Pakailah Gagasan Bung Karno dalam Indoktrinasi Bela Negara!

Rabu, 14 Oktober 2015 – 19:12 WIB
Ketua Komite Persiapan Liga Pemuda Indonesia (KP LPI), Lalu HIlman Afriandi. Foto: Wenri Wanhar/JPNN.com.

jpnn.com - JAKARTA - Ketua Komite Persiapan Liga Pemuda Indonesia (KP LPI), Lalu Hilman Afriandi mengatakan, seruan bela negara masih sangat relevan hingga hari ini. Sebab, selama kekuasaan imperialisme masih ada, selama itulah ancaman datangnya perang akan selalu ada.

"Masih bercokolnya kekuasaan imperialisme di Indonesia, dapat dilihat dari ciri-ciri bahwa hingga hari ini, Indonesia dijadikan sumber bahan baku, sumber tenaga kerja murah, pasar bagi produk industri negara kapitalis dan tempat penanaman modal monopoli," kata pemuda berusia 31 tahun itu kepada JPNN.com, Rabu (14/10).

BACA JUGA: Kepala BKN: PPPK Setara PNS, Juga Terima Pensiunan

Dia menjelaskan, Indonesia adalah salah satu negeri yang besar, baik dilihat dari sudut luas negeri, pun dilihat dari besarnya jumlah penduduk. Sebagai negeri yang kaya, negeri kepulauan yang menghubungkan dua benua, serta dilingkungi oleh tiga lautan besar, maka ada hal-hal yang menguntungkan dan yang merugikan Indonesia. 

"Indonesia diuntungkan oleh kedudukan geografisnya karena tidak mungkin terisolasi dari dunia ramai. Indonesia mempunyai syarat-syarat untuk sepanjang masa menjadi negeri yang ramai dikunjungi orang. Indonesia mempunyai syarat-syarat yang tidak terbatas untuk mempunyai perhubungan laut yang luas di dalam dan luar negeri," paparnya.

BACA JUGA: Kejahatan Terhadap Anak Meningkat, Ini Pesan Kapolri

Nah, jika Indonesia bukan negeri yang kuat, lanjutnya, sangat sulit mencegah desakan-desakan dari kaum penyerang yang sangat berkepentingan menguasai Indonesia yang kaya raya. Pantai-pantai Indonesia yang sangat panjang juga sukar dijaga dari serbuan militer asing dan kaum penyelundup. 

Berangkat dari basis materi tersebut, mantan Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) ini berpendapat program bela negara harus dihubungkan dengan kepentingan nasional Indonesia. 

BACA JUGA: Sekjen NasDem Lenyap, Akbar Faisal: Saya Gak Pernah Lihat

"Untuk menjaga itu, maka setiap warga negara berkewajiban membela negara dari ancaman agresi yang dilakukan oleh negara luar yang berwatak imperialis. Entah itu agresi militer, ekonomi, politik dan agresi kebudayaan." 

Indokrinasi Revolusioner

Terkait adanya pokok-pokok indokrinasi dalam gerakan bela negara, anak muda asal Lombok ini mengusulkan materinya hendaknya bersendikan gagasan Bung Karno tentang persatuan nasional revolusioner.

Senjata-senjata yang dimiliki Indonesia untuk melakukan indoktrinasi, kata dia, sungguh banyak dan cukup lengkap. 

Yakni, Pancasila yang lahir pada 1945, Manipol sebagai program umum revolusi Indonesia yang bersifat nasional demokratis yang lahir pada 1959, Deklarasi Ekonomi atau Dekon sebagai manifesto ekonomi yang lahir pada1963, Trikasti Taviv atau Trisakti Sukarno yang lahir pada 1964.

Kemudian perincian mengenai prinsip Berdikari sebagai satu bagian integral dari pada Trisakti Taviv, yang lahir pada 1965.  

“Senjata-senjata kita sudah banyak. Harus selalu kita asah, kita amalkan dan kita dalami. Makin banyak indoktrinasi yang dijalankan berdasarkan semangat revolusioner, maka semakin besar jaminan bagi bangsa Indonesia untuk dapat keluar dari situsi yang pincang dan setengah merdeka. Dan semakin cepatlah cita-cita kemerdekaan sejati kita wujudkan,” tuturnya.

Bersamaan dengan itu, Lalu Hilman juga mendorong perlunya ditanamkan solidaritas internasional dengan negara-negara yang berjuang untuk menghapuskan penindasan nasional sebagai syarat membangun dunia baru yang bersih dari pengaruh imperialisme. (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jokowi Tetapkan Hari Santri, Ansor Harapkan Kurikulum Pesantren Juga Diakui


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler