Kementan Luncurkan Mesin Tanam Teknologi Baru

Senin, 11 Desember 2017 – 15:38 WIB
Mesin tanam padi Jarwo Tipe Riding (Riding Transplanter). Foto: istimewa

jpnn.com, SUBANG - Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) kembali meluncurkan teknologi terbaru hasil karya anak bangsa.

Teknologi itu berupa Mesin Tanam Padi Jarwo Tipe Riding (Riding Transplanter).

BACA JUGA: Sapi Belgian Blue Lahir Lagi

Teknologi ini merupakan hasil pengembangan mesin tanam Padi Jajar Legowo (Jarwo Transplanter) Tipe Walking kerjasama dengan PT Rutan.

Menurut Kepala BBP Mekanisasi Pertanian Andi Nur Alam Syah, teknologi terbaru ini adalah dukungan dalam wujud nyata terhadap pengembangan pertanian padi modern.

BACA JUGA: Jadikan Kedelai Nasional Primadona Melalui Branding

Mesin tanam padi 6 baris jajar legowo ini memiliki banyak keunggulan.

Yakni kerja 0,36 ha/jam (2,8 jam/ha), efisiensi kerja lapang 57%, kedalaman tanam antara 2 sampai 6 cm dan jumlah bibit 3 hingga 7 bibit/sekali tanam.

BACA JUGA: Kementan Beri Bantuan ke Peternak Korban Bencana di Pacitan

“Selain itu, jarak tanam dalam baris antara 13 sampai dengan 20 cm, dengan lubang tanam kosong kurang dari 1 persen,” kata Nur Alam saat acara Launching di Balai Besar Penelitian Padi, Subang, Senin (11/12).

Launching dilakukan Kepala Badan Litbang Pertanian, Kementan, Muhammad Syakir.

Launching ini bersamaan dengan kegiatan Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian Padi.

Nur Alam menegaskan mesin ini juga mempunyai keunggulan dibandingkan tipe walking yaitu mudah dalam pengoperasian dan kapasitas kerja lebih besar.

“Karena itu cocok untuk kondisi saat ini dimana mencari SDM pertanian yang semakin langka,” tegasnya.

Mesin pertanian lainnya yang diluncurkan adalah mesin pengolahan tanah menggunakan farming bulldozer tipe D21PL-8.

Mesin ini hasil program kerjasama BBP Mektan dengan Komatsu. Keunggulanya yakni mampu melakukan pembajakan pada kondisi lahan sawah kering setelah panen, sehingga mempercepat waktu pengolahan tanah, dari semula 14 hari olah tanah dengan menggunakan hand traktor menjadi hanya 3 hari hingga lahan siap tanam.

“Selain mempercepat waktu pengolahan tanah, farming bulldozer juga menghemat penggunaan air,” beber Nur Alam.

Melalui Gelar Inovasi Teknologi yang diselenggarakan di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi ini, diharapkan bisa terjadi alih informasi dan teknologi kepada petani/penangkar.

Begitu juga kepada peneliti/pemerhati pertanian padi sehingga mampu memberikan manfaat kepada semua pihak.

“Dengan demikian hal ini tentunya akan menunjang kesuksesan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045,” pungkas Nur Alam.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Berkat Bantuan Mentan, Pemuda Ini jadi Jutawan


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Kementan  

Terpopuler