JTD Siap Garap Jalur Semanan - Sunter

Minggu, 05 Oktober 2014 – 14:44 WIB

jpnn.com - GAMBIR - Proyek enam ruas jalan tol siap digarap pada Juni tahun depan. PT Jakarta Tollroad Development (JTD) mengebut persiapan teknis. Sebagai kompensasi, PT JTD menerima syarat dari pemprov agar menyediakan lajur khusus busway.

Kepala Humas PT JTD Ngurah Wirawan menjelaskan, persiapan-persiapan untuk memulai konstruksi fisik proyek tersebut terus dilengkapi. Sesuai rencana kerja, studi detail engineering design (DED) tuntas tiga bulan lagi.

BACA JUGA: Merak Batal Pindah, Ini Alasan Pemerintah

Pada tahap itu, tim ahli perusahaan akan menyusun jenis konstruksi fisik yang dipakai. Misalnya, kedalaman tiang beton, ukuran beton fondasi, dampak konstruksi terhadap kemacetan, hingga jenis material yang akan digunakan. Sebab, hampir seluruh jalur tol dibangun secara layang (elevated). Pada Februari hingga Maret 2015, proyek itu masuk tahap tender, lalu April sampai Mei negosiasi dan perjanjian kerja sama dengan pemenang tender ditandatangani.

"Juni tahun depan baru kami mulai konstruksi fisiknya,’’ ujarnya Sabtu (4/10).

BACA JUGA: Pasar Properti Mulai Oversupply

Jalur Semanan - Sunter menjadi koridor pertama yang dikerjakan. Panjang koridor itu mencapai 20 kilometer dengan nilai proyek Rp 9,76 triliun. Lalu dilanjutkan dengan koridor Sunter - Pulogebang sepanjang 9,44 kilometer dengan nilai investasi Rp 6,95 triliun.

’’Total biaya untuk dua koridor pertama itu Rp 16 triliun lebih dan target pengerjaanya 2,5 tahun,’’ katanya.

BACA JUGA: 18 Perusahaan Dalam Negeri Masuk Batam

Sebetulnya, rencana pembangunan 6 koridor bisa saja dimulai sekaligus. Tapi, hal itu tidak mudah. Pemerintah pusat dan Pemprov DKI harus menjamin bahwa lahan yang akan dipakai tidak bermasalah. Dengan begitu, pengerjaan koridor lain bisa lancar. Masalah lahan juga memengaruhi verifikasi pemenang tender. Artinya, bila persoalan lahan tidak terkendala, pihaknya juga berkeinginan agar pemenang tender merupakan perusahaan yang penawarannya rendah, tapi menjamin kualitas konstruksi.

’’Kalau masalah lahan beres, kami juga bisa cari kontraktor yang kerjanya lebih efisien. Dengan begitu kita bisa segera memulai di koridor lain juga,’’ katanya.

Dalam perjanjian kerja sama (PKS) dengan pemerintah pusat dan Pemda DKI, enam ruas di seluruh koridor harus selesai dibangun selama delapan tahun, atau pada 2023. Terkait itu, Pemprov DKI beberapa waktu lalu meminta agar proyek itu selesai lebih cepat dari targetnya. Dimintai tanggapannya, Wirawan tertawa.

"Ya kita upayakan. Kan enggak boleh dong kami pesimistis,’’ katanya, lantas terkekeh.

Proyek itu diyakini mampu mengurai kemacetan di Jakarta. Meskipun belum ada kajian potensi penurunan kemacetan, pembangunan enam ruas tol baru itu dapat memecah kebuntuan lalu lintas dalam kota, utamanya saat jam sibuk. Contohnya proyek tol lingkar luar Jakarta atau JORW2. Merujuk hasil kajian PT Jasa Marga selaku pengelola tol, pembangunan tol lingkar luar itu berhasil mengurangi beban kendaraan yang melintas di tol dalam kota. Selama 3 bulan terakhir, terjadi penurunan jumlah kendaraan yang melintas di tol dalam kota setiap harinya.

"Dari 335 ribu mobil yang melintas setiap harinya dalam tol kota, dalam tiga bulan terakhir, 35 ribu mobil beralih melewati JORW2," ujarnya.

Berdasarkan data dari PT JTD, koridor lain yang akan dibangun yakni, koridor III menghubungkan Duri Pulo - Kampung Melayu sejauh 12,60 kilometer. Nilai investasinya mencapai Rp 5,96 triliun. Lalu, koridor IV, yakni Kemayoran - Kampung Melayu sejauh 9,60 kilometer dengan biaya Rp 6, 95 triliun. Selanjutnya koridor V yang menghubungkan Ulujami - Tanah Abang sejauh 8,70 kilometer. Total biaya investasinya Rp 4,25 triliun. Koridor VI menghubungkan Pasar Minggu - Casablanca sepanjang 9,15 kilometer dengan biaya Rp 5,71 triliun.

"Jadi totalnya hampir 70 kilometer," ujarnya Wirawan.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) DKI Edy Nursalam mengatakan, meski sudah disetujui oleh Pemprov DKI, hingga kini masih banyak kelompok masyarakat yang menolak rencana tersebut. Pihaknya bahkan terus menerima keluhan dari warga Jakarta yang menolak 6 ruas tol itu. Dia juga meragukan hasil kajian PT Jasa Marga terkait berkurangnya kemacetan di tol dalam kota akibat pembangunan tol lingkar luar.

 "Perlu diketahui, ada penambahan 1.000 kendaraan setiap hari di Jakarta. Oke tiga bulan dia pindah, lalu setelah itu?," ujarnya.

Rencananya, DTKJ akan menyerahkan rekomendasi berisi analisa akibat pembangunan enam ruas tol itu kepada Pemprov DKI. Menurut dia, akibat penambahan jumlah kendaraan itu, jalanan ibu kota tetap saja macet.

"Lihat aja kalau pagi-pagi di jalanan Jakarta, apa itu yang dimaksud, belum lagi di setiap pintu keluar tol, selalu bikin macet," ujarnya. (bad/oni)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisruh Politik Berdampak Ekonomi Jangka Pendek


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler