Kiprah Yeni Dewi Mulyaningsih, Pendiri Komunitas Relawan Pasien Kanker

Tak Ingin Nasib Anak-Anak Itu seperti Buah Hatinya

Kamis, 16 Oktober 2014 – 19:50 WIB
HIBUR PASIEN: Yeni Dewi Mulyaningsih (kanan) bersama para relawan Komunitas Taufan dan anak-anak pasien kanker. Dokumentasi Komunitas Taufan)

jpnn.com - Sore itu (8/10), pukul 16.15 WIB, matahari masih bersinar terang di langit Jakarta. Beberapa larik sinarnya menerobos masuk ke lorong-lorong koridor Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), seolah hendak mencerahkan suasana lorong yang lesu dan menceriakan suasana hati para penghuninya.

Di bagian belakang kompleks RS yang berdiri sejak 19 November 1919 itu, terdapat bangsal anak di gedung A. Ruang tunggunya yang berbentuk bulat berdiameter 5 meter kental dengan nuansa arsitektur bergaya Eropa. Saat itu Yeni Dewi Mulyaningsih, pendiri Komunitas Taufan, sedang berdiskusi dengan tiga temannya yang menjadi relawan di komunitas pendamping anak-anak penderita kanker tersebut. Mereka adalah Andriana, Wibowo, dan Irine.

BACA JUGA: Menikmati Pesona Teluk Kiluan di Lampung

Sore itu mereka hendak melakukan aktivitas yang mereka namai bangsal visite. Kunjungan ke bangsal yang khusus merawat pasien kanker dan penyakit berisiko tersebut dilakukan rutin dua kali seminggu, setiap Rabu dan Sabtu. ”Dulu saya selalu berurai air mata tiap kali datang ke sini,” kata Yanie, panggilan Yeni Dewi Mulyaningsih, ketika ditemuiJawa Pos di sela-sela visite di RSCM Rabu pekan lalu.

Lorong, dinding, hingga sudut-sudut ruangan bangsal anak itu memang selalu membangkitkan kenangan Yanie atas putranya, Muhammad Taufan. Suara celoteh, rintihan, hingga tangis anak-anak seolah menariknya kembali ke masa lalu, saat dia enam bulan menemani buah hatinya itu menjalani rawat inap. Lalu 1,5 tahun berikutnya bolak-balik dari rumah ke RS setiap pekan sekali untuk menjalani rawat jalan.

BACA JUGA: Dewi Sulastri, Kecintaannya terhadap Seni Tradisional

Pada 2011 Taufan divonis terkena leukemia atau kanker darah. Alangkah kaget Yanie dan keluarganya. Apalagi, saat itu Yanie tengah mengandung si bungsu. Saat kandungannya makin berat dan beberapa kali mengalami pendarahan, dia tetap setia mendampingi putra keempatnya itu di RS. Yanie tak tega melihat anaknya merasakan penderitaan sendirian. Apalagi ketika putranya menangis kesakitan lantaran bola matanya yang terus membesar.

”Rasanya campur aduk tidak keruan. Itu periode ujian luar biasa dalam hidup saya,” ungkap perempuan kelahiran Bandung, 5 Maret 1977, tersebut.

BACA JUGA: Menelusuri Korea Selatan, Negara Pusat Bedah Plastik

Dua tahun lebih Taufan berjuang melawan ganasnya kanker darah. Hingga saat ulang tahun yang ketujuh pada akhir April 2013, jagoan kecil yang masih menjalani kemoterapi itu jatuh, tidak sadarkan diri, lalu meninggal sepekan kemudian di RSCM.

Dua bulan berlalu, Yanie masih belum bisa merelakan kepergian Taufan. Hidupnya serasa hampa. Dari rumahnya di Bekasi, dia masih sering bertandang ke RSCM, mengunjungi bangsal anak untuk sekadar mengurai air mata dan menyemai kembali kenangan-kenangan manis bersama putranya. Simpati dari para dokter, perawat, dan para orang tua pasien lain seakan tak mampu mengobati duka laranya.

Tapi, lama-lama Yanie akhirnya bisa mengikhlaskan kepergian putranya itu. Rasa ikhlas tersebut lalu tumbuh menjadi empati. Di bangsal anak RSCM ada delapan kamar berukuran sekitar 8 x 6 meter, masing-masing memiliki enam tempat tidur dan satu kamar mandi. Kamar-kamar itu hampir selalu penuh dengan 52 anak yang sebagian besar pasien kanker. Di luar itu, masih ada ratusan anak pasien kanker lainnya yang menjalani rawat jalan dan berkunjung ke poli setiap minggu.

Anak-anak tersebut tengah berjuang melawan kanker, persis seperti putranya dahulu. Lalu, ada orang tua, sebagian besar ibu-ibu, yang juga menghabiskan waktunya untuk merawat putra-putri mereka, persis seperti yang dia lakukan dahulu. Rasa bingung, putus asa, marah, dan lelah tak henti mendera para orang tua itu. ”Dari situ saya bertekad untuk membantu pasien dan orang tuanya,” ucap Yanie, ”membantu apa saja yang saya bisa.”

Yanie sudah melalui tahapan itu sehingga dia tahu betul apa yang dibutuhkan pasien dan orang tuanya. Sistem jaminan kesehatan masyarakat diakuinya sangat membantu orang tua pasien karena menanggung hampir semua biaya pengobatan dan perawatan. Namun, di luar itu, masih banyak kebutuhan lain yang luput dari perhatian.

Misalnya kebutuhan seperti susu, diapers atau popok, tisu basah, perlengkapan mandi, boneka atau mainan anak, buku tulis, buku gambar, buku dongeng/cerita, biaya makan orang tua yang menunggui anaknya di RS, hingga biaya transportasi dan kursi roda untuk pasien rawat jalan. Semua itu tidak termasuk dalam biaya-biaya yang ditanggung pemerintah. ”Padahal, itu kebutuhan penting yang harus dipenuhi,” tutur Yanie.

Berbekal dukungan keluarga, teman, dan beberapa lembaga nirlaba seperti Count Me In, Yanie mulai aktif membantu para pasien dan keluarganya. Aksi simpatiknya lantas beredar dari mulut ke mulut hingga banyak orang yang ikut menjadi donatur dan relawan. Saat itulah tercetus nama Komunitas Taufan yang merujuk pada nama almarhum putranya.

Tak hanya membagi-bagikan kebutuhan dasar pasien, Yanie dan relawan Komunitas Taufan juga menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan pasien dan keluarga. Dalam kegiatan bangsal visite itu, ada yang membacakan buku dongeng, bernyanyi bersama, melawak dengan pakaian badut, main sulap, atau sekadar mendengar keluh kesah orang tua pasien. ”Istilahnya, pasien butuh hiburan, orang tua pasien butuh pundak untuk bersandar,” katanya.

Yanie menyebutkan, perjuangan para orang tua pasien juga tak kalah hebatnya. Jika anaknya adalah pasien yang butuh pendampingan 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, para orang tua juga harus tinggal di RS. Tidur di lantai beralas tikar atau kasur tipis, dia harus selalu fokus agar tidak lupa mencatat berapa kali dan berapa banyak putra/putrinya buang air kecil dan buang air besar. Termasuk mencatat jenis makanan/minuman serta berapa banyak yang dikonsumsi.

Yanie menceritakan, interaksi intens membuat para orang tua pasien sudah seperti keluarga sendiri. Untuk meredakan ketegangan dan tekanan batin, tak jarang mereka saling bercanda. ”Kalau anaknya sudah bertahun-tahun (menjalani pengobatan kanker di RSCM, Red), kami memanggilnya profesor. Kalau baru beberapa bulan, kami memanggilnya pak atau bu lurah. Kami kadang bercanda dan tertawa di siang hari. Tapi, di malam hari, yang terdengar adalah suara isak tangis (para orang tua),” kisahnya lantas menarik napas panjang.

Aktivitas Yanie di bangsal anak RSCM membuat dokter, perawat, pasien, dan keluarga pasien familier. Mereka pun memanggilnya dengan sebutan Mama Taufan. Saat kegiatan bangsal visite Rabu pekan lalu, Yanie berkeliling dari satu kamar ke kamar lain. ”Halo Bro, gimana kabarnya? Tambah cakep aja nih,” ujarnya renyah menyapa Wardi, pasien asal Bogor.

Yanie lantas melakukan tos dengan bocah kecil itu. ”Iya dong, tambah ganteng,” jawab Wardi lalu tertawa sambil mengelus kepalanya yang plontos. Kemoterapi membuat rambut pasien rontok. Yanie dan Wardi lantas bercengkerama begitu akrab, bagai ibu dan anak sendiri.

Wardi adalah pasien yang baru saja menginjak usia 17 tahun. Dia masih berada di kamar anak karena sejak setahun lalu menjalani program kemoterapi untuk melawan kanker pada jaringan lunak, penyakit langka yang disebut synovial sarcoma. Benjolan sebesar genggaman tangan orang dewasa tampak di paha kirinya.

”Dulu ini bengkaknya sebesar bola voli. Sekarang sudah dioperasi, tapi karena ada sel kanker yang tertinggal, jadi tumbuh lagi benjolannya. Ini sekarang beratnya mungkin sekitar 1 kilogram,” ujarnya sambil mengusap-usap benjolan di pahanya. Kanker ganas yang beberapa kali hampir merenggut nyawanya itu seolah tak mampu merampas senyum yang terus tersungging di wajah Wardi.

Wardi memang tipe remaja yang ceria. Dengan bangga dia lalu menceritakan baru saja lulus SMA dengan nilai memuaskan. Meskipun berbulan-bulan tidak masuk sekolah karena harus menjalani perawatan.

Wardi lantas bercerita tentang bagaimana Yanie dan Komunitas Taufan membantu para pasien, mulai menyediakan perlengkapan hidup sehari-hari, mengajari bagaimana merawat pasien, membantu mengurus surat-surat untuk keperluan jaminan pembayaran di RS, hingga mengajari untuk aktif meminta nomor handphone dokter dan segera berkonsultasi jika terjadi apa-apa di rumah. ”Dia mah pokoknya begini,” kata Wardi menunjuk Yanie yang sedang menyapa pasien lain, lalu tangan kurusnya mengacungkan dua jempol tanda salut.

Di kamar lain, Yanie menghampiri seorang gadis kecil, bola mata kanannya membesar, menatap kosong ke langit-langit. Yanie membetulkan kaki kecilnya yang menjuntai dari tempat tidur, mengusap-usap kepalanya, dan membisikkan beberapa kata di telinganya. Gadis kecil itu meresponsnya dengan senyuman tipis, lalu tatapannya kembali kosong.

Nenek si gadis kecil berdiri mematung di sisi tempat tidur. Melihat cucu kesayangannya tergolek lemah tak berdaya, bibirnya terkatup menahan tangis, matanya tampak sembap dan berkaca-kaca. ”Oma harus kuat, harus tetap semangat ya,” tutur Yanie sambil menepuk-nepuk bahu si nenek yang mengangguk-angguk sambil menyeka air matanya.

Sore itu Yanie dan tiga relawan Komunitas Taufan menyapa lebih dari 20 pasien. Jumlah relawan yang ikut bangsal visite memang dibatasi agar tidak mengganggu pasien. Andriana, salah seorang relawan, mengatakan bahwa Komunitas Taufan juga sering menyambangi rumah pasien, terutama yang tengah menjalani proses rawat jalan.

Andriana membeberkan, banyak orang tua pasien kanker yang memutus program perawatan dengan berbagai alasan. Mulai tidak ada biaya transportasi ke RS, pindah ke pengobatan alternatif, pergi ke orang pintar atau paranormal, hingga putus asa karena sudah bertahun-tahun anaknya tidak kunjung sembuh.

”Kalau alasannya tidak ada biaya, kita bantu transportasinya. Kalau alasannya putus asa, kita bantu menyemangatinya. Alhamdulillah, sebagian pasien lantas melanjutkan proses pengobatan,” ungkapnya.

Pada momen-momen tertentu, Komunitas Taufan juga menyelenggarakan acara besar. Pernah suatu kali Yanie bersama para relawan mengumpulkan hingga 3 ribu boneka untuk anak-anak pasien kanker. Pernah pula mereka mengajak anak-anak pasien kanker pergi bermain ke Kidzania atau ke Sea World di Taman Impian Jaya Ancol.

Hingga saat ini Yanie dan Komunitas Taufan sudah mendampingi dan membantu lebih dari 200 anak-anak dan keluarga pasien kanker serta penyakit berisiko lainnya. Umur memang ada di tangan Tuhan. Tapi, harapan, semangat, dan keceriaan bisa muncul dari tangan Yanie dan para relawan. Di mata anak-anak hebat yang tengah berjuang melawan ganasnya kanker itu, para relawan adalah pahlawan. (Ahmad Baidhowi/c9/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bayu Santoso, Mahasiswa ISI Jogja Pemenang Desain Kover Album Terbaru Maroon 5


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler