Ke Iran setelah 30 Tahun Diembargo Amerika (1)

Kuasai Teknologi Pembangkit Canggih saat Kepepet

Jumat, 06 Mei 2011 – 03:43 WIB

BARU sekali ini saya ke IranKalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari Negara Para Mullah ini

BACA JUGA: Puasa Sebulan Tanpa Lebaran


 
Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri
Tapi, hasilnya malah sebaliknya

BACA JUGA: Menyatunya Dua Matahari di Pangandaran

Jatah gas PLN justru diturunkan terus-menerus
Kalau awal 2010 PLN masih mendapatkan jatah gas 1.100 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day atau juta standar metrik kaki kubik per hari), saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 MMSCFD

BACA JUGA: Rosihan Anwar

Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil belakangan redup kembali
 
Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinyaBisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana, baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbedaPadahal, PLN memerlukan 1,5 juta MMSCFD gasKalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu, penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahunAngka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.
 
Maka, saya memutuskan ke IranApalagi, upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depanKini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkanTermasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya ituSiapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi

Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang "salah makan"Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahalSalah makan itulah yang membuat kembung perut PLN selama ini.
 
Kebetulan Iran memang sedang memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG)Iran sedang membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah di pantai Teluk ParsiSaya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi" Bukankah Iran sudah 30 tahun lebih dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia" Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?
 
Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari TeheranMeski Asaleuyah kota kecil, ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar ituBandaranya kecil, tapi cukup baikMasih baru dan statusnya internasionalPesawat-pesawat lokal, seperti Aseman Air, terbang ke sana
Itulah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnyaIran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas, dan petrokimiaBeratus-ratus hektare tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia, dan instalasi pembuatan LNG.

Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu pada saat Iran sedang diisolasi oleh dunia BaratMemang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadiKilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasaHanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya akan selesai dua tahun lagi.
 
Memang, kalau saja Iran tidak diembargo, proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepatNamun, Iran tidak menyerahIran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situHanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luarEntah dengan cara apa dan entah lewat manaYang jelas, barang-barang itu bisa adaOrang, kalau kepepet, biasanya memang banyak akalnyaAsal tidak mudah menyerah

Demikian juga, IranBahkan, untuk memenuhi keperluan listrik untuk industri petrokimia itu, Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiriTermasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbinMaka, Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.
 
Kemampuan membuat pembangkit listrik itu pun semula agak saya ragukanBelum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuhKarena itu, setelah meninjau proyek LNG, saya minta diantar ke pabrik turbin ituSaya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.
 
Ternyata benarPabrik turbin itu sangat besarBukan hanya bisa merangkai, tetapi juga membuat keseluruhannyaBahkan, sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiriTermasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbinBaru sepuluh tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik itu

Sekarang Iran sudah memproduksi 225 unit turbin dari berbagai ukuranMulai 25 MW hingga 167 MWBahkan, Iran sudah mulai mengekspor turbin  ke Lebanon, Syria, dan IraqBulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke IndiaBulan lalu pabrik turbin Iran merayakan produksi blade-nya yang ke-80.000 unit!
 
Kesimpulan saya: inilah negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknyaSaya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinyaMulai A hingga ZTermasuk memasuki laboratorium metalurginyaDengan kemampuannya itu, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri

Bahkan, untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama, Iran tidak bergantung lagi kepada pabrik asalnyaMesin-mesin Siemens lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawat sendiriIran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemens dan GEBahkan, mereka sudah dipercaya Siemens untuk memasok ke negara lain"Anak perusahaan kami sanggup memelihara pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini," kata manajer di situ
Pabrik tersebut memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrikTermasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan
 
Bisnis kelihatannya tetap bisnisSaya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Italia, Jerman, Swiss, dan seterusnyaSaya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin itu bisa mendapatkan lisensi dari Siemens.
 
Rupanya, meski membenci Amerika dan sekutunya, Iran tidak sampai membenci produk-produknyaIran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu IsraelItu jauh dari bayangan saya sebelum datang ke IranSaya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari AmerikaTernyata tidakBahkan, Coca-Cola dijual secara luas di IranDemikian juga, Pepsi dan MirandaBelum lagi Gucci, Prada, dan seterusnya.
 
Intinya: dengan diembargo Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanyaKesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit, dan mandiriKesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin, apalagi bangkrutJustru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.
 
Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalanMulai pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan laying, hingga ke industri dasarTidak ketinggalan pula industri mobil
 
Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliatPertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan enam persen tahun iniMulai meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan"Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahunSekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun," ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran(bersambung)


  Dahlan Iskan
    CEO PLN

BACA ARTIKEL LAINNYA... Geotermal; Gara-gara Nila Setitik Jangan Rusak Susu Se-Malinda


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler