Setelah situasi yang relatif lancar pada tahun 2020, infeksi virus corona kini meningkat tajam di Kamboja. (Reuters: Cindy Liu)

Pada tahun pertama pandemi COVID-19, Kamboja adalah salah satu negara yang patut ditiru dengan jumlah infeksi terendah di dunia.

Sekarang, negara di kawasan Asia Tenggara ini tidak hanya mencoba mengendalikan wabah yang paling serius, tetapi juga menghadapi krisis simultan, setelah puluhan ribu orang diisolasi dan kehabisan makanan.

BACA JUGA: Jepang Punya Waktu 85 Hari Untuk Memastikan Olimpiade Tokyo Berjalan Aman

Pemerintah Kamboja telah menyatakan daerah dengan kasus virus corona terbanyak sebagai "zona merah" dan melarang orang meninggalkan rumah mereka kecuali karena alasan medis.

Artinya, masyarakat di zona ini bahkan tidak diperbolehkan keluar untuk membeli makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

BACA JUGA: Lonjakan Kasus COVID di India Sangat Buruk, Tetapi Angka Kematian di Brasil Ternyata Lebih Mengerikan

Sebagian besar zona merah berada di ibu kota Phnom Penh dan kota terdekat Takhmao.

Banyak dari mereka yang melanggar aturan kemudian dipukuli dengan tongkat rotan atau ditangkap - tindakan yang disebut oleh polisi dilakukan "untuk menyelamatkan nyawa".

BACA JUGA: Tiongkok Minta Australia untuk Meninggalkan Mentalitas Perang Dingin

Persediaan makanan menipis

Pemerintah telah mendistribusikan paket bantuan berupa beras, kecap, kecap ikan, ikan kaleng dan air minum dalam kemasan, namun banyak yang tidak kebagian.

Naly Pilorge dari Liga Kamboja untuk Promosi dan Pertahanan Hak Asasi Manusia (LICADHO) mengatakan kepada ABC bahwa orang-orang ketakutan dan kelaparan.

Berdasarkan sensus 2019, dia memperkirakan hampir 300.000 orang tinggal di kawasan zona merah.

“Bukan hanya orang miskin yang seringkali diabaikan oleh masyarakat, kelas menengah juga kehabisan bahan pangan,” ujarnya.

"Ini tidak normal di negara dengan ukuran seperti Kamboja, di mana kita menanam makanan yang tidak bisa dimakan rakyat kita sendiri."

Naly mengatakan truk makanan tidak boleh masuk ke zona merah, pasar di dalam zona terpaksa ditutup, dan program makanan bantuan pemerintah tidak memadai.

"Paket makanan [dari pemerintah] tidak bergizi, juga sangat lambat untuk didistribusikan, dan yang paling penting, distribusinya sangat selektif," katanya.

"Jadi, jika Anda dianggap sebagai aktivis atau tidak memiliki koneksi, Anda sering tidak mendapatkan donasi ini."

 

Naly mengatakan, lembaga swadaya masyarakat (LSM) belum diberi akses ke zona merah untuk mengirimkan paket makanan, tetapi telah melakukan apa pun yang mereka bisa untuk membantu masyarakat. Angka infeksi tiba-tiba melonjak

Kamboja telah mengalami lebih dari 11.700 infeksi COVID-19 dan hampir 90 kematian sejak dimulainya pandemi.

Jumlahnya rendah dibandingkan dengan negara lain, tetapi wabah yang baru pecah ini adalah yang paling serius dan telah menyebar dengan cepat.

Pihak berwenang mengatakan, lonjakan kasus ini dimulai di komunitas ekspatriat Tiongkok pada akhir Februari, sebelum jumlah kasus membengkak bulan ini.

Varian virus corona Inggris B117 telah terdeteksi di Kamboja, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan negara itu di ambang "tragedi nasional".

Pada awal April, jumlah kasus harian di Kamboja tercatat hanya beberapa saja, tapi kini selama seminggu terakhir telah naik menjadi lebih dari 500 kasus sehari.

Kemarin tercatat 880 infeksi harian.

Sebuah grup Telegram Pemerintah yang dibuat baru-baru ini untuk orang-orang yang mencari bantuan makanan darurat telah menerima ribuan permintaan, dan orang-orang juga telah pergi ke media sosial dengan cerita tentang keputusasaan.

"Kami telah menerima pesan dari semakin banyak orang yang membandingkan situasi saat ini dengan periode Khmer Merah," kata Nally.

"Kekerasan, kurangnya makanan, diskriminasi terhadap orang miskin, kurangnya tanggung jawab perusahaan untuk membayar karyawan jika mereka di-PHK atau tidak lagi dapat bekerja, dan sebagainya."

Khmer Merah adalah rezim yang memerintah Kamboja dari tahun 1975 hingga 1979, di bawah kepemimpinan diktator Pol Pot.

Dalam empat tahun, dua juta orang meninggal karena kelaparan, kerja terlalu berat, penyakit atau dieksekusi. Hanya tersisa sekotak telur lagi

ABC telah berbicara dengan beberapa orang di-lockdown, yang setuju beberapa pembatasan komunitas adalah ide yang baik, tetapi sekarang khawatir penguncian yang ketat akan menyebabkan kelaparan.

Ayah tiga anak Man Vaesna, 37 tahun, mengatakan bahwa pekan lalu satu-satunya makanan yang tersisa bagi keluarganya adalah 10 butir telur.

"Saya khawatir… karena kami menunggu makanan dari Pemerintah dan mereka sangat terlambat memberi kami makanan."

Sejak itu dia menerima paket bantuan pemerintah berupa beras, kecap ikan, ikan kaleng, dan mie kering, tetapi tidak tahu apa yang akan terjadi jika persediaan itu habis.

Sopir ojek dan ayah dua anak Tim Tin, 30 tahun, mengatakan keluarganya telah menjalani karantina rumah sejak 7 April setelah seorang anggota keluarga besarnya dinyatakan positif terkena virus corona.

"Saya tidak bisa keluar untuk mencari uang dan kami menghadapi tantangan lain yaitu kekurangan makanan," katanya kepada ABC.

"Dan saya takut jika lebih banyak orang tertular COVID-19, kami tidak akan memiliki cukup makanan karena kami tidak tahu kapan [lockdown] akan selesai." Pemerintah menolak bantuan dari LSM

Pada konferensi pers awal pekan ini, Wakil Gubernur Kota Phnom Penh Nuon Pharath mengatakan pihak berwenang telah bekerja keras untuk membantu orang.

“Pembagian pangan sudah dialokasikan pada tempat yang tepat dan diberikan kepada masyarakat yang tepat, serta dilakukan dengan aman,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa karena begitu banyak orang yang membutuhkan, tidak mungkin untuk membagikan paket makanan dengan cepat, tetapi tim distribusi bekerja secepat mungkin dan akan terus melakukannya.

Media Kamboja melaporkan bahwa Raja Norodom Sihamoni dan Ibu Suri Norodom Monineath Sihanouk telah menyumbangkan ribuan ton makanan dan 950 kotak air minum kepada pihak berwenang untuk dibagikan di zona merah.

Pihak berwenang telah memberlakukan lockdown di Phnom Penh dan Takhmao hingga setidaknya 5 Mei.

LSM seperti LICADHO dan Equitable Cambodia mengatakan pihak berwenang perlu menerima bantuan mereka.

"Kami memahami pendekatan Pemerintah untuk menghentikan [virus] ini menyebar lebih jauh, tetapi penting untuk diketahui bahwa kita tidak dapat peduli tentang penyakit tanpa memperhatikan perut orang-orang," kata Eang Vuthy dari Equitable Cambodia.

Eang, yang sendiri tinggal di zona merah, mengatakan bahwa Pemerintah perlu menyediakan lebih banyak makanan untuk orang-orang dan makanan tersebut harus gratis karena mereka tidak memiliki kapasitas untuk bekerja.

"Anda bisa merasakan betapa frustrasinya dan betapa cemasnya [orang-orang] merupakan tulang punggung keluarga untuk memastikan keluarga mereka tidak kelaparan," katanya.

"Tapi bagaimana mereka bisa melakukan itu karena mereka tidak bisa keluar dan meninggalkan rumah?"

Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa dari.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kebun Ganja Terbesar di Australia Akan Segera Dibuka

Berita Terkait