Korut Ikut Menebar Maut di Syria

Kamis, 01 Maret 2018 – 12:57 WIB
Kondisi perang di Syria. Foto: AFP

jpnn.com, DAMASKUS - Di tengah kemelut perang Syria, Korea Utara (Korut) melanggar sanksi Dewan Keamanan (DK) PBB. Selasa (27/2), New York Times melaporkan bahwa negara yang dipimpin Kim Jong-un itu mengirimkan barang-barang terlarang ke Syria.

Belakangan diketahui bahwa produk kiriman Korut tersebut digunakan untuk memproduksi senjata kimia.

BACA JUGA: Berkedok Relawan, Predator Cabul Memangsa Pengungsi Syria

”Kami menemukan bukti-bukti pelanggaran embargo senjata oleh DPRK (nama resmi Korut, Red) dalam investigasi 2010–2017,” terang Jubir Panel of Experts PBB kepada Associated Press.

Rencananya, panel tersebut memublikasikan temuan mereka terhadap pelanggaran Korut itu pada 16 Maret. Padahal, biasanya, panel tersebut tidak memublikasikan hasil penyelidikannya.

BACA JUGA: Gencatan Senjata Omong Kosong ala Rusia di Eastern Ghouta

Selain para pakar asal Amerika Serikat (AS), panel tersebut beranggota pakar-pakar dari berbagai negara lain. Tiap tahun, mereka menyusun dua laporan tentang Korut berdasar evaluasi dan pengamatan per semester.

Terkait dengan resolusi Korut, para pakar Negeri Paman Samlah yang menjadi pemimpin investigasi. Selasa (27/2) AS pula yang kali pertama buka suara tentang temuannya.

BACA JUGA: Kejam! Assad Bombardir Ghouta Timur dengan Gas Beracun

Panel PBB itu menyebut Corst Company sebagai perusahaan Korut yang terlibat langsung dalam transaksi ilegal dengan Syria. Corst kabarnya menjadi kepanjangan tangan Second Economic Committee untuk mengirimkan barang terlarang ke Syria.

Saat ini Second Economic Committee terkena sanksi PBB dan tidak boleh melakukan aktivitas perdagangan dengan pihak mana pun. The Guardian melaporkan bahwa Korut mengirimkan 40 jenis barang ke rezim Presiden Bashar al-Assad.

Di antaranya, keramik yang tahan terhadap larutan asam, keran, pipa, dan termometer. Keramik khusus itu konon bisa digunakan untuk melapisi area seluas 5.000 meter persegi.

”Keramik-keramik itu diangkut dengan 13 peti kemas.” Demikian bunyi laporan panel PBB.

Selain material untuk pabrik senjata kimia, Korut mengirimkan rudal balistik plus teknisinya ke Syria. ”Itu melanggar sanksi,” tegas seorang diplomat PBB asal AS.

Reuters menyatakan bahwa senjata, rudal balistik, dan peralatan yang terkait dengan dua benda itu termasuk dalam daftar 40 barang terlarang yang Korut kirimkan ke Syria. Pengiriman tersebut berlangsung pada 2012 sampai 2017.

Dalam laporan setebal 200 halaman itu, panel PBB juga menyebut bahwa rezim Assad menggunakan senjata kimia dalam aksi udaranya di Eastern Ghouta.

White Helmets menduga senjata kimia yang ditembakkan dari jet militer dan mengakibatkan kematian seorang bocah tersebut adalah gas klorin.

Namun, Damaskus membantah tuduhan tersebut. Kini PBB menyelidiki laporan tentang gas klorin itu.

Hubungan Korut dan Syria memang terjalin sejak lama. Pada 2008, DK PBB pernah melaporkan temuan mereka soal transaksi ilegal dua negara. Ketika itu Ryonhap-2 Corporation, perusahaan Korut, terlibat dalam program rudal balistik Syria.

Yakni, program Maneuverable Reentry Vehicle (MARV) Scud D (MD). Namun, temuan itu telah ditindaklanjuti dengan resolusi dan sanksi.

Kini temuan baru panel PBB menunjukkan bahwa sanksi DK PBB tidak mampu membuat hubungan Korut dan Syria bubar. Dua negara itu tetap melanjutkan kerja sama di bidang senjata.

Pada Agustus 2016, Korut mengirimkan delegasi khusus yang mereka klaim sebagai pakar olahraga. Tapi, belakangan terbongkar bahwa delegasi itu adalah teknisi senjata. Bersama rombongan tersebut, Korut mengirimkan keran dan termometer.

Al Jazeera melaporkan, sampai sekarang pun para pakar senjata asal Korut itu masih bekerja di Syria.

”Mereka beraktivitas di fasilitas senjata kimia serta situs rudal Syria di Barzeh, Adra dan Hama,” kata seorang diplomat PBB yang telah membaca laporan panel para pakar tersebut. (hep/c25/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... DK PBB Sepakat, Ghouta Setop Jadi Neraka selama 30 Hari


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler