Larung Buto, Ritual Tolak Balak Merapi

Rabu, 03 November 2010 – 07:23 WIB

MUNGKID-- Seniman yang tinggal di wilayah Gunung Merapi punya cara unik untuk meredam bahaya letusanButo (raksasa jahat) penghuni merapi yang diyakini sebagai pembawa bencana dilarung (dihanyutkan, red) di Sungai Blongkeng yang berhulu di Gunung Merapi dan berhilir di laut selatan dalam sebuah ritual.

Ritual bertajuk Sesaji Syukur Merapi ini dilakukan oleh Agus Merapi seniman sekaligus tokoh spiritual dari Kecamatan Srumbung

BACA JUGA: Trauma, 6 Pengungsi Tewas

Sebelum dilarung, Buto Merapi yang disimbulkan melalui sebuah lukisan di atas kanvas bergambar makhluk halus dan mengerikan itu, diadakan ritual terlebih dahulu


Dalam prosesi ritual, seluruh perangkat sesaji berupa makanan hasil bumi dan dupa disusun menghadap ke arah Gunung Merapi

BACA JUGA: Pengungsi Minta Bilik Asmara

Tujuh lukisan dipasang memutar di sekitaran sesaji itu
Diantaranya lukisan Mbah Marijan, Dewi Gadung Melati (dewi kesuburan), Buto Merapi, dan empat diantarnya lukisan berupa gunung merapi saat mengeluarkan lahar panas

BACA JUGA: Pasal Makar Perlu Direvisi

Semua lukisan merupakanb hasil karya Agus Merapi"Tujuh dalam bahasa jawa artinya pitu atau pitulungan (pertolongan, red)Jadi kita memohon kepada pembuat merapi untuk diberikan keselamatan dan kesejahteraan," kata Agus.

Setelah semua perangkat tertata, Agus mulai menjalankan aksinyaGerakan berupa tari-tarian dan penghormatan kepada Gunung Merapi satu persatu dikerjakan secara berurutan"Ritual tadi sebagai bentuk pemberian persembahan kepada para penghuni merapi," kata diaIni juga termasuk rasa syukur kita telah diberikan keselamatanSehingga terhindar dari mara bahaya yang oleh warga setempat disimbulkan oleh seorang buto

Ritual akhirnya ditutup dengan proses larung lukisan Buto Merapi ke sungai BlongkengPemilihan sungai blongkeng sediri lantaran sungai itu yang dianggap yang paling alami dan jauh dari kerusakan alat berat"Sungai paling alami penghubung merapi dan laut selatan, makanya kita larung buto itu ke selatan supaya tidak membawa bencana," kata dia.

Sebaliknya, setelah buto dilarung, diharapkan kedamaian dan kesejahteraan warga usai merapi meletus akan meningkat"Kyai petruk yang menggembala wedus gembhel sudah mengirimkan abu yang baik untuk tanah, dan Dewi Gadung Melati memberikan banyak material berupa batu dan pasir untuk dimanfaatkan masyarakatnya," papar Agus.

Namun, dia berharap seluruh kekayaan dan hasil material dari merapi harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya tanpa harus melakukan kerusakan dimana-mana"Karena jika merapi sudah mengeluarkan sapu jagad berupa material panas yang keluar bersamaan dengan hujan dan wedhus gembel, hancur sudah bumi kita iniSekarang ini kita sedang diingatkan," beber Agus(vie)

BACA ARTIKEL LAINNYA... MRP Desak UU Otsus Papua Direvisi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler