Mbah Moen: Nasionalis-Religius Satu, Jateng Makmur

Kamis, 15 Februari 2018 – 10:09 WIB
Mbah Moen dan Bu Mega (duduk berdampingan) foto bareng usai silaturahmi. Foto: ist. for JPNN.com

jpnn.com, SEMARANG - Rapat kerja daerah khusus DPD PDI Perjuangan Jateng di Gumaya Tower Hotel Semarang, Rabu (14/2) malam, terasa istimewa dengan kehadiran kiai karismatik pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, KH Maimoen Zubair.

Ulama yang karib disapa Mbah Moen itu memberikan wejangan saat bersilaturahmi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri dan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo-Taj Yasin, serta Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng Bambang Wuryanto setelah rakerdasus.

BACA JUGA: Duet Ganjar-Gus Yasin dan Kisah Kedekatan Bu Mega-Mbah Moen

Mbah Moen mengatakan, kunci menuju terciptanya kemakmuran masyarakat Jateng adalah bersatunya kaum nasionalis dan religius. Ulama yang juga ayahanda cawagub Jateng Taj Yasin tersebut menyatakan ketika Nahdlatul Ulama (religius) bersatu dengan kaum nasionalis, maka akan tercipta Jateng sebagai sentralnya Indonesia.

Mengenakan busana batik berwarna cokelat, sarung dan peci hitam, Mbah Moen menjelaskan, gelaran Pilgub Jateng tahun 2018 ini menjadi momen paling krusial untuk memilih pemimpin yang akan mengantarkan Jateng menjadi lebih baik. "Ini momen penting di mana Pak Ganjar yang berpasangan dengan anak saya, Taj Yasin merupakan perpaduan dari nasionalis dan religius yang insyaallah bisa amanah," katanya.

BACA JUGA: Jateng Kandang Banteng, Hasto Yakin Ganjar Satu Periode Lagi

Menurutnya, Jateng merupakan wilayah sentral. Agama Hindu dan Buddha pertama datang di Jateng, terbukti dari peninggalan candinya. Begitu juga Islam. Masjid Bintoro pertama kali menjadi masjid nasional meski Islam dan bangunan masjid hadir lebih dulu di Aceh dan Medan.

Penanda lain Jateng pusatnya kejayaan Indonesia adalah pada masa dahulu lahir filsafat Sanskerta yang memiliki arti sangat mendalam. Sanskerta dikemas dalam bahasa yang sangat sastrawi yakni bahasa Kawi yang memiliki irama yang diwariskan hingga sekarang, seperti dandang gula, sinom, pangkur dan sebagainya.

BACA JUGA: Pengunduran Diri Ida Fauziah dan Taj Yasin Ditenggat Jumat

"Oleh karena itu Jateng menjadi tolok ukur. Kalau Jateng lebih baik, insyaallah Jateng akan jaya. Jateng adalah perubahan apa yang ada di Indonesia, dan menjadi titik sentral," ujarnya.

Selain memberi wejangan, Mbah Moen juga menggambarkan bagaimana PDI Perjuangan mengalami kemajuan yang pesat hingga sekarang. Sifat nasionalis yang melekat menjadikan PDI Perjuangan butuh sosok yang religius. Dia mengatakan, meski mendarah di NU, namun NU bukan hanya menjadi milik satu partai saja.

"Sebaiknya galang antara religius dan nasionalis. Saya ingin NU ini nasionalis, bukan pada satu partai saja. Sehingga kalau nasionalis dengan religius, insyaallah Indonesia menjadi baldatun toyyibatun," tandasnya.

Sementara petahana Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, PDI Perjuangan memiliki sisi religius yang tinggi namun jarang diketahui publik. Dia pun ikut memuji Mbah Moen sebagai sosok yang mendidik dan memberikannya banyak ilmu bermanfaat. (adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ganjar Pernah Ingatkan Legislator PPP Tolak Rasuah e-KTP


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler