Obituari Leo Kristi

Minggu, 21 Mei 2017 – 14:59 WIB
Sampul album Konser Rakyat Leo Kristi bertajuk Nyanyian Tanah Merdeka. Foto: Public Domain.

jpnn.com - LEO duet dengan penyanyi perempuan bernama Kristi. Duo ini dikenal sebagai Leo Kristi. Ketika bubar, Leo tetap menggunakan nama Leo Kristi. Sebuah narasi mengenang penyanyi rakyat…

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Selamat Jalan Leo Kristi...

Espita menceritakan, Leo Kristi sudah jadi anak band sejak SMA.

Kian larut dalam bermusik, kuliahnya di jurusan Aristektur, Institut Teknologi 10 November Surabaya ditinggalkan begitu saja. Saat itu dia semester dua.

BACA JUGA: Sejarah Masuknya Orang Tionghoa ke Jakarta (4/habis)

Bukankah ini mengingatkan kita akan kiprah penyanyi Gombloh yang terkenal dengan lagu di radio…aku dengar lagu kesayanganmu...

Gombloh juga berhenti kuliah di jurusan Arsitektur di ITS Surabaya, demi bermusik.

BACA JUGA: Sejarah Masuknya Orang Tionghoa ke Jakarta (3)

Baca:Masih Ingat Gombloh?

Leo dan Gombloh sama-sama Arek Suroboyo. Mereka berkawan. Sama-sama mendirikan band Lemon Tress pada 1969. Di band ini kemudian bergabung pula Franky Sahilatua--kemudian terkenal dengan duo Franky & Jane.

Konser Rakyat

Leo Kristi tidak komersial dan tidak omong duit. Ia dikenal bukan lantaran sering tampil di layar kaca. Melainkan karena Konser Rakyat yang digelarnya di sejumlah pulau di Indonesia.

Di berbagai kesempatan, menurut Denny Sakrie sejarawan musik Indonesia, Leo Kristri kerap mengatakan, "kita selalu mengharapkan, kebudayaan bisa menjadi jembatan yang menghubungkan cinta kasih sayang sesama manusia."

Denny menyimpulkan, Leo menikmati hidup sebagai seorang bohemian. Hari ini di pedesaan Bulukumba, Sulawesi Selatan, bulan depan di Kalimantan, setahun kemudian melangkah di Jimbaran, Bali, dan entah di mana lagi.

"Teman-teman dekatnya bahkan tak tahu atau tak bisa menebak kapan dia akan berlabuh di suatu tempat. gagasan-gagasannya bertualang ke sana ke mari," tulis Denny.

Tujuan Leo melakukan pementasan keliling tersebut, sebagaimana ditulis Espita Riama dalam Leo Kristi, termuat dalam buku Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan IV, terbitan Depdikbud, membawa misi memberi pemahaman akan luhurnya musik daerah kepada rakyat kecil.

Bagi Leo yang selalu menempelkan lambang Burung Garuda di pundaknya, masyarakat kecil perlu mendapat arahan bahwa musik mereka tidak kalah indahnya dengan musik yang datang dari luar negeri.

"Sewaktu Leo mengadakan Konser Rakyat, ia selalu dikerumuni pengunjung. Penonton selalu menunjukkan antusias yang luar biasa," tulis Espita.

Seniman Henry C. Widjaja dalam buku Celebrating the Moment: A Compilation of Photo Poems in Black & White menceritakan pengalamannya suatu kali menonton Konser Rakyat Leo Kristi yang bertajuk Puisi Gelap.

Menurut dia, meski diawali keterlambatan, sistem tata suara berdenging, gitar belum distem, senar putus dan nyanyi serampak yang tak kompak, penonton tak berhenti bersorak.

"Bahkan saweran agar Leo terus bernyanyi. Ada sesuatu yang lebih dari masalah teknis, yaitu menjadi saksi bagi jiwa yang bernyanyi," tulisnya.

Konser Rakyat mulai diproklamirkan Leo Kristi sejak pertengahan 1970-an. Formasi pertamanya Leo Kristi, Naniel, dan Mung. Serta dua gadis bersaudara Jilly dan Lita yang berperan sebagai penyanyi latar.

Formasi ini, tulis Denny, melahirkan album perdana Nyanyian Fajar yang diproduksi Aktuil Musicollection--majalah musik di Bandung yang melebarkan sayap ke dunia rekaman.

Dalam perjalanannya, formasi ini berubah-ubah. Beberapa nama yang silih berganti masuk antara lain, Otte Abadi, Komang, Cak Bagus, Tatiek, Yayuk serta dua bersaudara Nana dan Yana van Derkley.

"Bila semua nama disebut, bisa jadi panjang sekali. Mengingat tiap mengembara ke suatu daerah, dia selalu menemukan bibit-bibit baru yang kemudian disertakan dalam formasi Konser Rakyat Leo Kristi," ungkap Denny.

Tujuan Leo melakukan perjalanan demikian, menurut Espita, adalah semata-mata untuk dapat menghasilkan karya agung.

Entah berapa lagu yang telah dilahirkan Leo. Yang pasti, setelah merilis album Nyanyian Fajar (1976), disusul album Nyanyian Malam (Irama Tara, 1977), Nyanyian Tanah Merdeka (Irama Tara, 1978), Nyanyian Cinta (Suara Emas Record, 1979), Nyanyian Tambur Jalanan (Akurama, 1982), Lintasan Hijau Hitam (Virgo Ramayana, 1983).

Dialah yang menggarap music score untuk film Letnan Harahap (PT Sumaco Film, 1977) dan film Nyoman Cinta Merah Putih. Film yang diproduksi PT Jantera Sidha Dyatmika pada 1989 ini, dikenal juga dengan judul Nyoman dan Presiden.

 Arek Suroboyo

Pembaca sekalian, senarai kisah ini dibuat untuk mengenang Leo Kristi yang baru saja berpulang dini hari tadi, sekira pukul 00.32 Minggu, 21 Mei 2017, di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Jenazahnya dibawa ke rumah duka, Jl. Bongas II E7 No. 17, Jatiwaringin Asri, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Sejumlah sumber melansir Leo Kristi lahir di Surabaya, 8 Agustus 1949.

Namun, Denny Sakrie dalam buku Musisiku, yang diterbitkan Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI) dan Penerbit Republika menulis, Leo lahir di Surabaya, 11 pekan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Entah mana yang akurat. Yang pasti, orang tuanya, R.A. Roekmini Idajati dan Raden Ngabehi Iman Soebiantoro memberi anak lelaki itu nama Leo Imam Soekarno.

Ayahnya bekerja di kantor inspeksi keuangan. Meski lahir dari keluarga yang berkecukupan, sejak kanak-kanak kiblat Leo sudah kerakyatan.

Sejak kecil, Leo kerap, "bernyanyi di belakang rumah tempat tinggal para gelandangan dengan gitar tua. Bass-nya mereka rakit dari bahan kotak sabun," tulis Espita Riama.

Menurut Denny Sakrie, kemampuan Leo bernyanyi, main gitar, flute, piano hingga biola menular dari ayahnya.

Mempertajam ilmu bermusiknya, Leo kursus gitar pada Tony Kardijk, Direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya. Lalu mendalami teknik memetik gitar pada Oei Siok Gwan dan Poei Sing Gwan.

Teknik vokal dipelajarinya dari John Topan dan Nuri Hidayat. "Dari merekalah Leo mengetahui teknik menyanyi phrasering, vibrato, falsetto, breathing dan entah apa lagi, tulis Denny.

Leo Kristi yang berperan sebagai Bung Tomo dalam film Soerabaia 45 (PT Sinar Permatamas Film, 1991) mengakui, dalam bermusik dia dipengaruhi musisi barat.

Seperti Bob Dylan, Queen, Beatles, Mellani dan Piere Morlin. Makanya ia tidak menyangkal di antara lagu-lagunya ada yang berasal dari lagu asing yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Tapi, Leo mengatakan, ciri musik yang dimainkannya lebih condong kepada musik diapenta Indonesia yang merupakan hasil endapan dari suatu proses yang panjang.

Tak ayal jika dia konsisten dengan musiknya yang berembel-embel Konser Rakyat. Gerilya dari satu kota ke kota lain, Leo menelorkan lagu-lagu bergenre kesaksian.

Mari sejenak menyimak lagunya yang berjudul Di Deretan Rel-Rel, dirilis dalam album Nyanyian Fajar (1976)…

kereta pagi berangkat siang hari/satu gerbong seratus penumpang/di sela-sela tumpukan keranjang dan karung-karung/perempuan berteriak ribut/bayi-bayi menangis/jalan menuju kota gaduh selalu...

Itulah kesaksian Leo Kristi. Menggambarkan kehidupan di kereta pada 1970-an.

Dan apa yang digambarkannya itu masih sama hingga permulaan abad 21, sebelum Jonan yang kini jadi Menteri-nya Jokowi merapikan perkeretaapian Indonesia. Jonan juga Arek Suroboyo eh...

"Musik adalah sahabat, dan nyanyian adalah kecintaan," begitu pandangan jiwa Leo Kristi. Baik sebagai pencipta lagu dan pemusik.

Oiya, meski sebenarnya Kristi adalah nama penyanyi perempuan yang pernah tandem dengannya, dalam berbagai kesempatan, Leo mengaku bahwa Kristi adalah nama gitar hitam yang selalu dibawanya manggung.

Katanya, Kristi itu singkatan dari keris sakti.

Begitulah senarai narasi mengenang kepulangan Leo Kristi, sang penyanyi rakyat.

Coba deh dengar lagu-lagunya. Banyak di kanal youtube... (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Suku Anak Dalam, Sejarah Persekawinan Trah Singosari dan Pagaruyung


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler