Kisah Perjuangan Manggala Agni 3 : Kumandangkan Adzan Saat Dikepung Api

Senin, 11 Maret 2019 – 09:00 WIB
Manggala Agni lebih banyak tinggal dalam hutan. Foto: Ist

jpnn.com, DUMAI - Para anggota Manggala Agni Daops Dumai yang berjaga di Rupat, tepatnya di Desa Terkul, tetap penuh semangat meski telah bekerja nyaris seharian di garda terdepan.

Malam semakin dingin, aroma lahan terbakar dan asap semakin menyengat.

BACA JUGA: Menjaga Benteng Terakhir Jilatan Kepala Api

Sambil beristirahat, cerita-cerita mengenai pengalaman memadamkan titik api Karhutla mulai mengalir.

BACA JUGA : Kisah Perjuangan Manggala Agni I: Tak Lelah Mendinginkan Bara Api di Bawah Kaki

BACA JUGA: Menteri LHK Soroti Penataan Pemukiman Masyarakat di Kawasan Hutan

 

Azmi (40) berbagi kisah, ketika dirinya dan rekan-rekan Manggala Agni pernah terkepung titik api hebat, saat karhutla tahun 2010 silam.

BACA JUGA: Kisah Perjuangan Manggala Agni I: Tak Lelah Mendinginkan Bara Api di Bawah Kaki

Saat itu Azmi dan rekan-rekannya sedang memadamkan api di Medang Kampai, Dumai. Mereka berusaha memadamkan titik api yang sedang menuju pondok-pondok kayu yang ditinggali warga. Ada Ibu-ibu, dan anak-anak juga. Mereka memang tinggal di lahan tersebut untuk berkebun.

''Mereka sudah berteriak minta tolong, dan Alhamdulillah berhasil kita selamatkan. Namun tak lama kemudian, kami dapat kabar kalau api berputar ke arah barak tempat kami tinggal,'' kata Azmi.

Faktor angin telah membuat api begitu cepat berubah arah. Membakar apa saja yang menghadangnya, mulai dari ilalang, rerumputan, hingga pepohonan. Jarak dari barak hanya tinggal 1,5-2 Km.

BACA JUGA : Menjaga Benteng Terakhir Jilatan Kepala Api

Azmi dan kawan-kawannya mulai panik. Karena di dalam barak, ada peralatan dan logistik mereka. Sekuat tenaga dengan sisa tenaga, mereka lantas memblokade jilatan api yang sedang menuju barak.

''Tim yang bertugas menyelamatkan barak hanya 6 orang, saya yang paling depan menghadang api dengan memegang kepala selang,'' kata Azmi yang sudah menjadi Manggala Agni sejak tahun 2002 ini.

Dengan hanya mengandalkan satu selang, Azmi dan kawan-kawan hanya bisa pasrah saat melihat besarnya lidah api. Saat itu di belakangnya, tak jauh dari barak, Azmi melihat ada kanal kecil.

''Saya terus memandang ke arah api yang datang, lalu mandang ke belakang. Mandang ke depan, lalu mandang lagi ke belakang. Pokoknya kalau api tak bisa dihadang, kami harus lompat ke dalam kanal, dan hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi. Bisa dipastikan kami akan terbakar,'' kata Azmi.

Api terus menjadi-jadi menderu ke arah mereka. Seketika Azmi yang sudah dipenuhi dengan kepasrahan, sekaligus ketakutan, mengambil air wudhu dari selang pemadamnya. Iapun lantas berdiri ke arah jilatan api dan mengumandangkan Adzan.

''SubhanAllah, tak sampai 5 menit api berbelok. Warga selamat, barak selamat, dan seluruh anggota juga selamat, Alhamdulillah,'' kata Azmi penuh syukur.

Beratnya lokasi titik api di lokasi yang dekat dengan rumah atau pondok warga, juga menyisakan kisah pilu.

Diceritakan Fauzi (41), kenangan pahit mereka saat memadamkan api di lahan masyarakat yang berada di simpang pemburu, Kec. Tanah Putih, Rohil, tahun 2014 silam.

Saat itu di lokasi tersebut awalnya tidak ada titik api. Seluruh tim Manggala Agni sedang berjibaku memadamkan lahan terbakar di Simpang Batang.

Api di lokasi ini sudah membara dan membakar apa saja di sekitar mereka. Ditambah faktor angin, membuat jalan tanah yang dilewati kendaraan merekapun dikelilingi api.

''Kami sampai harus menyiram-nyiram kendaraan, khawatir kalau sampai terbakar saat lewat,'' kata Fauzi.

Meski bagai melewati kepungan api, Fauzi dan rekan-rekannya tetap ke lokasi utama titik api, karena di dalam kebun ada beberapa pondok kayu yang dihuni banyak warga, termasuk perempuan dan anak-anak.

''Itulah yang coba kami selamatkan. Karena memikirkan nyawa warga di dalam kebun,'' kata Fauzi.

Mereka berjibaku memadamkan titik api hingga sore hari. Saat pulang, mereka baru dapat kabar kalau ada lokasi lahan terbakar lainnya di Simpang Pemburu.

Namun, saat itu mereka tak bisa mengantisipasi titik api yang sudah terlanjur membesar.

''Ada suami istri yang lemas karena asap, lemas, dan meninggal. Kami semua merasa sedih dan bagi saya, rasanya sulit memaafkan diri sendiri,'' kata Fauzi mengenang dengan nada tertahan. Terlihat sekali kejadian itu sangat membekas di hatinya.

Dia dan rekan-rekannya saling menguatkan. Bagaimanapun mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.

Terlebih lagi, saat kejadian mereka juga sedang berjuang menyelamatkan empat Kepala Keluarga (KK) yang terkepung api di lokasi lainnya.

Saat tak ada titik api, merekapun melakukan sosialisasi mengajak sekaligus mengingatkan masyarakat untuk benar-benar menjaga hutan, lahan dan lingkungan sekitar.

Fauzi mengatakan hampir 98 persen penyebab karhutla adalah faktor kesengajaan manusia. Ada yang sengaja bakar untuk kebun, ada yang buang puntung rokok saat mancing, dan lainya.

''Inilah yang terus kami sosialisasikan ke masyarakat, untuk sama-sama menjaga,'' katanya.

*Patroli Malam*

Jelang jam 23.00 WIB, Wadanru Syafrudin mengumpulkan anggotanya. Meski hari sudah akan berganti pagi, para anggota Manggala Agni yang nginap di garda terdepan ini, ternyata tak bisa langsung istirahat. Bagi yang piket, mereka harus melakukan patroli rutin.

Patroli ini dilakukan rutin selama 1-2 jam untuk mengecek kembali apakah ada titik-titik asap, atau bahkan titik api baru.

Juga untuk mengecek bilamana ada warga melakukan aktivitas yang berpotensi untuk memunculkan titik api baru.

''Desa Terkul ini adalah benteng terakhir kita. Kalau sampai api lompat, kasihan masyarakat karena dekat dengan pemukiman mereka. Jadi tolong lakukan patroli dengan sebaik-baiknya. Bilamana ada temuan lapangan, segera laporkan ke barak,'' perintah Syafrudin.

Malam itu patroli dipimpin Fauzi, dengan menggunakan tiga sepeda motor. Mereka mengeliling perbatasan antardesa, dan bagian pinggir dari lokasi-lokasi bekas terbakar.

Pada titik tertentu, mereka berjalan kaki menuju area yang lebih jauh ke dalam. Suasana begitu gelap, dan hanya mengandalkan senter di kepala.

Berjalan harus dengan sangat hati-hati, karena bisa saja yang diinjak adalah gambut yang masih terbakar, atau bahkan lumpur dari aliran kanal.

Hasil dari patroli jalan kaki, Fauzi dan rekan-rekannya menemukan titik asap. Terlihat asap mengepul dari dalam tanah. Dengan cara manual, mereka menggali tanah dan membalikkan tanah bagian bawah ke atas.

''Ini cara kita mematikan api di lahan gambut yang bercampur tanah. Karena yang dimakan (api) bukan di atas, tapi makan dalam,'' kata Fauzi.

Setelah menggunakan cara manual dengan tangan, rekan Fauzi lantas mengambil pelepah kelapa, dan membasahinya dengan air kanal.

Lantas pelepah itu diletakkan di atas tanah yang berasap. Mereka kemudian menandai lokasi tersebut dengan kayu.

''Titik asap begini adalah bom waktu bagi kami, karena berpotensi menjadi titik api. Karenanya besok pagi-pagi perlu dilakukan pemadaman di sini. Karena jika tidak ditangani, api akan terus membakar di bawah gambut,'' kata Fauzi.

Hari berganti. Pagi sudah tiba. Menjelang pukul 01.00 WIB, tim patroli baru kembali tiba di barak. Beberapa anggota Manggala Agni ada yang sudah terlelap tidur, dan ada yang berjaga-jaga.

Bagi mereka segala sesuatu yang bisa memunculkan titik api harus diwaspadai selama 24 jam tanpa henti.*(BERSAMBUNG)*

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menteri LHK Dorong Peran Perguruan Tinggi Dalam Arah Pembangunan LHK


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler