Jelang Nikah, Dewi Kehilangan Rumah, Ibu dan Adik

Selasa, 23 September 2014 – 03:48 WIB

jpnn.com - SUNGGUMINASA - Malang menimpa Dewi, 19 tahun. Menjelang acara pernikahannya, dia harus kehilangan tiga hal paling berharganya akibat bencana kebakaran.

Rumah yang ditinggalinya di kampung Balaburu, kelurahan Kalesere'na kecamatan Bontonompo, ludes terbakar, Senin (22/9), dini hari. Tidak hanya kehilangan rumah, ibunya, Rimang, 35 tahun dan adiknya, Fitra yang baru berusia 7 bulan juga ditemukan tewas terpanggang.

BACA JUGA: Markup Alat, Staf Ahli Wali Kota Ditahan

Duka semakin mengiris hatinya setelah acara pannai uang jelang pernikahannya dipastikan tertunda karena bencana itu. Rencana, menjamu tamu dari mempelai pria yang akan datang ke rumahnya untuk membawa uang pannai, 25 September mendatang dipastikan gagal. Padahal, sejumlah persiapan untuk menjemput si tamu sudah dilakukan. Keluarga besar Dewi sudah memperbaiki sejumlah lantai rumah berbentuk panggung itu.

Akad nikah Dewi memang akan digelar, 10 Oktober mendatang. Selain memperbaiki lantai rumah, keluarga Dewi juga sudah mempersiapkan ternak yang akan menjadi bahan santapan saat resepsi pernikahan itu.

BACA JUGA: Siswi Mesum di Mimika Terancam Dikeluarkan

"Baru saja dia perbaiki itu rumah na terbakar mi kodong," ungkap tetangga Dewi, Yusrizal, seperti dilansir FAJAR (JPNN Grup), Selasa (23/9).

Dewi adalah anak sulung dari empat bersaudara pasangan Daeng Sore, 40 tahun dan Daeng Rimang, 37 tahun. Tiga adiknya yang lain adalah Edi, 13 tahun, Fiki, empat tahun dan Fitra, tujuh bulan. Di dalam rumah itu, Dewi juga tinggal bersama dengan neneknya, Sawanda, 75 tahun.

BACA JUGA: Karyawan PLN Meninggal Tersengat Listrik

Saat kebakaran melanda rumah itu, Dewi sedang tidak berada di rumahnya. Dia kebetulan menginap di rumah tantenya tidak jauh dari lokasi kejadian. "Baru kali itu dia (Dewi) menginap di rumah tantenya," tambah Yusrizal.

Saat kebakaran terjadi, pemilik rumah sempat menyelamatkan diri dari kebakaran itu. Daeng Sore dan Daeng Rimang sempat menyelamatkan dua adik Dewi, Edi dan Fiki. Nenek Dewi, Sawanda juga sempat menyelamatkan diri. Namun, ada yang terlupa. Si Bungsu, Fitra yang masih berusia tujuh bulan masih tergeletak di tempat tidur.

Daeng Rimang pun nekat menyusul Si Bungsu, Fitra. Dia nekat masuk di dalam kobaran api di dalam rumah itu. Daeng Sore juga mencoba menyelamatkan keduanya. Namun, apa daya, api sudah berkobar. Daeng Rimang dan Fitra tidak bisa diselamatkan. Karena mencoba menyelamatkan istri dan anaknya, Daeng Sore menderita luka bakar serius pada tubuhnya.

Yusrizal menambahkan, rumah semi permanen itu berada jauh dari lokasi pemukiman warga. Rumah itu memang dibangun tidak jauh dari sawah yang dikelola Daeng Sore. Warga setempat juga baru tahu terjadi kebakaran setelah api sudah berkobar. "Air juga sangat sedikit. Apalagi musim kemarau, sangat sulit memadamkan api," jelas dia.

Korban Daeng Sore tidak bisa merbicara banyak karena kejadian itu. Dia mengaku sementara tertidur pulas saat kebakaran terjadi. Saat tidur, api tiba-tiba sudah berada di atas atap.

Istrinya, Daeng Rimang juga sempat membangunkannya. Setelah bangun, mereka kemudian langsung menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. "Apinya dari atap. Istri saya sempat bangun duluan," kata Sore.

Harta yang berhasil diselamatkan hanya dua ekor sapi dan dua ekor kambing yang akan dijadikan santapan saat acara resepsi pernikahan nanti. Selebihnya, sudah tidak ada lagi yang tersisa.

Kepala Perwira Urusan Humas, Iptu Isyamsyah membenarkan kejadian itu. Polisi menaksir kerugian mencapai Rp 100 juta. Dia mengaku untuk sementara, kebakaran dipicu karena korsleting listrik. Sebagian bahan rumah panggung itu, tambah dia memang mudah terbakar. "Jaraknya juga jauh di tengah sawah. Warga lainnya juga terlambat mengetahui kebakaran," tambah dia.

Hal yang sama diungkapkan oleh Pelaksana tugas Kapolsek Bontonompo, AKP Abidin K menyebutkan penyebab kebakaran masih diselidiki. Meski dugaan sementara kebakaran disebabkan korsleting listrik.

Kepala Dinas (Kadis) Sosnakertrans Gowa, H Syamsuddin Bidol menyebutkan  sudah menerima laporan tentang kebakaran satu rumah panggung itu. Usaha mobil pemadam kebakaran turun ke lokasi tidak sempat melakukan pemadaman. "Setelah tiba di TKP, api sudah padam," ujarnya.

Sementara itu, di Makassar, kebakaran juga kembali melanda kompleks perumahan di Makassar. Kali ini si jago merah melahap habis dua rumah di Kompleks Ranggoon Permai, Senin 22 September.  Rumah nomer A25 dan A27 tersebut masing-masing milik Hj Saenab dan Arifin. Namun keduanya dikontrakkan kepada mahasiswa Unhas. Api diketahui berasal dari rumah nomer A25.

"Apinya berasal dari kipas angin mahasiswa yang korslet," jelas pemilik rumah, Saenab.

Sekitar pukul 13.00 wita kemarin, seorang bocah berusia 10 tahun, Kevin, melihat kepulan asap dari rumah tersebut dan kemudian berteriak meminta tolong. Namun api terlanjur membesar sehingga kedua rumah tersebut beserta perabotnya habis dilalap api dalam sekejap.

Dua unit mobil pemadam kebakaran diturunkan untuk menaklukkan api. Satu jam kemudian api berhasil dipadamkan. "Untung pemadam cepat, kalau tidak satu kompleks ini habis," kata salah seorang saksi mata, Dewi.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian ditaksir hingga ratusan juta rupiah. Aparat polsek Manggala yang tiba dilokasi segera memasang garis polisi. Warga Kompleks Ranggoon berharap, pemadam kebakaran bisa menyiapkan satu unit pemadam darurat disekitar daerahnya. Mereka khawatir kebakaran serupa terulang. (jai-eka-ris) 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Masalah Tanah jadi Kendala Investasi di Papua


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler