Keren! Menpar Arief Yahya Acungkan Jempol untuk AP I

Jumat, 09 September 2016 – 09:49 WIB
Menteri Pariwisata Arief Yahya. Foto: dokumen JPNN.Com

jpnn.com - JAKARTA – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya tiga kali memberi acungan jempol pada manajemen Angkasa Pura I (AP I) yang membawahi bandara-bandara di Indonesia tengah dan timur. Pasalnya, BUMN yang kini dipimpin Sulistyo Wimbo S. Hardjito itu rupanya sudah menyisipkan variabel tourism dalam mendesain airport dan membangun komunitasnya.

Salah satu contohnya adalah Bandara Ngurah Rai di Bali yang berada di bawah pengelolaan AP I. Namun, bandara-bandara lain yang dikelola AP I pun kental dengan nuansa pariwisata.

BACA JUGA: Pengusaha Truk Lawan Kemenhub, Pilih Ditilang daripada Tidak Narik

Karena itu Menpar Arief Yahya memuji AP I yang sangat concern terhadap siapa saja yang menjadi pelanggannya. “Keren!  Presentasinya sangat marketing,” kata Arief di kantor AP I Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (7/9).

Menurutnya, AP I mampu memberi kesan pertama yang sangat mendalam kepada wisatawan mancanegara (wisman) yang baru saja mendarat. Sebab, AP I benar-benar menampilkan wajah Indonesia di setiap bandara yang dikelolanya.
 
“Bandara itu menjadi wajah Indonesia. Di bandaralah first impression bagi wisman itu didapat, begitu mendarat ke tanah air. AP I merias muka dengan menciptakan atmosfer yang kaya sentuhan destinasi,” kata Arief.

BACA JUGA: Mandiri Salurkan KUR Rp 7,14 Triliun, BRI Rp 45 Triliun

Menpar Arief Yahya mencatat ada program berkelanjutan bernama Collaborative Destination Development (CDD) di hampir semua bandara. Nuansanya sudah mempromosikan Wonderful Indonesia di banyak lokasi. Cara memopulerkan bandara adalah dengan mengeksplorasi destinasi yang berada di kawasan tersebut.

“Dan itu benar, tourism itu nomor satu, disusul dengan trade dan investment disingkat TTI. Tourism dulu, baru orang bisa trading, lalu ujungnya berani investment,” kata Arif.

BACA JUGA: Telkom Bangun Kabel Optik Menuju Eropa Barat

Ia lantas mencontohkan Bandara  Sam Ratulangi yang pada 27 Agustus 2016 juga ada program CDD. Lalu dilanjut dengan lomba lari dengan tittle: Airport Running Series Manado pada 19 Maret 2016.

Hal sama juga dilakukan AP I di Solo. Diawali dengan focus group discussion (FGD) bersama para stakeholder di Bandara Adi Sumarmo pada 20 Desember 2005. Juga di Lombok Mataram, pada 10 Desember 2015, dilanjutkan dengan Mataram Airport Running Series.

AP I juga men-support Jazz Bromo 19-20 Agustus 2016 dan Summer Jazz Ijen Banyuwangi 30 Juli, 10 September dan 22 Oktober 2016. “Sentuhannya sangat pariwisata, terima kasih,” ucap Arief.

Menteri asal Banyuwangi itu juga memuji semangat AP-1 menyiapkan booth di bandara khusus Tourism Information Center (TIC). Tempat menaruh brosur, tempat bertanya pada petugas tentang pariwisata di booth TIC itu.

Booth TIC sudah ada di banyak bandara di bawah AP I. Yakni I Gusti Ngurah Rai Airport Bali, Juanda Airport Surabaya, Sam Ratulangi Airport Manado, Sultan Hasanuddin Airport Makassar, El Tari Airport Kupang, Adi Sucipto Airport Jogjakarta, Bandara International Lombok, Pattimura Airport Ambon, SAMS Sepinggan Airport Balikpapan, serta Syamsuddin Noor Airport Banjarmasin.

“Mereka juga menggelar pemilihan Putri Bandara, lalu dikarantina untuk memberi bekal ilmu tourism. Lalu tugasnya stay di TIC di Bandara. Ini luar biasa keren!” puji Arief yang juga penulis buku Paradox Marketing dan Great Spirit Grand Strategy itu.

Arief juga melontarkan pujian untuk AP I karena membangun bandara dan terminal baru berkapasitas besar, seperti di Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Banjarmasin sebagai antisipasi hingga puluhan tahun ke depan. Dia mencontohkan Manado yang bakal menjadi hub di Indonesia utara.

“Kalau mau membangun, pastikan untuk kepentingan minimal 50 tahun ke depan. Jangan nanggung dan kerja dua kali,” katanya.

Arief juga menyampaikan usulan ke AP I itu persis dengan tiga poin yang disampaikannya ke Direksi AP II di Cengkareng. Pertama adalah working hour atau jam kerja bandara harus 24 jam. Saran itu sudah dilaksanakan mulai 13 Agustus 2016, atau sebulan yang lalu.

Menpar Arief ingin memastikan bahwa usulannya itu dijalankan dengan baik. “Alhamdulillah, sudah dijalankan dan konsisten di Manado, karena di ibu kota Sulut itu akan dibangun sebagai hub Indonesia utara,” katanya.

Kedua adalah melakukan deregulasi terhadap segala peraturan yang tumpang tindih dan tidak populer. Perlu ada inventarisasi atas berbagai hal yang membuat bisnis tersendat, sekaligus mencari solusinya.

“Ujungnya, kami ingin ada wisman 20 juta di 2019! Hasil yang luar biasa, tidak mungkin ditempuh dengan cara biasa! Pasti harus dilakukan dengan cara yang luar biasa!” sebutnya.

Ketiga, dalam mendesain pengembangan bandara harus memperhitungkan kapasitas untuk 50 tahun ke depan atau long term capacity. Termasuk di mempertimbangkan penggunaan informasi teknologi (IT) agar efisien, tidak banyak kebocoran dan lebih optimal. “Tempo hari Presiden Joko Widodo juga sudah memuji pertumbuhan wisman di Manado dari China naik 1000 persen, dan beliau akan berkunjung ke Manado,” kata dia.

Direktur Utama Sulistyo Wimbo S. Hardjito menjelaskan, pihaknya sudah merealisasikan pengoperasian bandara selama 24 jam di Manado. Hasilnya cukup bagus.

Dia berencana menambah jam operasi di Bandara Adi Sucipto Jogjakarta yang memang sudah overload. “Kami mengelola bandara itu customize, sesuai keinginan customers,” sebut Wimbo, panggilan akrab Sulistyo Wimbo S. Hardjito.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Yakinlah, Pemerintahan Jokowi Mampu Capai Target Pertumbuhan Ekonomi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler