Pamit dan Minta Diantar ke Stasiun Kota Terakhir Kali

Selasa, 12 November 2013 – 07:52 WIB

jpnn.com - SEBELUM peristiwa jatuhnya helikopter M-17 milik TNI AD di Kabupaten Malina, Kalimantan Utara, Sabtu (9/11) sejumlah firasat sudah dirasakan orang-orang terdekatnya.

Salah satunya dialami Ayu Rizki Sahara Putri, istri dari Lettu CPN Rahmat. Seperti apa pertanda yang ditunjukkan Rahmat?
----------
Zaenal Abidin -Bogor
--------

BACA JUGA: Media Makin Getol Investigasi Setelah Veteran Tak Berdaya

Sebelum berangkat bertugas ke Kalimantan, Lettu CPN Rahmat yang beristrikan orang Bogor, menyempatkan pulang untuk bertemu istrinya di Kompleks Inkopad Blok B3 No 13 RT 09/05 Desa Sasakpanjang Kecamatan Tajurhalang.

Almarhum Rahmat menikahi Ayu 1,6 tahun lalu. Rahmat yang berasal dari Grobogan Purwodadi Jawa Tengah selama ini tinggal terpisah dengan istrinya. Setiap dua bulan sekali mereka bertemu, baik itu Ayu yang karyawan salah satu bank di Parung  yang mengunjungi suaminya atau sebaliknya. Dari pernikahannya itu belum dikaruniai momongan.

BACA JUGA: Jangankan Perhargaan, BLSM pun Terlewatkan

Namun saat Rahmat mendapat tugas yang terakhir kalinya itu, menyempatkan diri bertemu istrinya untuk pamit mendapat tugas di Bali. Sabtu (2/11), Rahmat mengunjungi istrinya di Desa Sasakpanjang.

Saat pamitan pulang, Rahmat yang biasanya hanya diantar oleh istrinya sampai Stasiun Bojong Gede meminta agar diantar hingga Stasiun Kota.

BACA JUGA: Pembakaran Rumah Kampung Pemasang Ranjau

Rupanya itulah salah satu pertanda yang ditunjukkan Rahmat yang selama ini dikenal oleh keluarganya istrinya adalah sosok yang humoris dan perhatian terhadap keluarga.

Setelah kembali bertugas, Jumat (8/11), Rahmat sempat menelpon istrinya dan mengabarkan bahwa tugasnya dialihkan ke Kalimantan. “Komunikasi terakhir pada Jumat malam itu. Memang banyak keganjilan yang ditunjukkan oleh Almarhum sebelum berangkat tugas,” ungkap Farah (17) adik ipar Rahmat.

Selama ini kata Farah, kakaknya yang bekerja di Bank BNI Cabang Parung setiap dua bulan sekali ke Jawa untuk mengunjungi suaminya. Sejak menikah 29 April 2012, mereka sering gantian tempat tinggal. “Kadang di Jawa Tengah, kadang juga di sini. Tergantung tugas dari suaminya,” jelas Farah.

Kesedihan juga dirasakan oleh Tantenya, Nini (42). Ia mengaku kaget dan tidak percaya kalau Sabtu (2/11) itulah terakhir kalinya Ia bertemu dengan menantunya tersebut.

Ayu yang merupakan putri dari Letkol Sumarno Kalsum itu sudah berangkat ke Purwodadi bersama keluarga besarnya, menunggu kedatangan jenazah. Rencananya Almarhum Rahmat akan dikebumikan di kampung halamannya.

Helikopter naas itu berangkat dari Bandara Juwata, Tarakan menuju ke Pos Perbatasan Indonesia-Malaysia di Malinau. Selain mengangkut 19 orang, Heli diketahui juga membawa material bangunan untuk pembangunan Pos Pengamanan Perbatasan Indonesia-Malaysia.

Capung mesin yang dibawa oleh Pilot Lettu CPN Agung Budiharjo berangkat pada pukul 9:09 Wita dari Bandara Juwata Tarakan menuju Desa Long Bulan melintasi Long Apung. Harusnya diperkirakan helikopter mendarat pada pukul 10:06.

Namun, hingga pukul 10:10 belum juga landing dan dikabarkan telah terbakar. Dari 19 penumpang, 13 diantaranya meninggal dunia dengan tubuh penuh luka bakar.(*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jembatan Kali Progo dan Kemarahan Pada Sang Kolonel


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler