Generasi Muda Punya Peran Penting Perangi Radikalisme

Selasa, 08 Agustus 2017 – 13:54 WIB
Suhardi Alius. Foto: BNPT

jpnn.com, PADANG - Tidak ada satu pun provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia yang steril dari terorisme.

Karena itu, pemerintah pusat dan daerah wajib mewaspadai keberadaan kelompok radikal itu.

BACA JUGA: Membendung Radikalisme Melalui Kekuatan Akar Rumput

"Itu fakta dari total lebih dari 1.200 lebih teroris yang telah tertangkap berasal dari berbagai daerah. Memang mereka tidak sering pulang ke kampung halamannya.

Namun, kalau sampai mereka pulang dan menyebarkan ideologi kekerasan, apalagi sampai melakukan aksi, itu jelas tidak boleh terjadi. Dari situlah kita harus selalu waspada terhadap kelompok ini," kata Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius, MH usai membuka pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2017 wilayah Sumatera Barat (Sumbar) di Padang, Senin (7/8) malam.

BACA JUGA: Sumsel Harus Waspadai Terorisme saat Asian Games

Pembukaan Duta Damai Dunia Maya itu dihadiri Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Deputi I BNPT Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir, Deputi III BNPT Irjen Pol Hamidin, Kapolda Sumber Irjen Pol Fahrizal, Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah, anrem Brigjen TNI Bakti Agus Fadjari, Inspektur BNPT Amrizal, dan jajaran FKPT Sumbar.

Suhardi menilai kemajuan teknologi informasi membuat semua menjadi rentan terhadap propaganda radikalisme dan terorisme.

BACA JUGA: Mahasiswa Masuk Aliran Radikal? Siap-Siap Didepak dari Kampus

Dari hasil survei nasional, orang Indonesia rata-rata bermain gadget selama 131 per hari.

Akibat globalisasi itu, nilai-nilai tradisional Islam banyak tergerus dan terbawa ideologi transnasional.

Fakta itulah yang membuat BNPT terus menjalankan program penanggulangan terorisme.

Salah satunya pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2017 di Padang. Kegiatan ini adalah kali keempat tahun ini setelah di Bandung, Semarang, dan Malang.

"Kenapa berharap banyak pada generasi muda? Karena sasaran brain storming mereka adalah generasi muda. Karena itu, anak muda jangan hanya diisi pengetahuan, tapi juga ideologi dan agama. Makanya, dengan duta damai ini kami mengkreasikan generasi muda untuk membantu BNPT melakukan kontra narasi di dunia maya dengan konten-konten damai dan positif," papar mantan Kapolda Jabar itu.

Suhardi menambahkan, banyak negara besar yang ingin bersinergi dengan Indonesia dalam penanggulangan terorisme.

Hal itu tidak lepas dari program penanggulangan terorisme dari hulu sampai ke hilir yang dijalankan BNPT.

Bahkan, negara adidaya sekaliber Amerika Serikat merasa perlu mengundang BNPT untuk mencari masukan sekaligus belajar penanganan terorisme dengan soft approach.

"Kemarin saya baru datang dari Washington DC. Kami diundang, karena selama ini Amerika hanya mengenal hard approach. Di sini, BNPT menyentuh semua dari hulu sampai hilir. Di hulu kami urai apa penyebabnya, apakah itu kemiskinan, kebodohan, atau apa?" terang Suhardi.

Selain itu, pelibatan mantan napiter dengan menggandeng dan membangunkan masjid dan TPA di Deliserdang dan Lamongan juga menjadi sorotan.

Apalagi, BNPT juga merangkul dan membantu biaya pendidikan anak-anak mantan napiter.

“Pasalnya, kalau keluarga dimarjinalkan di masyarakat, maka siap-siap mereka pasti akan kembali menjadi teroris. Semua itu sekarang kami kemas dalam sebuah program pencegahan, termasuk Duta Damai Dunia Maya ini," papar Suhardi.

Suhardi berharap Duta Damai Dunia Maya di Padang terus berlatih supaya mempunyai daya tahan terhadap radikalisme dan terorisme.

"Mereka kelompok kecil, kita negara besar. Jangan beri kesempatan. Kita ciptakan harmoni yang baik, kembangkan kreasi dan inovasi kalian untuk melawan propaganda radikalisme dan terorisme di dunia maya," pungkas Suhardi.

Sementara itu, Gubernur Sumbar Irwan mennyambut gembira pelatihan Duta Damai Dunia Maya di Padang.

"Teroris itu musuh kita bersama. Musuh umat manusia dunia. Mari kita simak secara saksama agar di medsos tidak merajalela. Karena itu, di medsos harus diramaikan konten positif. Terorisme adalah perbuatan jahat, tidak bisa ditoleransi, dan tak satu pun agama yang membolehkan membunuh. teroris buat sengsara. Kita sebagai manusia itu pasti ingin hidup normal," ungkap Irwan.

Dia menganggap keberadaan terorisme sebagai hal yang aneh tapi nyata.

Pasalnya, teroris bangga membunuh manusia. Karena itu, propaganda kekerasan harus dilawan.

"Saya perlu memberi penghargaan kepada BNPT. Tidak hanya mengejar teroris, tapi BNPT telah masuk ke pencegahan. Apalagi yang kita hadapi adalah upaya untuk meracuni generasi muda dan anak-anak untuk berbuat sadis dengan mengatasnamakan agama," katanya. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Indonesia dan Selandia Tukar Informasi Cara Hadapi Foreign Terrorist Fighters


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler