BACA JUGA: BI Turunkan Bunga Repo
Pada perdagangan sesi pertama, indeks sempat terpangkas 77,96 poin (4,53 persen) hingga membentuk level terendah sejak 2006 di posisi 1.641,29Meski masih terbatas, aksi beli mulai menggairahkan bursa
BACA JUGA: PGN Bakal Amankan Pasokan Gas Untuk PLN
Transaksi harian kemarin sudah hampir menyentuh Rp 5 triliun, tepatnya di level Rp 4,93 triliunBACA JUGA: 2009, Target BUMN Dipatok Rp 148 triliun
Sedangkan 125 saham turun, dan 50 lainnya stagnan.Penguatan indeks kemarin anomalis dengan pergerakan bursa kawasan yang masih memerahIndeks Nikkei masih turun 4,95 persen, Hang Seng melorot 5,44 persen, Shanghai terempas 4,47 persen, STI Singapura 1,13 persenPT Bumi Resources Tbk masih melemah menuju harga Rp 3.275 (turun 6,4 persen)PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) juga terus terempas ke posisi Rp 2.000 (turun 8 persen)
Tergerusnya saham emiten blue chip membuat kapitalisasi pasar mereka merosot drastisPT Telekomunikasi Indonesia Tbk, misalnya, kapitalisasi pasarnya yang semula Rp 202,6 triliun (9 Januari) terperosok di kisaran Rp 126 triliunKapitalisasi pasar PT Bumi Resources juga melorot ke level Rp 67 triliun, dari posisi Rp 123,2 triliun pada awal tahunKapitalisasi pasar INCO paling banyak tergerus, dari Rp 98,7 triliun pada awal tahun menjadi Rp 21 triliun.
Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan gejolak pasar keuangan bisa jadi akan berlangsung lamaSebab pasar masih menantikan kerugian akibat krisis kredit perumahan berisiko tinggi di Amerika Serikat terealisasi secara keseluruhan”Dalam proses ini, selalu ada maju mundurTermasuk spekulasi,” kata Menkeu.
Setelah beberapa bank investasi di AS mengalami kebangkrutan, lanjut Sri Mulyani, perusahaan asuransi akan menunggu giliranKondisi keuangan yang memburuk di AIG, salah satu perusahaan asuransi terbesar dunia, harus diwaspadai”AIG termasuk yang pegang bonds-nya pemerintah Indonesia,” kata Ani, sapaan Sri Mulyani.
Sedangkan mengenai depresiasi rupiah, Ani memandang masih dalam kondisi wajarIni karena rupiah hanya terdepresiasi 0,8 persen terhadap USDIni lebih baik dibanding won Korea (19 persen), rupee India (15 persen), dan Peso Filipina (12,7 persen).
Saat ini, kata dia, yang terpenting adalah menjaga stabilitas agar volatilitas tidak terlalu besar”Kita coba pergerakan ini diserap agar risiko ini seminimal mungkin,” kata Ani.(tom/sof/eri/fan)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Antam Kurangi Porsi Nikel
Redaktur : Tim Redaksi