Menabung Seribu Per Hari Selama Setengah Abad demi Berhaji

Selasa, 09 September 2014 – 07:56 WIB

jpnn.com - SUDAH lebih dari setengah abad, Madzari (78), warga pedalaman Kampung Panggeleseran, Desa Banyuresmi, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, menanti untuk bisa menunaikan rukun Islam yang kelima.

Rupiah demi rupiah disisihkan dari hasil berdagang, demi mewujudkan mimpi menuju Tanah Suci.
----------
Laporan : Arif Al Fajar
----------
TAK ada kemewahan di rumah Madzari. Hanya seonggok kursi tua, serta beberapa helai kayu yang menghiasi depan rumahnya. Bahkan untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK) pria renta ini mengandalkan sungai yang berada tepat di samping rumahnya.

BACA JUGA: Dulu Sering Banjir, Sekarang Dikunjungi Turis Asing

Kepada wartawan Radar Bogor (Grup JPNN),  Sali -sapaan Madzari- berbagi cerita bahagia. Tepatnya di pertengahan pekan lalu, Sali mendapat kepastian berangkat ke Tanah Suci. Kegigihan untuk dapat menyentuh hajar aswad, akhirnya terbayar sudah.

“Alhamdulillah, Ahad (14/9) nanti abah berangkat ke Tanah Suci. Dari waktu masih muda, abah nabung dari keuntungan berdagang di Tanggerang,” tuturnya dengan mata berbinar.

BACA JUGA: Bangunan Kumuh-Pesing yang Jadi Seimut Bukit Teletubbies

Perjuangan Sali untuk bisa berhaji sudah dilakoninya sejak usia muda. Dari hasil berdagang, Sali mengumpulkan Rp1 ribu-Rp3 ribu setiap hari. Setelah terkumpul bertahun-tahun, Sali membeli tanah di Kecamatan Cigudeg.

“Sekitar dua tahun lalu, abah jual kembali Rp5 ribu per meter. Semua untuk biaya daftar haji sebesar Rp30 Juta," tutur Sali di kediamannya yang amat sederhana.

BACA JUGA: Fasilitasi Anak Pedagang, Enam Tahun Miliki 115 Santri

Bukan waktu yang sebentar bagi kakek beranak 9 tersebut untuk mengumpulkan biaya berhaji. Mulai menabung sejak usia 22, ia baru bisa mendaftar haji pada 2012 lalu. Hingga kini, Sali mengaku masih tak menyangka dirinya akan bisa pergi ke Tanah Suci.

“Abah tidak menyangka kalau tahun ini abah berangkat. Katanya ada calon jemaah haji yang meninggal, sehingga kuota hajinya ada buat abah. Ya, inilah jawaban dari yang maha kuasa, mungkin dua sampai tiga tahun lagi sudah tidak kuat, jadi abah diberangkatkan sekarang,” ucap Sali, sambil  meneteskan air mata.

Dengan wajah semringah dan raut bahagia, Sali juga memperlihatkan tas haji dan perbekalan yang telah disiapkannya kepada wartawan ini.

“Alhamdulillah abah sudah hafal doa dan bacaan saat melakukan ibadah haji. Karna dulu abah sudah mulai menghafalnya jadi sudah faseh,” ujarnya sembari terus merapikan bekalnya berhaji nanti.

Apa saja yang akan dibawa Sali ke Tanah Suci? Kakek renta dengan sejumlah gigi yang tanggal termakan usia ini mengaku akan membawa beras lima liter sesuai dengan saran mayarakat yang sudah pernah ke Mekah.

“Katanya harus membawa beras, ikan teri, dan masak di sana karena susah dapat makan. Dan kalau harus membeli, mahal harganya. Jadi abah bekal beras lima liter sama lauk ikan asin teri,” tuturnya polos.
    
Sali mengaku ingin sekali berangkat haji bersama sang istri. Namun apa daya, dana yang dimiliki hanya cukup untuk satu orang saja.

“Abah hanya bisa berdoa semoga menjadi haji yang mabrur dan sampai kembali dengan selamat. Semoga abah dan emak diberi umur yang panjang, dan ketika di Mekah, abah berdoa agar Abah bisa kembali berangkat ke tanah suci bersama emak,” pintanya. (rp13/c)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Di Balik Kebangkitan Perinus Sorong


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler