Jokowi, Memang Sakti atau Bebek Lumpuh?

Rabu, 12 April 2023 – 19:25 WIB
Pilpres 2019: Joko Widodo saat menghadiri kampanye akbar bertema Konser Putih Bersatu di SUGBK, Jakarta, Sabtu (13/4). Foto: Fathra N Islam/JPNN.com

jpnn.com - Sering kali Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap bebek lumpuh atau lame duck oleh para lawan politiknuya.

Sebaliknya, di mata para pendukungnya, Presiden Ketujuh RI itu dianggap sakti karena bisa mengumpulkan banyak pendukung dan mengarahkan mereka sesuai dengan keinginannya.

BACA JUGA: King Maker dan Power Broker

Itulah dua gambaran berbeda terhadap Jokowi.

Politikus Partai Demokrat (PD) Andi Arief menyebut Jokowi tengah berada pada fase bebek lumpuh yang kepemimpinannya tidak efektif lagi. Dalam kondisi itu, Jokowi dianggap ingin mengembalikan kekuatannya melalui jalan show of force atau pamer kekuatan dengan mengumpulkan sukarelawan yang selama ini mendukungnya.

BACA JUGA: Kakak Besar dan The Golden Boy

Akan tetapi, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Nurul Arifin punya pandangan lain. Di matanya, Jokowi masih sakti.

Buktinya, Jokowi masih sanggup mengumpulkan para pemimpin partai politik untuk membentuk sebuah koalisi besar. Koalisi itu dibentuk untuk membendung kekuatan yang dianggap mengancam keberlanjutan program Jokowi setelah pemerintahan berganti pada 2024.

BACA JUGA: Ketika Tugiman dan Prabowo Panen Raya bersama Jokowi

Nurul mengatakan popularitas Jokowi dan kecintaan publik terhadapnya hingga saat ini tidak memudar. Dia mengakui Jokowi betul-betul sakti karena bisa mengumpulkan para ketua umum partai politik.??

Jokowi mendapat dukungan luas dari sukarelawan. Itulah yang membuatnya diyakini akan tetap sakti di Pilpres 2024.

Meski bukan ketua umum partai, Jokowi akan menentukan siapa yang akan terpilih menjadi Presiden Kedelapan RI.  Di belakang Jokowi ada sukarelawan yang sudah berikrar akan manut kepada Jokowi soal pilihan capres nanti.

Itulah yang terjadi pada 2022 ketika Jokowi menunjukkan kekuatannya dengan mendatangkan ribuan sukarelawan pendukungnya di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

Ikrar setia sukarelawan kepada Jokowi itu ditunjukkan dalam acara Gerakan Nusantara Bersatu. Jokowi hadir dan memberikan arahan dalam acara itu.

Salah satu arahannya terkait pilihan capres yang akan didukung di Pilpres 2024. Jokowi meyakinkan sukarelawan pendukungnya dengan menjelaskan berbagai capaian kinerja pemerintah, mulai pembangunan infrastruktur, pengembangan kawasan wisata, penghentian ekspor bahan mentah, hingga pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.

Di depan sukarelawan, Jokowi pun membanggakan capaian ekonomi. Kata dia, saat ini banyak negara besar mengalami kesulitan karena dampak dari pandemi, perang, dan inflasi. Beberapa negara besar bahkan kena resesi.

Beruntung, kata Jokowi, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 5,72 persen pada kuartal kedua. Menurut Jokowi, berbagai kebijakan pemerintah saat ini sudah on the track

Ia pun mengajak sukarelawan pendukungnya menjaga pembangunan saat ini bisa berkelanjutan hingga 2045. Jokowi mewanti-wanti jangan sampai karena kepentingan jangka pendek atau kepentingan politik sesaat, menjadi lupa menjaga keberlanjutan pembangunan.

Karena itu, Jokowi meminta sukarelawannya agar berhati-hati memilih pemimpin. Hati-hati, hati-hati. Jokowi mewanti-wanti. 

Jokowi lalu memberikan sejumlah kriteria dalam memilih capres di 2024. Pertama, kata dia, pilih pemimpin yang mengerti tentang apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh rakyat. Jangan pilih yang senang duduk manis di ruangan ber-AC atau yang senang duduk di balik meja saja.

Selain itu, pilih pemimpin yang senang blusukan langsung ke lapangan. Tak kalah penting, pilih pemimpin yang memikirkan rakyatnya. 

Kata dia, cara mengetahui seorang pemimpin memikirkan rakyatnya itu bisa dilihat dari kerutan di wajahnya.

Seusai Jokowi memberikan arahan itu, sejumlah kelompok relawan lalu naik ke atas panggung untuk membacakan deklarasi. Inti deklarasi itu ialah menyatakan akan setia dan manut atau patuh pada keputusan Jokowi di tahun 2024.

Apa yang dilakukan Jokowi di GBK adalah konsolidasi sukarelawan. Tujuannya ialah agar relawan tetap manut dengan keputusannya  dan tidak pecah saat memilih capres nanti. 

Salah satu kekuatan Jokowi hingga bisa menang dua periode tak lepas dari kesolidan para sukarelawannya.  Jokowi mulai memosisikan dirinya sebagai kingmaker dengan harapan berbagai programnya bisa dilanjutkan oleh pemimpin selanjutnya. 

Hingga periode kedua pemerintahan Jokowi, kepuasan publik terhadap kinerjanya  masih tinggi. Lebih dari itu, kapasitas kader PDI Perjuangan itu dalam merangkul lawan-lawan politik membuatnya acap kali dianggap sakti hingga dinilai menjadi penentu arah pertempuran politik di pemilu mendatang.

Lembaga Survei Indonesia (LSI) besutan Djayadi Hanan memunculkan angka 76,8 persen dalam survei kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi. ???Namun, kesaktian Jokowi kini diuji.

Rentetan peristiwa menunjukkan hal itu. Mulai dari penolakan dua kepala daerah dari PDI Perjuangan terhadap agenda Piala Dunia U-20, hingga kegaduhan KPK-Polri menyusul pencopotan Brigadir Jenderal Endar Priantoro dari Direktur Penyelidikan KPK.??

Belum lagi, kontroversi juga mencuat seiring dengan kehadiran Jokowi di tengah-tengah wacana koalisi besar yang digalang Prabowo Subianto cs. Tak sedikit yang menilai Jokowi bermanuver dan berpotensi mengubah haluan politik, lalu berjarak dengan partainya sendiri, PDI Perjuangan.

???Jokowi ingin jadi kingmaker dalam pusaran pilpres mendatang. Ide penggabungan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) bisa jadi menjadi strategi barunya lantaran tidak bisa lagi bertumpu pada Ganjar Pranowo yang berpotensi menjadi jagoan PDI Perjuangan.

???Megawati tentu tidak tinggal diam. Dia juga ingin menjadi kingmaker atau mungkin malah queenmaker.

Sampai sekarang Megawati masih menaruh harapan besar terhadap Puan Maharani untuk melanjutkan trah Soekarno. Namun, di sisi lain Megawati menyadari realitas politik tidak seindah harapannya.

Mega menghadapi dilema politik yang rumit. Mega dan Jokowi beradu sakti untuk berebut menjadi kingmaker atau queenmaker. Kalau keduanya tidak berkoalisi, sisanya salah satu akan menjadi bebek lumpuh.(***)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jejak Ustaz Sambo demi Prabowo


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Jokowi   koalisi besar   KIB   kkir   PDIP   Megawati   Pilpres 2024  

Terpopuler