Jasa-Jasa Kurdi yang Dilupakan Washington

Minggu, 01 Oktober 2017 – 08:46 WIB
Tentara wanita Kurdi menuju garis depan pertempuran melawan ISIS di Irak Utara. Foto: Reuters

jpnn.com - Amerika Serikat memilih satu barisan dengan Irak sebagai penentang kemerdekaan Kurdi. Padahal, selama ini pasukan paramiliter Kurdi sangat sering membantu Negeri Paman Sam itu.

Dalam artikel yang ditulis Max Fisher untuk The New York Times, pengamat politik AS itu menyatakan bahwa jalur yang Kurdistan Regional Government tempuh untuk merdeka tidak tepat.

BACA JUGA: Sejarah Naik Turun Hubungan Kurdi-Irak

’’Referendum memang bisa menjadi langkah awal. Tapi, itu hanya berhasil bagi kelompok masyarakat yang kisah nelangsa dan represinya di bawah rezim penguasa tersebar luas di seluruh dunia,’’ ungkapnya.

Simpati masyarakat internasional, menurut Fisher, adalah modal utama yang seharusnya KRG peroleh sebelum menempuh referendum.

BACA JUGA: Ketika Musuh Jadi Teman demi Menjegal Kurdistan

Dalam kasus Kurdi, dunia tidak bersimpati kepada masyarakat yang tersisihkan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mereka mengenal Kurdi sebagai kelompok separatis yang berusaha memisahkan diri dari negara berdaulat yang selama ini menampung mereka.

BACA JUGA: Dikeroyok Irak Cs, Kurdi Bertahan demi Kemerdekaan

Sebenarnya, Presiden KRG Masoud Barzani berharap referendum kemerdekaan tersebut bisa mendatangkan simpati untuk Kurdi. Saat itu dia membayangkan bahwa AS dan sekutunya akan mendukung upaya KRG untuk merdeka.

Di luar dugaan, Washington malah lantas bersekutu dengan Baghdad. Seluruh sekutu AS pun langsung berkubu dengan Irak. Tinggallah KRG sendirian memperjuangkan kemerdekaan yang mereka inginkan.

Padahal Peshmerga, pasukan paramiliter Kurdi, pernah berjasa membantu AS menangkap Saddam Husein. Mereka juga yang menangkap Hassan Ghul, pentolan al Qaeda yang akhirnya berperan besar dalam operasi pembunuhan Osama bin Laden.

Sejak 2014, Peshmerga dan kelompok Kurdi lainnya menyatakan perang melawan ISIS. Beberapa bulan lalu video aksi sniper wanita Kurdi di garis depan pertempuran sempat menarik perhatian dunia. (Lihat! Sniper Wanita Tertawa dan Julurkan Lidah saat Kepalanya Nyaris Ditembus Peluru)

Namun, tampaknya semua jasa Kurdi itu kurang diketahui masyarakat dunia. Malahan mereka dilihat sebagai pemberontak ganas.

’’Kurdi bukan Catalunya yang memperjuangkan hak mereka untuk merdeka lewat cara damai. Catalan (sebutan untuk warga Catalunya, Red) juga mampu memperkenalkan diri mereka sebagai kaum teraniaya yang simpatik dan cenderung menjadi korban pemerintah,’’ ungkap Bridget L. Coggins, pakar politik yang fokus menggeluti gejala pemisahan (secession).

Bagi Chris Borgen, pakar hukum sekaligus kontributor pada situs Opinio Juris, upaya untuk memisahkan diri dari pemerintahan adalah sebuah kesalahan.

’’Berdasar hukum internasional yang berlaku, tidak ada kebenaran di balik semua upaya untuk merdeka dari pemerintahan yang berdaulat. Memisahkan diri dari pemerintahan yang sah bukanlah sebuah hak. Tapi, itu juga bukan upaya yang ilegal,’’ terangnya. (AP/Reuters/CNN/BBC/hep/c22/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ingin Merdeka, Kurdi Langsung Dikeroyok Enam Negara


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler