Hidup Bahagia Jakob Oetama

Manis Pembawaannya, tapi Keras Hatinya

Senin, 03 Oktober 2011 – 00:55 WIB

KALAU hidup dimulai dari umur 40 tahun (life begins at fourty), Pak Jakob Utama, pemilik grup Kompas-Gramedia itu, baru mulai hidup lagi untuk yang kedua kalinya pada 27 September minggu lalu.

Jarang ada berita wartawan merayakan ulang tahun ke-80 seperti Pak Jakob OetamaYang sering adalah berita wartawan mati muda: sakit lever karena bekerja tidak teratur, terkena kanker karena tiap malam stres terkena deadline, terbunuh di medan pergolakan atau terlibat kecelakaan lalu lintas.

Rasanya kini tinggal tiga wartawan yang berusia di atas 80 tahun: Jakob Oetama dan Herawati Diah

BACA JUGA: Selamat Datang GIMIN, Banyak Daerah Menantimu

Memang, ada tokoh seperti Harjoko Trisnadi yang juga lebih dari 80 tahun dan sangat sehat
Tapi, dia lebih dikenal sebagai pengusaha pers daripada wartawan, meski awalnya juga wartawan

BACA JUGA: Bila Dua Gajah Bertempur, Listrik yang Mati



Yang lumayan banyak adalah calon wartawan berumur 80 tahun: Fikri Jufri (75, Tempo), Rahman Arge Makassar (76), Lukman Setiawan (76, Tempo), Ja"far Assegaf (78, Media Indonesia), dan beberapa lagi.

Ini berarti rekor usia wartawan terpanjang kini dipegang Ibu Herawati Diah
Beliau lahir pada 3 April 1917, yang berarti tahun ini berusia 94 tahun

BACA JUGA: Setengah Tahun Fukushima

Pak Rosihan Anwar sebenarnya juga hampir mencapai 90 tahunTapi, tak disangka-sangka dia meninggal mendadak pada usia 89 tahun, 14 April lalu.

Mungkin karena beda generasi, saya tidak akrab dengan dua tokoh pers yang dikaruniai usia yang begitu panjangSaya mengenal Ibu Herawati Diah karena sempat berhubungan bisnis sekitar lima tahun, tapi terbatas hanya bicara perusahaanYakni, ketika suaminya, B.MDiah, pemilik harian Merdeka yang juga mantan Menteri Penerangan, menyerahkan pengelolaan harian Merdeka yang lagi pingsan kepada saya pada 1994

Setelah B.MDiah meninggal dan saham Merdeka beralih ke putranya, kerja sama itu berakhirSebagian besar pengelolanya, di bawah pimpinan Margiono, kemudian mendirikan Rakyat MerdekaMargiono, yang masih memimpin Rakyat Merdeka sampai sekarang menjadi ketua umum PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pusat.

Lima tahun sering rapat bersama, saya bisa menarik kesimpulan mengapa Ibu Herawati Diah bisa berusia begitu panjangHatinya sangat baik, berpikirnya longgar, bicaranya sangat terkontrol, dan pembawaannya sangat tenangDisiplinnya sangat tinggi, termasuk dalam hal makananKarena itu, Ibu Herawati terjaga langsing sampai sekarangIbu Herawati bisa mewakili sosok wanita intelektual yang bergaya eleganBeliau tercatat sebagai wanita pertama Indonesia yang sekolah di luar negeri (Amerika Serikat).

Mengapa saya juga tidak akrab dengan Pak Jakob Oetama? Di samping beda generasi, kami berbeda tempat tinggalPak Jakob di Jakarta, sedang saya berbasis di SurabayaTapi, penyebab utamanya adalah karena kami berdua termasuk orang yang sangat fokus ke perusahaan masing-masingKami berdua sama-sama lebih mementingkan sibuk memajukan perusahaan masing-masing daripada misalnya menghadiri pesta-pesta, atau bergentayangan di kafe atau rapat-rapat organisasiBegitu sulit kami menemukan kesempatan berinteraksi.
   
Beliau memang sangat lama menjadi ketua umum SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar, kini bernama Serikat Perusahaan Pers), namun tidak pernah habis-habisan mempertaruhkan waktunya di situBeliau termasuk tokoh yang tidak mau menjadikan organisasi pers sebagai batu loncatan untuk berkarir di politik.
   
Karena itu, beliau enak saja ketika akhirnya meminta saya agar mau dipilih sebagai ketua umum SPS untuk menggantikannyaSikap saya juga mirip ituSaya tidak akan mau dicalonkan sepanjang beliau masih mau menjadi ketua umumnyaBahkan, ketika suatu saat saya dicalonkan menjadi ketua PWI Jatim, saya mengajukan syarat: asal PWI jangan terlalu aktif

Itu saya maksudkan agar tugas wartawan yang utama tidak terganggu oleh gegap gempita organisasiSaya tidak ingin PWI-nya maju, tapi mutu koran merosotSaya juga tidak malu kalau kantor PWI menjadi sepiSebab, itu berarti mereka sibuk menggali berita.

Pak Jakob adalah contoh dari sedikit orang yang bisa fokusSejak pikiran sampai tindakanGodaan-godaan di luar pers tidak pernah meruntuhkan kefokusannya mengurus mediaPadahal, sebagai pemimpin dan pemilik grup media nasional yang terbesar dan paling berpengaruh, pastilah begitu banyak rayuan dan iming-iming

Beliau tidak tergoda sama sekaliBeliau terus saja konsentrasi mengurus Kompas dan grupnyaKarena itu, kalau pada akhirnya kita menyaksikan Kompas-Gramedia begitu sukses, kita tidak boleh melupakan bahwa itulah hasil nyata dari karya orang yang sangat fokus.

Generasi yang lebih muda (meski sekarang saya sudah tergolong generasi tua) memberikan dua penilaian kepada Jakob OetamaBeliau dikecam sebagai wartawan penakutBukan sosok wartawan pejuang yang gagah berani menantang maut, seperti Mochtar Lubis (Indonesia Raya), atau Rosihan Anwar (Pedoman), atau Tasrif (Abadi), Aristides Katoppo (Sinar Harapan), Nono Anwar Makarim (Kami), Goenawan Mohamad (Tempo), dan beberapa lagi.

Di pihak lain dia dipuji sebagai wartawan yang santun, mengurus anak buah (termasuk kesejahteraan wartawan) dengan baik, dan sosok yang sangat menonjol tepo seliro-nyaBeliau juga tokoh yang kalau berbicara di depan umum lebih mengedepankan filsafat daripada masalah-masalah yang praktisMisalnya, filsafat kritikSampai-sampai di era Orba itu muncul berjenis-jenis filsafat kritikAda kritik pedas macam Mochtar Lubis, kritik manis model Jakob Oetama, atau kritik jenaka model Goenawan Mohamad.

Kepribadian yang manis seperti itulah yang membuat pemerintah Orde Baru sangat percaya kepada Jakob OetamaSebuah kepercayaan yang ternyata juga tidak mutlak dan tulusPada suatu saat Kompas ikut dibredel juga, meski kemudian diizinkan terbit kembaliTentu salah Orba juga mengapa memercayai Jakob OetamaPadahal, di balik kehalusan dan kemanisannya itu tetaplah dia seorang wartawan yang asliManis hanyalah pembawaannyaSikap batinnya tetaplah keras.

Kepercayaan yang begitu tinggi dari pemerintahan Orde Baru itu bukan tidak ada ruginya bagi KompasSetidaknya menurut sayaAkibat kepercayaan itu regenerasi di pucuk pimpinan Kompas menjadi terhambatUmur 37 tahun saya sudah berhenti menjadi pemimpin redaksi Jawa PosIni agar berganti kepada generasi yang lebih mudaUmur 39 tahun saya sudah berhenti menjadi pemimpin umum Jawa PosPak Jakob Oetama terus menjadi pemimpin redaksi dan pemimpin umum sampai usia hampir 70 tahun.
   
Saya tahu itu bukan kehendak beliau sendiriSiapa pun tahu bahwa untuk mengganti pemimpin redaksi, saat itu, harus minta izin menteri peneranganPemerintah merasa lebih tenang kalau Kompas dipimpin Jakob Oetama daripada misalnya tokoh muda yang mungkin lebih radikal.

Bagi saya pribadi Jakob Oetama adalah "lawan" yang harus saya hormati, tapi juga harus saya kalahkanSaya menempatkan diri sebagai "penantangnya"Baik dalam bidang jurnalistik maupun dalam bidang bisnis persSebagai penantang saya merasakan bukan main susahnya hidup di luar dominasi KompasKompas sudah menjadi koran dan koran sudah menjadi KompasSemua minta agar koran itu harus seperti KompasBahkan, kalau ada wartawan baru keinginannya menulis ternyata juga harus seperti gaya Kompas.

Tentu saya tidak suka semua ituKalau hanya mengikuti Kompas, selamanya hanya akan menjadi ekornyaTidak akan bisa menjajarinyaKarena itu, saya mengambil jalan yang sangat berbedaBukan dari ibu kota menguasai nusantara, tapi dari nusantara menguasai IndonesiaDi bidang jurnalistik juga harus berbedaJawa Pos memilih jurnalistik bertuturUntuk wartawan baru saya langsung mencekokkan doktrin "jangan ketularan penyakit Kompas".

Kata "penyakit" di situ terpaksa saya pakai bukan karena gaya Kompas itu jelek, tapi hanya karena harus dihindariAgar wartawan Jawa Pos benar-benar punya gaya yang berbedaMaafkan saya pernah menggunakan kata penyakit itu, Pak JakobTentu saya tidak akan tersinggung kalau ada pihak lain menggunakan istilah yang sama: penyakit Jawa Pos.

Memang di kalangan pers sempat muncul istilah "perang total" Kompas-Jawa PosTapi, itu hanya di permulaanPada akhirnya semua orang tahu bahwa Kompas dan Jawa Pos bergerak di medan yang berbedaKompas dengan majalah-majalahnya yang luar biasa, dengan toko bukunya yang the best dan biggest, dengan hotel-hotelnya yang meluas dan dengan bidang usaha yang meraksasa ternyata punya pasarnya sendiri

Demikian juga Jawa Pos dengan koran-koran daerahnya, pabrik kertasnya, dan jaringan TV lokalnya juga punya dunianya sendiriKeduanya masih terus membesar tanpa ada salah satu yang kalahInilah dinamisnya persaingan yang sehat"Pertempuran" itu telah berakhir

Bukan hanya karena masing-masing sudah menempati makom-nya, tapi juga karena masing-masing sudah tuaPak Jakob sudah 80 tahunSudah memilih dan memiliki CEO baru yang sangat andal, Agung AdiprasetyoSaya sudah 60 tahun dan Jawa Pos juga sudah dipimpin Azrul Ananda yang berumur 34 tahunPak Jakob mungkin sudah tinggal menjadi pendetanya di Kompas dan bahkan saya sudah bukan siapa-siapa lagi di Jawa Pos, kecuali hanya pemegang sahamnya.
   
Hasil pertempuran itu sudah final: saya tidak mampu mengalahkan Pak Jakob OetamaKompas Group masih jauh lebih gede daripada Jawa Pos Group meski koran Jawa Pos sudah tidak kalah besar dari koran Kompas.

Yang lebih penting: saya melihat Pak Jakob sangat berbahagia dalam hidupnyaDia mengerjakan bidang yang sangat disenanginyaDia berhasil menjadi kaya rayaDia diberi rahmat sangat panjang usianyaBelum tentu saya bisa sebahagia Pak Jakob OetamaBelum tentu saya bisa membahagiakan orang lain sebesar dan sebanyak yang dilakukan Pak Jakob OetamaBelum tentu juga saya bisa mencapai usia 80 tahun seperti Pak Jakob Oetama.(*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menebus Dosa, Bermalam di Penyabungan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler