OJK 'Endus' Gelagat Taper Tantrum The Fed yang Bisa Terulang, Sektor Keuangan Waspada!

Selasa, 06 Juli 2021 – 17:21 WIB
OJK menyebut pelaku bisnis keuangan perlu mencermati perubahan sikap atau "stance" bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve terhadap pergerakan pasar ke depan. Foto: Dok JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - OJK menyebut pelaku bisnis keuangan perlu mencermati perubahan sikap atau "stance" bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve terhadap pergerakan pasar ke depan.

Pasalnya, Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus E Siregar menilai secara historis, sekitar dua tahun sebelum rencana kenaikan suku bunga, The Fed akan mulai pelan-pelan mengurangi secara bertahap pemulihan likuiditas dari pasar.

BACA JUGA: Pascaproyeksi Suku Bunga The Fed Kurs Rupiah Ambyar 117 Poin, Begini Kata BI

"Indonesia punya pelajaran yang bisa dijadikan acuan, di 2013 kami sudah pernah menghadapi taper tantrum, dan itu memberikan tekanan terhadap pasar keuangan di emerging market," ujar Agus dalam sebuah seminar daring di Jakarta, Selasa (6/7).

Menurut Agus, taper tantrum atau gejolak keuangan sebagai dampak dari pengurangan pembelian obligasi oleh bank sentral AS Federal Reserve pada 2013 menekan pasar keuangan di negara berkembang.

BACA JUGA: Kurs Rupiah Rawan Terpeleset Seiring Konsolidasi Pasar Jelang Pertemuan The Fed

"Khususnya, yang memiliki ketidakseimbangan eksternal tinggi," beber Agus.

Saat ini, kata dia lagi, keseimbangan eksternal negara-negara berkembang membaik, termasuk The Fragile Five yaitu Turki, Brazil, Indonesia, Afrika Selatan, dan India.

BACA JUGA: Spekulasi Pasar Terhadap The Fed Menguntungkan Kurs Rupiah

Namun, kerentanan baru perlu diperhatikan, terutama apabila memiliki beban pembiayaan yang sudah cukup tinggi.

Dia menilai current account deficit (CAD)dibandingkan PDB Indonesia lebih baik dari 2013.

"Demikian juga beberapa faktor lain. Hanya satu faktor Indonesia yang lebih jelek dibandingkan 2013 yaitu Debt to Service Ratio, tapi ini aspek yang pengaruhnya tidak signifikan," kata Agus.

Pada 2013, defisit neraca transaksi berjalan (CAD) Indonesia mencapai 2,03 persen, sedangkan saat ini berada di posisi 0,36 persen.

Inflasi pada 2013 melonjak hingga 8,08 persen, sedangkan saat ini inflasi mencapai 1,68 persen. Porsi kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) pada 2013 mencapai 32,5 persen, sedangkan saat ini di posisi 23,8 persen.

Sementara Debt to Service Ratio (DSR) pemerintah pada 2013 mencapai 7,9 persen, sedangkan saat ini lebih tinggi yaitu di posisi 17,4 persen.

"Mudah-mudahan impact dari taper tantrum apabila dilakukan oleh The Fed, tidak terlalu berdampak signifikan ke Indonesia. Namun, tetap harus dicermati," ujar Agus.

The Fed sendiri sudah mulai berubah sikap dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) terakhir.

Bank sentral AS itu sudah mulai lebih ketat atau hawkish dengan menyatakan akan berencana menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate pada 2023.

Agus menyebut tanda-tanda taper tantrum itu biasanya dimulai dengan mengurangi pembelian aset-aset baru kemudian The Fed akan menaikkan suku bunga.

The Fed kan saat ini melakukan kebijakan quantitative easing, melakukan pembelian aset-aset dari sektor riil langsung ke bank sentral dan juga menurunkan suku bunga.

"Ke depan kalau mereka mulai taper tantrum itu tanda-tandanya The Fed mulai mengurangi pembelian aset-aset dari sektor swasta, baru pada 2023 memikirkan menaikkan suku bunganya," ujar Agus. (antara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Terkait Testimoni Gubernur The Fed, Akankah Bawa Angin Segar untuk Kurs Rupiah?


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler