Gimana nih...Saham Unggulan Masih Loyo

Senin, 13 Juli 2015 – 06:38 WIB
Dok. Jawa Pos Group

jpnn.com - JAKARTA – Saham-saham unggulan, terutama berkapitalisasi pasar besar (big cap), masih loyo sepanjang semester pertama 2015. Di antara total 509 saham emiten tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada paro pertama tahun ini, 154 saham berhasil menguat di tengah kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang masih negatif.

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, IHSG memang masih negatif dengan koreksi 6 persen. Sampai penutupan perdagangan akhir pekan lalu (10/7), koreksi bertambah dalam mencapai 7,04 persen.

BACA JUGA: Abu Gunung Raung Bikin Kacau Penerbangan

Data di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, 10 besar saham yang menguat pada semester pertama mayoritas dihuni saham berkapitalisasi pasar menengah dan kecil.

Kenaikan tertinggi dicatatkan saham PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) sebesar 108,33 persen dan saham PT Verena Multi Finance Tbk (VRNA) melesat 106,25 persen.

BACA JUGA: Arif Wibowo Sebut Banyak Tantangan Dihadapi Garuda Selama Juli

Lalu, diikuti PT Bisi International Tbk (BISI) yang melambung 102,53 persen, PT Buana Listya Tama Tbk (BULL) naik 90,00 persen, PT Grand Kartech Tbk (KRAH) naik 89,51 persen, dan PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) meningkat 85,89 persen.

Selain itu, saham PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) melaju 85,43 persen, PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) naik 76,24 persen, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) melejit 71,57 persen, dan PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) menguat 64,81 persen.

BACA JUGA: Garuda Siapkan Rp 24,6 Triliun untuk Datangkan 24 Pesawat Baru

Sementara itu, kondisi saham-saham unggulan berkapitalisasi pasar besar secara umum relatif berat meski koreksinya tidak terlalu dalam. Untuk saham big cap yang mampu menguat, kenaikannya tidak signifikan.

”Pergerakan saham big cap itu sangat bergantung pada kondisi perekonomian dan situasi global. Sebab, industrinya mencerminkan situasi ekonomi di negara kita. Dalam situasi perekonomian positif, performa saham big cap cenderung lebih baik,” kata analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Sujatmiko kepada Jawa Pos kemarin.

Sebaliknya, apresiasi saham lapis kedua hanya pada saham-saham tertentu yang kinerjanya positif. Itu terlihat dari daftar saham-saham yang menguat signifikan yang kinerjanya memang masih mumpuni. Terlebih valuasi harga sahamnya sempat berada di titik rendah sehingga menarik minat investor untuk melakukan akumulasi.

Secara nilai, harga saham lapis kedua relatif lebih murah sehingga dalam situasi pasar kurang kondusif biasanya digunakan investor untuk mendiversifikasi portofolio. ”Tapi tidak semua switch (pengalihan dana) dilakukan ke saham lapis kedua. Selective switch sih,” tambahnya.

Walau bagaimanapun, tidak sedikit saham lapis kedua yang masih berisiko karena likuiditasnya tidak sebaik saham big cap. Masih ada saham yang kinerjanya tidak sesuai dengan fundamental perusahaan. ”Harus tetap berpatokan pada kinerja dan fundamental perusahaannya,” ujarnya.

Ahmad meyakini, memasuki semester kedua ini, saham big cap akan mulai positif seiring meningkatnya pengeluaran proyek pemerintah, terutama untuk infrastruktur.

Selain itu, hadirnya beberapa kebijakan pemerintah dianggap positif untuk industri seperti pelonggaran loan to value (LTV) dan penghapusan pajak barang mewah (PPnBM) pada klasifikasi produk tertentu. ”Efeknya akan mulai terasa pada semester kedua,” ucapnya. (gen/c6/oki)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Investor Kabur, Hak-Hak Ratusan Karyawan Ditinggalkan Tanpa Kejelasan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler