Hikayat Perang VOC

Sabtu, 23 Januari 2016 – 15:22 WIB
VOC. Foto: Arsip Nasional Belanda

jpnn.com - SEJAK awal abad 17, Inggris dan Belanda berlaga memonopoli perdagangan dunia. Gelanggangnya, negeri yang hari ini bernama Indonesia.

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Saking Seksinya, Pulau di Maluku ini Dilego Seharga New York

Setelah menempuh pelayaran selama sembilan bulan dari London, utusan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan East India Company (EIC) berlabuh di Kepulauan Banda, Maluku.

Almanak bertarekh 1620.

BACA JUGA: KABAR GEMBIRA! Pertama dalam Sejarah, Indonesia Ekspor Kapal Perang

Para utusan dari Eropa itu membawa kabar bahwa Heeren XVII dan Gentleman Adventurers telah berunding pada 17 Juli 1619.

Pemegang saham dua kamar dagang itu telah sepakat bekerjasama membangun kartel.

BACA JUGA: Melacak Peto Magek, Si Penyelundup Legendaris

"Isi kesepakatannya, EIC boleh mengambil sepertiga perdagangan rempah di Maluku, Banda, dan Ambon," kata Hendaru Tri Hanggoro, pemuka Sarekat Sejarawan Partikelir, kepada JPNN.com, Jumat (22/1).

"Untuk perdagangan lada di Jawa, EIC berhak atas setengahnya," lanjut Daru mencuplik tulisan Femme S Gaastra, War, Competition, and Collaboration yang termuat dalam The World of the East India Company.

Coen Berang

Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Jenderal VOC 1619-1623 & 1627-1629) yang berkedudukan di Nusantara naik pitam. Apalagi Belanda sedang di atas angin.

"Coen menyebut Heeren XVII pengecut dan telah menjual diri pada Gentleman Adventurers. Bagi Coen, orang Inggris sebagai musuh lebih mudah ditangani, daripada orang Inggris sebagai sekutu," papar alumnus Universitas Indonesia (UI) itu.

Coen mengabaikan induk semangnya di negeri seberang. Dia berang dan terus saja menyerang. Akhirnya EIC angkat kaki dari Banda.

(baca: Saking Seksinya, Pulau di Maluku ini Dilego Seharga New York)

Pada 1623 giliran kedudukan EIC di Ambon yang diganyang VOC. Ini membuat kongsi dagang Inggris itu memutuskan pindah ke Banten pada 1628.

Sempat meraup keuntungan besar karena menjalin hubungan baik dengan Kesultanan Banten, EIC akhirnya dipaksa angkat kaki ke Sumatera karena digasak lagi oleh VOC.

Sebagai pemenang, Belanda menjadikan Batavia--kini Kota Tua dan sekitarnya--pasar rempah-rempah terbesar di dunia.

Beberapa tahun sebelumnya…

London, 31 Desember 1600.

Sejumlah maskapai dagang Inggris bersatu membentuk East India Company (EIC).

"EIC punya dewan direksi bernama Gentlemen Adventurers yang berjumlah 24 orang. Termasuk Ratu Elizabeth dan keluarga kerajaan Inggris," kata Hendaru.

EIC memulai sepak terjangnya dengan modal awal 78 ribu poundsterling.

Dua tahun kemudian, persisnya 20 Maret 1602, enam maskapai dagang Belanda kongsi mendirikan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Forum para direkturnya bernama Heeren XVII. Isinya orang-orang kaya di Belanda.

Mengantongi modal awal 550 ribu poundsterling--lima kali lebih banyak dibanding EIC--mereka maju ke gelanggang.

VOC dan IEC--dua perusahaan multinasional pertama di dunia--bersaing memperebutkan rempah-rempah, komoditi dagang paling eksotis pada masa itu. 

Begitu berhasil memenangkan dan mengkoloni negeri yang hari ini bernama Indonesia, Belanda menjelma jadi kekuatan dagang paling kuat di dunia.

Hanya saja, memasuki 1750-an, kongsi dagang nomor wahid itu pun mulai goyang, kemudian bangkrut dan akhirnya bubar pada 1799. Apa pasal?

Setelah melakukan penelitian yang cukup mendalam, Hendaru menarik kesimpulan, VOC rontok sejak mereka memberikan gaji terlalu rendah untuk tugas yang bertumpuk-tumpuk kepada pegawainya.

Akibatnya, pegawai VOC sibuk sendiri mengadali majikannya. (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tuanku Imam Bonjol pun Tobat dari Aliran ini


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler