulkan jeda pertempuran.

BACA JUGA: Kejam! Assad Bombardir Ghouta Timur dengan Gas Beracun

Setiap hari semua pihak yang berseteru harus meletakkan senjata selama lima jam. Mulai pukul 09.00 hingga pukul 14.00 waktu setempat.

Kemarin, Selasa (27/2) gagasan yang disepakati seluruh anggota Dewan Keamanan (DK) PBB itu langsung berlaku.

BACA JUGA: DK PBB Sepakat, Ghouta Setop Jadi Neraka selama 30 Hari

Sebagian besar negara anggota PBB menyambut baik formula Putin tersebut. Tetapi, tidak demikian halnya dengan Wakil Duta Besar Inggris untuk PBB Jonathan Allen.

Menurut dia, jeda pertempuran lima jam per hari itu tidak serta-merta menjadi bukti bahwa gencatan senjata bisa diterapkan.

BACA JUGA: Waduh! Kedutaan Besar Rusia Jadi Gudang Kokain

’’Itu bukti bahwa Rusia sebenarnya bisa berkomitmen pada gencatan senjata jika mau. Jika bisa mewujudkan jeda pertempuran selama lima jam per hari, mereka seharusnya juga bisa menerapkannya selama 24 jam per hari,’’ ungkap Allen sebagaimana dilansir CNN kemarin.

Gagasan Putin itu, menurut dia, malah menunjukkan bahwa gencatan senjata di Eastern Ghouta sangat bergantung kepada Rusia.

Sejak resolusi masih dalam tahap pembahasan pun, menurut Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB Nikki Haley, Rusia sudah memainkan peranan penting.

Beberapa kali negara pendukung rezim Presiden Bashar al-Assad tersebut mengubah isi resolusi. Ketika resolusi masuk tahap pemungutan suara, Rusia pula yang membuat jadwal voting mundur hingga tiga kali.

Sabtu (24/2), saat resolusi gol dan gencatan senjata 30 mulai diterapkan, Rusia menyatakan masih akan melanjutkan serangan di Eastern Ghouta. Sebab, menurut Kremlin, aksi antiteror di pinggiran ibu kota Syria itu tetap boleh berlangsung selama gencatan senjata diterapkan.

Minggu (25/2) serangan udara berlanjut dan menewaskan sembilan orang yang satu keluarga di kota satelit tersebut.

Tetapi, Mohamad Katoub, seorang dokter asal Turki yang tergabung dalam Syrian American Medical Society (SAMS), menyatakan bahwa jeda pertempuran selama lima jam omong kosong.

’’Jeda lima jam itu tidak akan membuat gencatan senjata bertahan. Apa yang bisa kita lakukan dalam waktu lima jam jika kondisi Eastern Ghouta seperti ini,’’ keluhnya sebagaimana dikutip BBC.

Kemarin Rusia dan Syria menyebut jam sebagai patokan jeda. Ketika pukul 09.00, secara otomatis mereka berhenti menggempur Eastern Ghouta. Tetapi, oposisi bersenjata yang oleh rezim Assad disebut teroris dan ekstremis tidak berkata apa pun tentang hal tersebut.

’’Saat kami tidak mendengar desing peluru atau suara ledakan dan mesin jet tempur, itulah tandanya,’’ kata Dujarric.

Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan bahwa baru dua jam jeda pertempuran berlaku, sejumlah mortir menghantam tiga lokasi di Eastern Ghouta.

Yakni, Douma, Harasta, dan Misraba. Serangan di Douma, menurut Associated Press, merenggut satu nyawa. Kantor Berita Syria SANA menyebut serangan di Douma itu sebagai aksi balasan terhadap teroris yang menyerang kamp Al Wafideen. (hep/c4/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Neraka di Eastern Ghouta, Ratusan Ribu Nyawa Terancam


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler