Habib Kribo

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Jumat, 14 Januari 2022 – 20:48 WIB
Habib Zein Assegaf alias Habib Kribo. Ilustrasi: Instagram/assegafzen

jpnn.com - Penggemar musik yang cukup senior pasti mengenal Duo Kribo, duet yang sangat populer di Indonesia pada era 1980-an. Duo Kribo beranggotakan dua penyanyi rock yang kebetulan sama-sama berambut kribo, Ahmad Albar dan Ucok Harahap.

Salah satu hit dari Duo Kribo ialah Neraka Jahanam. Lagu itu menceritakan pertarungan antara manusia dengan setan --yang banyak dimenangkan oleh setan-- yang kemudian menyeret manusia ke neraka jahanam.

BACA JUGA: Pandemi Komunis

Ahmad Albar adalah pentolan dan lead vocal GodBless yang bermarkas di Jakarta, sedangkan Ucok Harahap merupakan vokalis utama grup rock AKA dari Surabaya. Dua grup itu bersaing keras dan dua pentolan itu pun selalu bersaing.

Namun, hidung marketing para produser bisa mempertemukan dua lelaki kribo itu menjadi satu dan menjadikannya laris di pasaran. Pada tahun-tahun itu model rambut kribo belum banyak dikenal di Indonesia.

BACA JUGA: Anjir & Anjay

Meski demikian, di dunia internasional model kribo sudah mulai tenar karena diperkenalkan oleh gitaris legendaris Jimi Hendrix yang berambut gaya Afro. Tidak lama kemudian model kribo mewabah di Indonesia.

Dua Kribo sudah lama bubar. Model rambut kribo ala Jimi Hendrix juga sudah tidak menjadi model lagi.

BACA JUGA: Bohong Ala Giring

Akan tetapi, beberapa hari belakangan ini model rambut kribo menjadi trending topic lagi di Indonesia dengan munculnya si kribo baru. Si kribo baru ini bukan penyanyi, tetapi seorang pendakwah yang belakangan aktif di Instagram dan punya follower lumayan banyak.

Nama aslinya Zein Assegaf, tetapi punya nom de guerre, nama panggung, Habib Kribo. Rambut kribo dan gaya bicara yang mengegas dengan nada tinggi menjadi penanda khas Habib Kribo.

Habib adalah gelar yang disematkan kepada mereka yang mempunyai garis keturunan Nabi Muhammad saw. Nama Habib Kribo mulai mencuat setelah muncul di televisi nasional dan berdebat dengan Haikal Hassan mengenai penahanan Habib Bahar Smith (HBS) maupun Habib Rizieq Shihab (HRS).

Meskipun sama-sama punya sematan gelar habib, Habib Kribo tidak berada di pihak HBS dan HRS. Sebaliknya, Habib Kribo menyerang habis-habisan HBS dan HRS.

Habib Kribo juga sering menyerang kebijakan Anies Baswedan melalui unggahan-unggahannya di medsos. Sebagai sesama jama’ah -sebutan untuk keturunan Arab di Indonesia- Habib Kribo ternyata ‘tidak berjemaah’ dengan HBS, HRS, dan Anies Baswedan.

Habib Kribo malah terlihat sangat bersemangat menyerang ketiga tokoh itu. Orang-orang Arab menyebut hal ini "jama’ah yu’kul jama’ah", keturunan Arab memusuhi sesama keturunan Arab.

Warganet pun menyuarakan pro dan kontra terhadap Habib Kribo. Jejak digitalnya diungkap, nomor telepon genggamnya disebar.

Ada foto Habib Kribo memakai celana pendek di bawah lutut. Ada fotonya bersama seekor anjing.

Ada juga foto bersama Denny Siregar dan Eko Kuntadhi yang sama-sama dikenal sebagai haters kelas berat HBS dan HRS. Belakangan, juga bereda fotonya bersama Abu Janda yang menyebut Habib Kribo sebagai ‘’habib ori’’ dan menyindir habib lain yang disebut sebagai ‘’habib kawe’’.

Beberapa hari ini Habib Kribo trending topic karena terang-terangan menyerang bangsa Arab. Dalam sebuah unggahan di medsos dia mengatakan bahwa bangsa Arab tidak berbudaya.

Kalau tidak ada Ka’bah di Makkah, bangsa Arab tidak punya kehormatan. Bangsa Arab, kata Habib Kribo tidak pernah melahirkan seorang intelektual pun.

Seperti biasanya, unggahan semacam ini langsung disambar dengan reaksi keras. Tagar ‘’Tangkap Zein Kribo’’ pun muncul dan mendapat dukungan ramai di medsos. Tercatat ada 3.000-an warganet yang mendukung tagar itu.

Unggahan Zein Kribo juga memantik reaksi dari Anis Prince Dache yang disebut sebagai seorang mantan diplomat Arab. Dalam videonya, Anis menyesalkan pernyataan Zein yang dianggapnya menghina bangsa Arab.

Anis menuntut Zein untuk membuat klarifikasi dan meminta maaf. Jika habib Kribo tidak meminta maaf, Anis mengancam menempuh jalur hukum diplomatik internasional.

Pernyataan Zein Kribo itu sebenaranya tidak ada yang baru. Selama ini sudah banyak para “Arab-haters” yang membuat pernyataan semacam itu.

Namun, kali ini pernyataan Zein memang lebih tajam dan keras. Oleh karena itu, pernyataannya mendapatkan reaksi yang keras pula.

Fakta bahwa Zein adalah diaspora Arab membuat beberapa netizen geram. Sebagai diaspora Arab, Zein tidak menunjukkan hormat terhadap negeri leluhurnya, tetapi malah menghina dan mendegradasikannya.

Netizen mengingatkan bahwa negara-negara Arab menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dengan pengakuan itu pula kemerdekaan Indonesia menjadi sah dan legitimate, serta diakui oleh dunia internasional.

Entah dari mana referensi Zein Kribo ketika menyebut bangsa Arab tidak akan punya kehormatan tanpa Ka’bah. Karena pernyataan ini hanya sepotong, kita tidak bisa paham apa yang dimaksud Zein Kribo.

Mungkin dia ingin mengatakan bahwa tanpa Islam bangsa Arab tidak punya kehormatan. Kalau itu yang dimaksud Zein, dia benar.

Sebelum Islam masuk ke Arab, bangsa itu berada pada masa kebodohan jahiliah. Islam-lah yang mengangkat budaya Arab dan menjadikannya kekuatan peradaban besar yang dihormati dan disegani dunia.

Bangsa Arab hanya terdiri dari suku-suku kecil yang terpisah-pisah, terpencil, serta tidak punya peran dalam peradaban dunia. Dengan kehadiran Islam pada abad ke-7, Arab bangit menjadi kekuatan besar yang bisa mengalahkan dua imperium besar dunia, Persia dan Romawi yang Kristen.

Islam telah menyatukan seluruh Arabia menjadi kekuatan peradaban yang membentang jauh sampai ke jantung Eropa. Ketika Eropa masih terlelap dalam keterbelakangan, kebodohan, dan kegelapan, Islam sudah melahirkan intelektual-intelektual yang menguasai ilmu pengetahuan dunia.

Peradaban Barat-Kristen modern sekarang ini tidak akan pernah ada kalau tidak ada peradaban Islam. Peradaban Islam-lah yang menjadi jembatan dari peradaban Yunani Kuno menuju Barat modern sekarang.

Kenyataan itu banyak dimanipulasi dan digelapkan. Barat tidak pernah mau mengakui utang intelektual dan utang peradabannya kepada Islam.

Tanpa peradaban Islam, tidak akan ada peradaban Barat modern. Rennaisance lahir karena para pemikir Barat mengadopsi pemikiran-pemikiran Yunani yang sudah terlebih dahulu diadopsi oleh para intelektual Islam.

Pandangan deterministik ini mungkin saja didebat oleh mereka yang tidak setuju. Namun, fakta sejarah bahwa tradisi intelektual Islam sudah terlebih dahulu mapan dibanding tradisi intelektual Barat, tidak bisa dibantah lagi.

Samuel Huntington mengajukan teori benturan peradaban yang mempertentangkan Barat yang Kristen dengan Dunia Muslim Timur Tengah Raya. Menurut Huntington, setelah komunisme Uni Soviet bubar pada 1990, konflik-konflik besar di dunia akan bersumber pada konflik peradaban.

Di antara peradaban besar yang berpotensi melahirkan benturan adalah peradaban Barat dengan peradaban Islam. Peradaban Barat secara otomatis diidentikkan dengan Kristen dan diperhadapkan secara diametral dengan peradaban Islam, seolah-olah peradaban Barat itu turun dari langit dan kelahirannya tidak berutang kepada Islam.

Dua peradaban itu bermusuhan, karena Barat mengeksploitasi negara-negara Islam melalui kolonialisme dan imperialisme. Barat yang merasa superior memroklamasikan kemenangan ideologi liberalisme-kapitalisme atas seluruh ideologi yang ada di dunia.

Barat kemudian memaksakan kehendaknya supaya negara-negara Islam mengadopsi demokrasi liberal sekuler ala Barat yang memisahkan dengan tegas peran agama dari negara. Namun, tradisi Islam tidak mengenal pemisahan agama dengan negara.

Oleh karena itu, pemaksaan kehendak oleh Barat itu menimbulkan ketegangan berkepanjangan. Tarik menarik ini terasa dampaknya di Indonesia sejak masa awal kemerdekaan sampai sekarang.

Barat tidak mau mengakui peran besar Islam dalam perkembangan peradabannya. Kelompok sekuler di Indonesia juga demikian. Ada keengganan dari kalangan sekuler Indonesia untuk mengakui peran dan kontribusi Islam dalam kemerdekaan Indonesia. Maka lahirlah berbagai rekayasa manipulatif untuk mengaburkan dan menghapus peran sejarah itu.

Munculnya orang-orang seperti Zein Kribo, bisa jadi, adalah bagian dari proyek manipulasi itu. Seperti duet Duo Kribo yang menjadi produk marketing pada era jadul 1980-an, jangan-jangan Zein Kribo ini juga produk marketing politik era zaman now.(***)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:

BACA ARTIKEL LAINNYA... The Next Gus Dur


Redaktur : Antoni
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler