Guru Honorer K2 Digaji Rp 300 Ribu per Bulan, Buruh Bangunan Rp 125 Ribu per Hari

Minggu, 11 Agustus 2019 – 11:07 WIB
Siswa SD. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com - Kehidupan Yana Suryana barangkali bisa menjadi semacam potret nasib ratusan ribu guru honorer K2 yang ada saat ini. Tenaga mereka dibutuhkan, masalah gaji diabaikan.

Mesya Mohamad - Jakarta

BACA JUGA: Belum Ada Anggaran Gaji PPPK Hasil Rekrutmen Februari, Sungguh Aneh

Yana Suryana merupakan guru honorer K2 di SDN Tanjungharapan, Cianjur, Jawa Barat. Sudah belasan tahun mengabdi, belum juga diangkat menjadi PNS. Padahal beban pekerjaannya setara guru PNS.

Sebelum pukul 07.15, Yana sudah harus ada di sekolah. Maklum saja, di SDN Tanjungharapan, hanya ada dua guru PNS ditambah honorer K2 tiga orang. Dan lima orang lagi honorer non-kategori. Sementara, di sekolah tersebut terdapat delapan rombongan belajar (rombel).

BACA JUGA: Dibuat Mudah Sajalah, Terbitkan Keppres Pengangkatan Honorer K2 jadi PNS

"Ya tidak cukup memang jumlah gurunya kalau dilihat dari jumlah rombelnya. Guru PNS saja cuma dua. Jadi mana bisa dibilang guru itu banyak. Yang banyak itu guru honorer," kata Yana kepada JPNN, Minggu (11/8).

Yana yang juga pengurus Aliansi K2 Indonesia (AK2I) Kabupaten Cianjur menceritakan derita guru honorer K2. Pukul 07.15, mereka harus buru-buru ke sekolah. Rutin, dispilin karena daftar hadir menggunakan sistem elektronik. Kalau terlambat semenit saja, mereka dianggap absen.

BACA JUGA: Jika Serius Ingin Tuntaskan Honorer K2, Syarat Pendaftaran PPPK Harus Diubah

BACA JUGA: Menteri Saja Ada Tamatan SMP, Mengapa Honorer K2 Daftar PPPK Harus S1?

Padahal sebagian honorer K2 sebelum ke sekolah harus cari tambahan lain. Seperti menitipkan dagangan kue ke warung-warung.

Pekerjaan sambilan ini harus dilakoni agar bisa memenuhi biaya hidup keluarga. Dengan gaji Rp 200 ribu sampai Rp 350 ribu per bulan, sangat tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

"Banyak kawan kami yang jualan online juga. Yang pinter bikin kue, nitip jajanan ke warung-warung. Pulang sekolah jam 14.30, baru diambil lagi tempat kuenya. Syukur-syukur kalau dagangannya habis. Kalau enggak habis ya disedekahkan ke anak-anak," tutur Yana.

Yang membuat dia sedih bila berpapasan dengan pekerja bangunan. Meski buruh bangunan ini tidak tampil rapi, tapi penghasilan mereka lebih baik dibanding guru honorer.

Berbeda dengan guru yang tampil rapi, menenteng tas, mengenakan sepatu, tapi gaji per bulannya hanya separuh pendapatan buruh bangunan.

"Saya sering bertemu dengan teman yang bekerja sebagai buruh bangunan. Sambil berjalan ada obrolan ringan, saling menanyakan status sampai dengan penghasilan. Kalau sudah begitu saya pasti malu banget. Karena ternyata pekerja bangunan yang hanya berijazah SD dibayar Rp 125 ribu per hari," paparnya.

Sempat terpikirkan oleh Yana untuk beralih profesi dan meninggalkan statusnya sebagai pendidik. Namun, hati Yana tidak tega bila mengabaikan nasib anak didiknya yang butuh sosok guru.

"Kami menangis sambil mengelus dada kalau lihat teman-teman buruh bangunan yang berijazah SD hidupnya lebih mapan daripada kami. Ingin rasanya alih profesi tapi beban seorang pendidik terhadap siswa didiknya yang kami tidak bisa meninggalkan profesi guru ini,” keluhnya.

BACA JUGA: Belum Ada Anggaran Gaji PPPK Hasil Rekrutmen Februari, Sungguh Aneh

Kini, Yana hanya berharap pemerintah memerhatikan nasib honorer K2. Betapa banyak pengorbanan yang sudah diberikan guru honorer K2 kepada bangsa ini.

Semoga seluruh guru honorer K2 diangkat statusnya menjadi PNS maupun PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja). (esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Terkait Revisi UU ASN, Honorer K2 Merasa Hadapi Dilema


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler