Luhut Panjaitan Terkenang Penyerangan Kota Dili, Gagah Berani tapi...

Senin, 07 Desember 2015 – 15:47 WIB
Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan menghadiri pada acara Peringatan 40 Tahun Penerjunan di Kota Dili 7 Desember 1975 di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Senin (7/12). Foto : Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Penyerangan ke Kota Dili pada 7 Desember 1975 meninggalkan cerita bagi para tentara yang ikut dalam misi tersebut. Salah satunya adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan. 

Pada saat penyerangan itu, Luhut menjadi Komandan Kompi A. Ia menceritakan, harus berada di dalam pesawat selama enam jam. Saat itu, para prajurit harus menahan apabila ingin buang air. 

BACA JUGA: Anak Jalanan yang Punya IQ Superior, Hidup Nomaden Asal Bisa Sekolah

"Kami di pesawat terbang hampir enam jam. Mungkin maaf banyak yang buang air kecil di celana, buang air besar di celana," kata Luhut dalam acara peringatan 40 tahun penerjunan di Kota Dili oleh Satgas Nanggala V Kopassandha di Gedung Chandraca, Cijantung, Jakarta Timur, Senin (7/12).

Luhut mengatakan, para tentara keluar dari pesawat bukan cuma karena berani. "Tapi juga karena sudah betul-betul kelelahan," ucapnya. 

BACA JUGA: Waspada Papa dan Mama Minta Suara

Pasalnya, para prajurit harus membawa ransel seberat 35 kilogram  dan persenjataan. Waktu para prajurit akan terjun dari pesawat, Luhut mengungkapkan, tembakan musuh diarahkan kepada mereka.

"Ada tembakan, pesawat belok. Ada (prajurit) masuk di laut. Ini suatu momen yang benar-benar membuat kita teringat semua bagaimana operasi dilakukan. Gagah berani, tapi tidak terencana dengan baik," tutur Luhut. 

BACA JUGA: Kisah Ajaib Rian, Otak Tertusuk Kayu, Kening Diusap Ustaz Yusuf Mansur, Kini Menulis Buku

Karenanya, Luhut meminta agar para perwira bisa mengambil pembelajaran dari operasi itu. "Ini pembelajaran mungkin bagi para perwira yang masih sekarang berkarya, perencanaan satu operasi harus dilakukan dengan baik. Hal itu tidak kami dapatkan," ungkapnya. 

Kenangan soal penyerangan ke Dili juga disampaikan oleh Letjen TNI (purn) Soegito. Ia menyatakan, anggota Nanggala-5 yang ikut penyerangan tidak pernah mendapat informasi mengenai kekuatan musuh, senjatanya, dan cara bertindak.

"Yang dikatakan kalian tidak usah takut, karena yang dihadapi nanti di sini kira-kira setara hansip," ucap Soegito.

Selama persiapan, para prajurit melakukan latihan secara sederhana. Hal ini dikarenakan kondisi pasukan yang terbatas. Meski demikian, mereka tetap semangat. 

Dalam masa persiapan, ada kesedihan yang dirasakan oleh Soegito. "Saya sebagai komandan terpaksa harus mengambil tindakan yang tidak populer yaitu dengan menarik uang lauk pauk anggota saya supaya latihan bisa dilaksanakan," tuturnya.

Pada 6 Desember 1975, Soegito mengatakan, para anggota Nanggala-5 berada di Lapangan Udara Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur. Di sana, para prajurit menunggu untuk diberangkatkan. 

Namun, para prajurit tidak mendapatkan perawatan dan pelayanan yang sesuai. Bahkan, mereka harus membeli makanan sendiri.

"Untuk makan saja kita semua 263 orang, petugas Nanggala harus mencari dan beli sendiri di berbagai rumah makan dan warung di seluruh Kota Madiun," tutur Soegito.

Pada saat berada di pesawat, Soegito menjelaskan, para prajurit harus duduk berdesakan di lantai selama enam jam. Mereka dibebani payung utama, payung cadangan, senjata lengkap, dan ransel yang berisi perbekalan seberat kurang lebih 35 kilogram. 

"Tentu saja itu meninggalkan perasaan letih, lelah, dan pasrah apapun yang akan terjadi," ucapnya. 

Saat akan terjun dari pesawat, para prajurit dibuat kaget. Saat itu, mereka ditembaki. Tidak jarang desingan peluru terdengar di sekitar tubuh prajurit. Karena itu tidak mengherankan bila kemudian  diketahui salah seorang awak pesawat tertembak dan tewas.

"Alhamdulillah tiga jam setelah penerjunan, tiga sasaran penting yakni pusat pemerintahan, pelabuhan laut, dan lapangan terbang kami kuasai dan duduki," kata Soegito disambut tepuk tangan. 

Pada penyerangan itu, Soegito menuturkan 13 prajurit gugur. Kemudian sebanyak lima orang anggota hilang. 

"Mereka diyakini tercebur di laut karena beberapa hari kemudian dua jenazah di antaranya didapat di Pantai Dili. 72 batal terjun," ujarnya.

Soegito berharap peristiwa penyerangan ke Dili bisa memberikan pengaruh kepada Kopassus dan TNI saat ini. "Kami berharap semoga apa yang pernah kami alami dan berikan bisa dijadikan legacy," ungkapnya. (gil/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Begitu Ada Keputusan Panglima TNI, Para Pemain Sujud Syukur


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler