Merinding, Suara Burung Hantu Bikin Suasana Makin Mencekam

Minggu, 17 Juli 2016 – 00:09 WIB
BIKIN MERINDING: Prosesi mati raga dalam pementasan Calonarang di Taman Budaya membuat penonton merinding. Foto: Adrian Suwanto/Bali Express

jpnn.com - KESENIAN calonarang yang digelar di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, menghadirkan prosesi mati raga atau yang dikenal juga dengan bangke matah. Seni tradisi yang dibawakan oleh Sanggar Gita Bandana Praja, Denpasar itu, dalam ajang Bali Mandara Mahalango 2016, terang saja membuat penonton merinding.

EKA PRASETYA, Denpasar 

BACA JUGA: Kisah Honorer K2 Sudah 14 Tahun Menunggu Nasib

KESENIAN diawali dengan pementasan barong. Pementasan dilanjutkan dengan lakon calonarang berjudul “Manas Mas Pengeger Mangku Dalem Tembau”. Lakon itu menceritakan keinginan Raja Kesiman, Ida Kiyai Anglurah Pemayun, menguasai Kerajaan Mengwi. Dalam proses perebutan itu, Raja Kesiman mengalami kendala karena musuh yang dianggap terlalu kuat.

Raja Kesiman lantas memohon petunjuk pada brahmana yang ada di Kesiman. Dari petunjuk brahmana, raja disarankan berdoa ke Pura Dalem Tembau sekaligus memohon pusaka disana.

BACA JUGA: Kaesang Pangarep KKN di Desa di Tengah Hutan, tak Gampang Ditemui

Alhasil raja mendapatkan pusaka dan berhasil menyerang Mengwi dengan kekuatan gaib, yakni menyerang dengan gerubug. Serangan itu pun ampuh menaklukkan Kerajaan Mengwi.

Dalam prosesi calonarang, tak hanya ditampilkan cerita-cerita kerajaan. Namun juga menghadirkan prosesi mati raga. Prosesi ini cukup menarik perhatian penonton. Terutama saat wadah dibawa keluar panggung. 

BACA JUGA: Kisah si Cantik yang Diperkosa Tiga Pria di Tempat Pencucian Mobil

Banyak penonton yang mengikuti dan menyaksikan prosesi mati raga yang dilakukan di sebelah utara Gedung Ksirarnawa. Suara burung hantu dan lampu yang mendadak padam, membuat suasana kian mencekam.

Tak lama kemudian, bangke matah langsung dibawa ke Kalangan Ayodya. Alih-alih dibawa dari belakang panggung, bangke matah malah dibawa dari sisi barat panggung.

Tak pelak penonton yang menyaksikan pementasan dari sisi barat, dibuat merinding. Pementasan itu pun disaksikan dengan seksama oleh penonton. Penonton tak kunjung beranjak dari kalangan. Saat pementasan usai pada pukul 00.00 dini hari, penonton baru bubar.

Koordinator Sanggar Gita Bandana Praja, Nyoman  Gede Yasa mengatakan, kesenian calonarang memang kesenian yang sakral. Sehingga tak sembarang sanggar yang bisa membawakan. Namun sanggar pimpinannya, sudah biasa membawakan kesenian calonarang. “Sudah biasa. Kami persiapan hanya dua atau tiga hari. Karena kami biasa ngayah,” ujar Yasa.

Animo penonton yang tinggi, terutama dari kalangan remaja, juga memberikan kesan tersendiri bagi Yasa. Apalagi kesenian calonarang termasuk kesenian tradisi yang minim peminat. Kehadiran penonton-penonton muda dalam pementasan, diyakini memberikan peluang regenerasi yang cukup besar.

“Calonarang ini kaitannya dengan sastra Bali, juga kaitannya dengan hubungan spiritual kita. Regenerasi itu penting, biar kesenian ini terus berlanjut. Apalagi rata-rata pura di Bali ini punya sungsungan barong. Mudah-mudahan penonton yang muda-muda ini juga ikut tertarik menekuni kesenian ini,” harapnya. (*/yes/sam/jpnn) 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tinggalkan Warisan Race & Care untuk Surabaya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler