Kisah Sedih, Bocah Usia Dua Tahun Diguyur Ayahnya di Toilet SPBU, Tewas

Jumat, 01 Mei 2015 – 05:57 WIB
Rudi Nyoto (kanan) ayah korban. Foto: Jawa Pos Radar Blitar

jpnn.com - BLITAR – Edwin Daniel, bocah berusia dua tahun warga Kelurahan Srengat, Kecamatan Srengat, meninggal karena kelalaian ayahnya, Rudi Nyoto.

Korban jatuh ke sungai setelah lompat dari motor yang dikendarai ayahnya. Bukannya membawa anak bungsunya itu ke rumah sakit, si ayah malah memandikannya di toilet SPBU. Korban pun lantas muntah-muntah lalu meninggal.

BACA JUGA: Tiga Aturan Tentang Aceh Segera Diberlakukan

Ceritanya, korban pergi bersama Rudi serta kakaknya, Olivia Chandra, yang masih berusia 4,5 tahun dan neneknya, Rianty. Setelah mengunjungi sebuah bank di Srengat, empat orang yang naik satu sepeda motor tersebut menuju sungai di Desa Togogan untuk memancing.

Sesampainya di sungai itu, karena jalannya sempit, Rudi meminta Rianty dan Olivia turun dan jalan kaki. Sementara itu, korban tetap berada di motor bersama Rudi.

BACA JUGA: Enam Perusahaan Miras Kolaps, Dibuat Mati Pelan-Pelan

’’Korban berada di depan, sedangkan Rudi menyetir,’’ ungkap Kompol Suseno Warih Adi, Kapolsek Srengat. Namun, korban tiba-tiba saja berontak minta turun. Tetapi, Rudi tidak mengacuhkannya.

Entah bagaimana, korban terjun ke sungai sedalam 2 meter tersebut. Bukannya menolong, pria 41 tahun itu meneruskan perjalanan, baru berteriak meminta tolong. Korban pun terseret hingga 100 meter dan akhirnya ditolong warga setempat.

BACA JUGA: Duh... Sidang Penyelewengan Solar Ini Ditunda Sebanyak Lima Kali, Ada Apa?

’’Saat itu korban beralasan tidak bisa berenang sehingga memilih mencari bantuan,’’ jelasnya. Setelah korban berhasil diselamatkan, Rudi tidak membawanya ke rumah sakit. Mereka melanjutkan perjalanan. Tetapi, sebelum sampai rumah, Rudi mampir ke SPBU Srengat dengan maksud ingin membersihkan tubuh korban. ’’Sebab, tubuhnya kotor penuh pasir dan lumpur,’’ ucapnya.

Saat Rudi dan korban berada di toilet SPBU, Rianty bersama Olivia pulang untuk mengambil pakaian dengan naik becak. Menurut pengakuan Rudi, saat berada di dalam toilet, dia memandikan korban dengan mengguyurkan air sebanyak belasan kali. ’’Tidak disangka, setelah dimandikan, korban malah muntah dan tidak sadarkan diri,’’ katanya.

Mengetahui anak keduanya muntah dan tidak sadar, Rudi langsung bergegas menuju Puskesmas Srengat di depan SPBU. Tetapi, pihak puskesmas tidak sanggup menangani sehingga kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Anak Amanda Srengat yang tidak jauh dari puskesmas tersebut. Namun, nyawa balita berusia dua tahun itu sudah tidak tertolong. ’’Diduga, korban meninggal sebelum tiba di rumah sakit,’’ tuturnya.

Sampai saat ini, pihaknya masih belum bisa memastikan penyebab meninggalnya korban. Sebab, keluarga menolak jasad korban diotopsi. Hanya saja, berdasar pemeriksaan luar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Namun, pihaknya tetap memeriksa saksi dan orang tua korban. ’’Kami belum bisa memastikan adanya unsur kesengajaan dan kelalaian yang mengakibatkan korban meninggal. Kami masih mendalami kasus ini,’’ ungkapnya.

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Blitar, sempat ada keributan kecil antara Rudi dan Rianty ketika berada di depan SPBU Srengat. Tidak berselang lama, Rudi kemudian membopong korban menuju toilet SPBU dan Rianty pergi ke arah barat dengan menaiki becak. ’’Saat dibopong menuju toilet, korban sempat menangis,’’ kata M. Ari, salah seorang karyawan SPBU.

Menurut dia, Rudi dan korban berada di toilet lumayan lama, yakni sekitar 15 menit. Setelah itu, keduanya keluar dari toilet. Namun, saat keluar itu, dia melihat korban sudah tidak bergerak dan tidak bernapas. Dia menduga saat itu korban sudah tewas.

’’Saat dibopong, korban masih mengenakan pakaian yang basah dan tubuh korban tidak bergerak sama sekali. Padahal, sebelum masuk toilet, korban sempat menangis,’’ jelasnya.

Sementara itu, Rudi mengaku menyesal telah memandikan anak keduanya tersebut dengan mengguyurkan air di toilet SPBU Srengat. Dia berdalih sengaja mengguyur air karena tubuh anaknya tersebut sangat kotor. ’’Saya hanya bermaksud membersihkan tubuhnya yang penuh pasir dan lumpur,’’ terangnya. Dia takut dimarahi keluarga jika korban ketahuan jatuh ke sungai.

’’Yang jelas, saya takut dimarahin. Makanya, saya ingin menutupi peristiwa itu dengan membersihkan tubuhnya. Sementara itu, saya suruh Rianty mengambil pakaiannya,’’ ucapnya. Dia juga menyesal mengguyurkan sangat banyak air ke tubuh anaknya tersebut. ’’Saat di toilet, anak saya posisinya duduk di toilet dan muntah air berbusa,’’ katanya.

Menurut dia, dirinya tidak hanya sekali mengajak anaknya ke sungai itu. Dia dan anaknya sudah biasa diajak memancing ke sungai di Desa Togogan. Hanya saja, dia baru sekali melintas di dam tersebut.

’’Baru kali pertama saya melintas di dam itu. Sebab, saya ingin memancing di sisi selatan dam,’’ ujarnya. (ful/ziz/JPNN/c20/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Prostitusi Online Berbasis Kos di Batam Transaksi Lewat BBM


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler