Lily demi Harga Diri, Kurdi Tak Takut Sanksi

Jumat, 05 Maret 2010 – 05:09 WIB
lily Wahid. (foto:muhamad ali/jawapos)

Ketika dilakukan voting untuk menyikapi skandal Bank Century di Sidang Paripurna DPR Rabu malam lalu (3/3), ada dua sosok bintangMereka adalah Lily Chadijah Wahid (PKB) dan Ahmad Kurdi Mukri (PPP)

BACA JUGA: Askobi, Wadah Perjuangan Korban Bom Terorisme di Indonesia

Dua legislator itu berani sendirian menentang sikap partainya

 ------------------------------ ----
  DIAN WAHYUDI, Jakarta
 ------------------------------ ---
Wajah Lily dan Kurdi mendadak sering muncul di televisi sesudah Sidang Paripurna DPR pada Rabu malam lalu

BACA JUGA: Dikira Banyak Duit, Proposal dari Dapil Meningkat

Lily maupun Kurdi sama-sama ditanya seputar sikap mereka yang berbeda daripada partainya


Dalam voting Rabu malam lalu itu, Lily satu-satunya anggota FPKB yang memilih opsi C

BACA JUGA: Sehari Belajar Tujuh Jam, Wisuda Setiap Jumat

Opsi ini secara garis besar menyebutkan bahwa ada unsur melanggar hukum dalam bailout Rp 6,7 triliun ke Bank CenturyOpsi tersebut  didukung oleh fraksi-fraksi dari Partai Golkar, PDIP, PKS, Gerindra, Hanura, dan PPP yang belakangan bergabung

Opsi A secara garis besar menyebutkan bahwa tidak ada unsur melanggar hukum dalam bailout tersebutOpsi ini didukung fraksi-fraksi dari Partai Demokrat, PKB, dan PAN.Karena menjadi satu-satunya anggota PKB yang berani berbeda sikap, adik kandung Gus Dur itu pun menjadi pusat perhatian wartawan dan para legislator yang memilih opsi C

Dukungan untuk Lily terus berdatangan hingga kemarinIni terlihat, antara lain,  ketika kemarin siang (4/3) dia duduk di salah satu sudut coffee shop di kompleks parlemen, SenayanSaat itu, tak henti-hentinya Lily didatangi orang-orang yang memberikan dukungan moralDi antara mereka, ada yang sesama legislator, ada juga beberapa staf anggota DPR"Selamat Bunda (sapaan akrab Lily Wahid, Red), tetap semangat ya," ujar salah seorang pengunjung coffee shop, sambil menyalami wanita 62 tahun itu

Menanggapi ucapan selamat yang terus berdatangan itu, Lily merasa semakin mantap atas pilihan sikapnya: menentang arus karena berbeda dengan sikap partai dan fraksinyaDia merasa lega karena tidak lagi memiliki beban moral seperti rekan-rekannya yang lain"Asal Anda tahu, sebenarnya hampir semua (anggota FPKB) ingin seperti saya, memilih opsi C," beber Lily kepada Jawa PosNamun, tambah dia, mereka belum memiliki keberanian untuk memilih sikap berbeda daripada garis keputusan partai dan fraksi.

"Pilihan saya yang beda dengan fraksi  kalau dipahami dengan hati yang lapang  justru sebenarnya telah sedikit menyelamatkan muka PKB di hadapan konstituen," papar anggota Tim 9, inisiator Hak Angket Bank Century,  tersebut. 

PKB yang sejak awal berdiri sudah identik dengan sikap kritis dengan membela yang benar, kata dia, semakin tidak kelihatan dalam beberapa waktu terakhirTerutama karena sikap partai yang cenderung mengekor ke sikap Partai Demokrat"Sebagai partai, sulit kami menemukan harga diri dan kebanggaan lagi," kritiknya.    

Lily mengatakan, hingga kini, dia masih terus menerima ucapan selamat atas sikapnya tersebutSebagian ucapan selamat dan dukungan itu disampaikan langsung, ada juga yang dikirim melalui SMS"Inbox di HP saya sampai penuh  hingga harus ada yang saya hapus," katanya"SMS itu dikirim dari masyarakat yang sama sekali tidak saya kenal, akademisi, hingga para kiaiIni bukti bahwa sikap PKB selama ini beda dengan aspirasi konstituen," ungkap putri bungsu Wahid Hasyim, menteri agama pertama RI, itu

Dukungan juga datang dari kakak-kakaknya.  Mulai Gus Im (Hasyim Wahid), Gus Sholah (Salahuddin Wahid), dan dr Umar Wahid"Dorongan kakak-kakak saya itulah, yang juga menjadi sumber semangat dan keberanian saya," tambahnya. 

Voting dalam sidang paripurna Rabu malam itu dilaksanakan dua tahapTahap pertama menentukan apakah opsi yang menggabungkan A dan C (A+C) bisa diterima atau tidakBerdasar hasil lobi, empat partai minta agar ada tambahan opsi dalam votingYakni opsi gabungan A+CEmpat fraksi yang mendukung opsi gabungan itu adalah Partai Demokrat, PAN, PKB, dan PPPLima fraksi lain menolakMaka, dilakukanlah  voting tahap pertamaHasilnya, opsi gabungan itu tidak bisa diterimaSaat voting tahap pertama itu, Lily Wahid adalah satu-satunya anggota fraksi PKB yang menolak opsi gabunganKarena itu, ketika semua temannya sesama fraksi berdiri untuk menyatakan setuju terhadap opsi gabungan tersebut, Lily tetap duduk.  Sontak, sikapnya itu disambut sorak- sorai kubu penentang opsi gabunganLantas, ketika dilakukan voting tahap kedua untuk memilih opsi A atau C, Lily kembali menunjukkan sikap berbedanyaDia satu-satunya anggota FPKB yang memilih opsi C

Bukan hanya Lily yang berani berbeda pendapat daripada sikap fraksinyaDi Fraksi PPP (FPPP), ada Kurdi MukriKetika dilakukan voting tahap pertama, dia satu-satunya anggota FPPP yang menolak opsi gabungan (A+C)Padahal,  saat itu, FPPP menjadi juru bicara yang mengusulkan adanya opsi A+CKetika Kurdi berdiri sendirian sambil melambaikan tangan, dia pun disambut sorak-sorai kubu penolak opsi A+C

Namun, Kurdi berbeda dengan LilyLily tetap sendirian berbeda pendapat dengan fraksinya pada voting tahap pertama dan keduaSebaliknya, Kurdi tidak sendirian pada voting tahap keduaPada voting tahap kedua, tiba-tiba FPPP berbeda pendapat dengan fraksi-fraksi yang semula dia dukung pada voting tahap pertamaPada tahap kedua itu, seluruh anggota FPPP memilih opsi C

Kurdi pun dianggap sebagai motor penggerak FPPP memilih opsi CPadahal, jika mengacu pada voting tahap pertama, FPPP diperkirakan memilih opsi A pada voting tahap kedua bersama Demokrat, PAN, dan PKB."Saya sempat deg-degan ketika berbeda pendapat dengan fraksi saya," kata pria kelahiran 4 Juni 1941 ituDia mengatakan bahwa sikapnya yang berbeda pada voting tahap pertama tanpa koordinasi dengan pimpinan fraksi maupun partai"Tapi, sejak awal, sudah saya katakan ke rapat internal fraksi bahwa saya opsi C," ujar anggota dewan yang sudah memasuki periode kedua di Senayan tersebut.

Kurdi yang juga salah seorang anggota Tim 9 menuturkan, saat rapat internal fraksi sehari sebelum voting, terjadi perdebatan yang sangat tajamFraksi saat itu tetap cenderung akan memilih opsi A"Tapi, saya saat itu tetap CKalau mundur, apa kata orang," ujarnya.

Sikap Kurdi yang bertekad akan tetap memilih opsi C itu dilandasi adanya banyaknya SMS yang dia terima dari para pendukungnyaIsi SMS itu minta PPP agar memilih opsi C"Semua mendorong PPP tidak boleh abu-abu, harus tegas," beber anggota dewan asal dapil Jawa Barat I tersebut.Karena itu, dia sebenarnya sempat malas mengikuti proses voting"Saya sudah mau pulang, tidak ikut voting," ujar mantan aktivis GP Ansor Jawa Barat tersebutTapi, dia mengurungkan niat  setelah salah seorang rekan meyakinkan bahwa keputusan partai sudah sama seperti dirinya.

Ternyata, hingga voting pertama dilakukan, PPP tetap berada di gerbong Partai Demokrat"Ya sudah, saya bismillah saja dan syukur akhirnya sama," ujar politikus yang sudah aktif di PPP sejak 1973 ituPerjalanan Kurdi sebagai wakil rakyat  dimulai pada 1982Saat itu, dia terpilih sebagai anggota DPRD Kota BandungBerturut-turut, hingga 2004, dia terus terpilih sebagai wakil rakyat"Bicara loyalitas, insya Allah tidak perlu diragukanTapi, kalaupun diberi sanksi atas pilihan sikap kemarin, saya tentu siap-siap saja," katanya.(kum)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Warga Tak Punya KTP, Kumpul Kebo pun Biasa


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler