Krong-krong…Crong-crong, Lahirlah Musik Keroncong

Kamis, 08 September 2016 – 13:13 WIB
Koko Thole, satu di antara penggiat musik keroncong dalam sebuah acara. Foto: Wenri Wanhar/JPNN.com.

jpnn.com - SEJARAH musik keroncong bermula dari senandung rindu para pelaut akan daratan?

Laju-laju perahu laju…jiwa manis indung disayang…laaa…la la laaa la la la hoooo…

BACA JUGA: Yus Datuak Parpatiah Masih Ada dan Masih Berkarya

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

Pendapat umum menyatakan, musik keroncong lahir di Kampung Tugu, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara. Dan meski lahir di Jakarta, keroncong lebih berkembang di Jogja dan Solo. 

BACA JUGA: Luluhur Para Raja Jawa dari Semenanjung Melayu?

"Berdasarkan data 2009 sedikitnya ada 90-an grup keroncong di Jogjakarta, dan 120-an di Solo," tulis Victor Ganap dalam buku Krontjong Tooegoe.

Buku setebal 281 halaman yang diterbitkan Badan Penelitian ISI Yogyakarta itu mengulas awal kelahiran musik keroncong, perkembangannya hingga perbedaan cengkak-cengkok keroncong di berbagai daerah. Ganap yang mulai meneliti keroncong sejak 1998 ini meyakini keroncong lahir di Kampung Tugu, Jakarta.

BACA JUGA: Rupanya Begini Pergaulan Para Bandit di Masa Lalu

Jauh sebelum Victor Ganap, Bambang Roeseno telah lebih dahulu meneliti sejarah musik keroncong. Hanya saja, hasil penelitian tersebut belum sempat dibukukan lantaran si empunya karya “kena garis” menyusul peristiwa G30S 1965.

Meski sudah pindah kewarganegaraan, sesekali Bambang tetap berkunjung ke Tanah Air. Tempo hari, dalam sebuah kesempatan JPNN.com bermuka-muka dengan dia di Jakarta. 

Pria yang rambutnya sudah memutih tersebut memperlihatkan naskah hasil penelitiannya tentang sejarah musik keroncong.

Kelahiran musik keroncong, menurut dia, sangat dipengaruhi oleh kedatangan bangsa Portugis di Nusantara. 

"Pelaut-pelaut itu kerap memainkan alat musik di waktu senggang. Orang pribumi yang mendengarnya menyebut musik itu dengan nama krong-krong dan crong-crong, sesuai bunyi gitar dan ukulele,” begitu asumsi Bambang, yang di zaman revolusi belum selesai pernah dikirim Bung Karno belajar ke Jerman Timur melalui program Mahasiswa Ikatan Dinas (Mahid). 

"Pada abad 18, orang-orang mulai menyebut musik tersebut Keroncong Portugis," katanya.

Padahal, berdasarkan penelitian dia sendiri, orang Portugis tidak mengenal musik keroncong. 

“Di sana (Portugis--red) tidak ada musik keroncong. Di Portugis ada permainan musik tradisional fado, akan tetapi sangat berbeda dengan keroncong.”

Bambang termasuk orang yang meyakini bahwa keroncong lahir di Kampung Tugu, Jakarta. 

Regenerasi Mardijkers

Alkisah bermula ketika VOC menyerang Pulau Banda pada 1620-an. Laskar Portugis yang bertugas di pulau tersebut kabur memboyong serta istri-istri mereka pribumi Banda.

Dalam pelarian, kapalnya karam di sekitar pantai Cilincing, Batavia. Mereka ditangkap VOC. Kemudian dibebaskan dan diberi tanah di Kampung Tugu dengan syarat memeluk agama Protestan.

Serdadu pelaut dari pihak Portugis yang ditawan itu umumnya terdiri dari orang-orang Arab, India, Sri Langka, Benggalen, Malaka, Ambon dan lain sebagainya. 

Sedang orang-orang Portugis asli atau Portugis berkulit putih pada umumnya berhasil melarikan diri.

Karena kebanyakan tahanan tersebut berkulit hitam, penduduk setempat menjuluki mereka; Portugis hitam.

“Jika di antara para tahanan itu ada yang berkulit putih, mereka adalah orang-orang peranakan atau yang sebut metitzo,” tulis Bambang Roeseno.

Mereka menggunakan bahasa pasaran yang dimengerti semua pihak, yakni bahasa Melayu. Dan orang-orang inilah yang disebut-sebut pencetus musik keroncong.

Tempo hari, media ini bertandang ke kampung itu. Di sana, memang masih ada tradisi berkrong-krong dan bercrong-crong. 

“Waktu saya masih anak-anak kelompok keroncong di sini namanya Krontjong Poesaka Moresko Toegoe," kata Andre Juan Michiels, tokoh masyarakat setempat yang juga penggiat musik keroncong. 

Andre anak dari Arend Julinse Michiels, pemain Cello di grup Krontjong Poesaka Moresko. 

“Dulu kalau ayah dan kawan-kawannya main keroncong, suguhannya bukan kopi hitam. Tapi minuman Anggur Malaga. Katanya sih itu sakral," tutur generasi ke-10 kaum Tugu itu sembari melempar senyum dan mengerlingkan mata.

Nah, baru-baru ini ada kajian terbaru menyangkut sejarah musik keroncong. Meski belum final, kajian tersebut menengarai; sebelum tumbuh di Kampung Tugu dan bersemi di Jawa, keroncong lahir di laut.   

Asumsinya, pelaut-pelaut di kepulauan Indonesia sering menghibur diri dengan berpantun-pantun dan bersenandung saat berlayar.

Makanya keroncong itu musiknya selow-selow ceria. Serupa ungkapan kerinduan akan daratan dan tanah kelahiran. Liriknya ceplas-ceplos. Mirip karakter masyarakat pesisir yang terbuka dan dinamis. 

Apalagi, Malaga adalah minuman lama khas pelaut Selat Malaka yang dalam perkembangannya menyebar jadi minuman favorit di banyak tempat.  

Yang belakangan diulas ini baru asumsi sementara. Tentu butuh penelitian lebih jauh untuk mendalaminya. 

Alat Perjuangan

Terlepas dari asumsi itu, yang pasti di zaman perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia, musik keroncong jadi alat perjuangan.

"Tahun 1965, Bung Karno pernah menggelar diskusi soal keroncong di Istana Negara. Beberapa musisi seperti Waljinah hadir saat itu,” ungkap Bambang Roeseno.

Dalam diskusi itu dikedepankan bahwa Belanda begitu represif setelah peristiwa pemberontakan 1926-1927 meletus. 

Tak ada acara kumpul-kumpul yang luput dari pengawasan kompeni. Untuk mengakalinya, Bung Karno menggunakan keroncong sebagai tameng. 

“Di awal pendirian PNI 1927, Soekarno dan tokoh-tokoh pergerakan mengggelar pertunjukan keroncong di depan dan di belakang ada diskusi soal politik dan pergerakan." 

Laaa…la la laaa la la la hoooo…laju-laju perahu laju…jiwa manis indung disayang… (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jurus Golok Terbang ala Mat Depok


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler