Merak Batal Pindah, Ini Alasan Pemerintah

Minggu, 05 Oktober 2014 – 12:30 WIB

jpnn.com - JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan tidak akan memindahkan pelabuhan Merak di Banten. Pasalnya, sampai saat ini pemerintah belum menemukan lahan yang tepat untuk merelokasi pelabuhan penyeberangan itu. Selain itu rencana pemindahan pelabuhan akan memakan biaya yang besar.

Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Bambang Susantono kemarin (4/10) menyampaikan, pemerintah membatalkan rencana relokasi Merak. ”Sudah kami rapatkan. Rencana pemindahan itu tidak dilanjutkan,” ujarnya.

BACA JUGA: Pasar Properti Mulai Oversupply

Sebelumnya Bambang juga permah menyatakan akan memisah pelayanan di pelabuhan Merak. Untuk kelas ekonomi di pelabuhan Merak yang saat ini. Sedangkan untuk kelas premium akan dipindah ke lokasi pelabuhan yang baru. Namun lagi-lagi rencana itu sebatas angan-angan.     

Menurut Bambang, pemindahan pelabuhan tidak segampang membalikkan telapak tangan. Sebab diperlukan perencanaan yang matang. Salah satunya adalah lokasi pelabuhan yang baru. Menurut Bambang, lokasi Merak sangat strategis yakni jaraknya sangat dekat dengan pulau Sumatera.

BACA JUGA: 18 Perusahaan Dalam Negeri Masuk Batam

”Kalau dipindah ke tempat baru, lokasinya harus lebih dekat lagi dengan pulau Sumatera,” paparnya.         

Bambang mengatakan bahwa saat ini pemerintah sedang membahas opsi lain. Yaitu memaksimalkan pelabuhan existing atau sudah ada. Salah satunya yakni penambahan dermaga. Bambang menejlaskan saat ini jumlah dermaga yang ada di Merak totalnya lima dermaga. Menurut dia, jumlah itu sudah tidak mampu mengatasi kepadatan penumpang. Apalagi ketika momen lebaran.

BACA JUGA: Kisruh Politik Berdampak Ekonomi Jangka Pendek

”Pasti ada kepadatan,” tuturnya.

Mantan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) itu mengatakan idealnya Merak mempunyai 10 dermaga. Pasalnya dalam 5-6 tahun ke depan diperkirakan Merak sudah tidak bisa melayani penyebarangan dari pulau Jawa ke Sumatera.

”Saat itu jumlah kendaraan semakin banyak dan kapal-kapal penyeberangan pun juga bertambah. Nah jika dermaga tidak ditambah akan terjadi kemacetan,” terangnya.

Masalah timbul jika pemerintah menambah jumlah dermaga. Yakni adanya keterbatasan lahan. Pelabuhan Merak mempunyai luas 150.615 meter persegi. Luasan itu tidak bisa ditambah lagi karena di kanan-kiri pelabuhan sudah menjadi tanah pemukiman milik warga.

Bambang mengatakan salah satu cara untuk memperluas pelabuhan yakni dengan reklamasi yakni pembuatan daratan baru di atas laut. Menurut dia, opsi itu yang paling memungkinkan. Karena pemerintah tidak perlu membebaskan lahan. Sehingga prosesnya lebih cepat.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan saat ini pemerintah masih melakukan kajian studi kelayakan atau feasibility study (fs). Setelah selesai, nantinya akan dilanjutkan dengan pembuatan desain dermaga. Menurut Bambang FS dan pembuatan desain akan memakan waktu satu tahun.

”Jadi pembangunannya dimulai tahun 2016,” ucapnya.

Seperti yang diberitakan, Menko Perekonomian Chairul Tanjung berkeinginan untuk memindah pelabuhan Merak. Menurut dia Merak tidak representative lagi. Karena setiap hari pelabuhan penyeberangan itu overload. Selain itu, pemindahan itu berguna untuk menghindari kemacetan Jakarta.

Pasalnya selama ini truk-truk yang akan ke Sumatera jika menuju Merak pasti lewat kota Jakarta. Namun usulan itu dibatalkan lantaran pemerintah tidak bisa menemukan lahan strategis sebagai pengganti pelabuhan Merak. (aph)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pertamina Remajakan Terminal BBM


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler