Jajanan Pasar dan Buket Bunga Menteri LHK di Jerman

Sabtu, 18 November 2017 – 19:37 WIB
Menteri LHK Siti Nurbaya saat spontan memberi buket bunga pada penyelenggara Paviliun Indonesia di COP UNFCCC, Jerman. Foto KLHK for JPNN.com

jpnn.com, JERMAN - Paviliun Indonesia telah berkontribusi besar pada Konfrensi perubahan iklim (COP UNFCCC) 23, Bonn, Jerman. COP merupakan forum pertemuan 195 negara dan 1 blok ekonomi (Uni Eropa) membahas upaya mengatasi perubahan iklim.

Sebanyak kurang lebih 200 pembicara dari berbagai negara hadir dalam 48 sesi diskusi panel di Paviliun Indonesia. Setelah berlangsung selama dua pekan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, menutup paviliun Indonesia, Jumat (17/11) waktu setempat.

BACA JUGA: Menteri LHK: Kita Harus Kerja Sama dan Lebih Pintar

Menteri Siti Nurbaya mengatakan, Paviliun Indonesia berhasil menampilkan berbagai upaya nyata Indonesia dalam mendukung aksi perubahan iklim. Menteri kabinet kerja inipun memiliki cara sendiri menyampaikan ucapan terimakasihnya, pada pihak-pihak yang terlibat menyukseskan acara di Paviliun Indonesia.

Secara dadakan, ia meminta untuk dibelikan beberapa buket bunga. Usai pidato penutupan, buket bunga itupun diberikannya secara simbolis kepada beberapa pihak.

BACA JUGA: Perhutanan Sosial, Cara Indonesia Atasi Perubahan Iklim

Menteri LHK Siti Nurbaya membaca tulisan-tulisan yang disediakan di salah satu dinding Paviliun Indonesia. Foto KLHK for JPNN.com

''Saya beli dadakan, karena sungguh-sungguh ingin menunjukkan rasa terimakasih yang tulus, bangga dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kesuksesan Paviliun Indonesia tahun ini,'' kata Menteri Siti.

Paviliun Indonesia di arena COP 23 berada di jalur utama paling depan bersama-sama dengan paviliun Fiji selaku President COP, dan Paviliun Jerman sebagai tuan rumah. Satu deret dengan Paviliun Indonesia adalah Paviliun Uni Eropa, Inggris dan Perancis.

BACA JUGA: Menteri Siti: Perubahan Iklim Tak Bisa Ditangani Satu Negara

Dengan luas sekitar 350 m2, paviliun Indonesia memiliki disain dan layout ruang kegiatan dengan display pendekatan implementasi Paris Agreement di Indonesia.

Uniknya, meski penyelenggaraannya di Jerman, namun Paviliun Indonesia benar-benar berasa di 'Tanah Air'. Karena tersedia berbagai makanan khas Indonesia, seperti kue lapis Surabaya, lemper, semar mendem, nagasari, martabak telor, dll.

''Jajanan pasar ini bukan untuk jualan, tapi promosi kuliner Indonesia bagi peserta diskusi yang datang dari banyak Negara,'' kata Menteri Siti Nurbaya.

Hal menarik lainnya, pada salah satu dinding menuju ruang diskusi di Paviliun Indonesia, diberikan dinding untuk siapa saja bisa menuliskan harapan dan impresinya.

Terlihat ratusan tulisan ditempelkan peserta berbagai negara yang hadir pada konfrensi internasional tersebut. Beberapa tulisannya tentang keindahan Indonesia, mengapresiasi berbagai materi, hingga mendorong kerjasama dalam mengatasi perubahan iklim.

''Saat membacanya saya menyadari bahwa kita semakin perlu mendengar, mencatat, artikulasi, formulasi dan eksekusi nyata untuk aksi mengatasi perubahan iklim,'' tegas Menteri Siti Nurbaya.

Perwakilan dari berbagai negara turut hadir di Paviliun Indonesia, seperti dari Jepang, Australia, Fiji, Palau, Australia, Filipina, dan lainnya.

Selain itu juga hadir mantan wakil presiden Amerika Serikat, Menteri Koordinator Kelautan, Menteri Badan Pembangunan Nasional, Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, perwakilan Komisi IV dan Komisi VII DPR RI. Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh narasumber dan Tim Paviliun, serta Kedutaan Besar Indonesia untuk Republik Federal Jerman.

''Semua upaya mengatasi perubahan iklim, hanya bisa dilakukan secara bersama-sama dan global. Tidak bisa sendiri dan harus lebih pintar,'' ujar Menteri Siti Nurbaya.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Paviliun Indonesia, yang juga menjabat Staf Ahli Menteri LHK Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Agus Justianto, merasa bangga atas suksesnya Paviliun Indonesia dalam mempromosikan aksi nyata perubahan iklim, serta berbagi informasi praktek-praktek terbaik dari berbagai negara.

"Keberadaan Paviliun Indonesia sangat mengakomodir kebutuhan peserta akan informasi terkait upaya perubahan iklim global, karena tidak semua peserta COP merupakan negosiator,'' jelas Agus.

Selain sesi diskusi, Paviliun Indonesia juga menampilkan beberapa kesenian tradisional dan makanan tradisional Indonesia, khususnya Kopi Aceh, sebagai salah satu kopi terbaik di dunia.

Selama pelaksanaan COP 23 UNFCCC tanggal 6-17 November 2017 di Bonn, berbagai negosiasi telah dihadiri oleh Delegasi Republik Indonesia (Delri), dan antusiasme para pengunjung Paviliun sangat tinggi setiap harinya. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Siti Nurbaya Awali Pidato di Bonn dengan Dukacita


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler