Panen Raya Dihadiri Pejabat, Petani Kompak Tolak Impor Beras

Senin, 29 Januari 2018 – 15:46 WIB
Ketua DPR Bambang Soesatyo bersama Ketua MPR Zulkifli Hasan (berkemeja biru) saat menghadiri panen raya di Banyuasin, Sumatera Selatan, Senin (29/1). Foto: M Kusdharmadi/JPNN.Com

jpnn.com, BANYUASIN - Para petani Desa Srimulyo, Kecamatan Air Saleh, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan kompak meneriakkan penolakan mereka terhadap rencana pemerintah mengimpor beras. Mereka meneriakkan penolakan atas impor beras justru ketika menggelar panen raya yang dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Senin (29/1).

Tapi tak hanya Amran yang hadir pada penen raya itu.Banyak pejabat membanjiri kegiatan itu.

BACA JUGA: Zulkifli: Petani Jangan Cuma Dimuliakan, tapi Disejahterakan

Terlihat ikut dalam panen raya antara lain Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPR Bambang Soesatyo, Kepala Staf Kepresidenan Moeldok dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf.

Petinggi TNI dan Polri juga tampak hadir pada panen raya itu. Antara lain Wakasad Letjen Tatang Sulaiman, Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto, Kadiv Humas Polri sekaligus Kepala Satgas Pangan Irjen Setyo Wasisto, Kapolda Sumsel Irjen Zulkarnain, Aster TNI Mayjen Supartodi, Pangdam II Sriwijaya dan sejumlah pejabat lainnya termasuk Bupati Banyuasin Supriyono.

BACA JUGA: Wow! Sumsel Surplus Beras 626 Ribu Ton

"Tolak impor, Banyuasin banyak beras," kata petani saat panen raya tersebut. 

Para petani bersama Amran, Zulkifli dan Bambang melakukan panen raya di area sawah nan luas. Hamparan padi tampak menguning.

BACA JUGA: Awas, Harga Beras Bisa Terjun Bebas!

Bahkan, ada lahan yang sudah dipanen dan siap ditanam lagi. Ratusan warga bersukacita menyambut panen raya itu. 

Zulkifli bersama Amran sempat menaiki traktor untuk membuka lahan yang akan ditanami usai panen. Mereka menaiki traktor EF 393T. 

"Ini alat buat tanam baru langsung turun bibit. Lahan yang sudah dipanen kemarin bisa ditanam kembali," kata Winarto, salah satu petani yang ikut dalam panen raya itu.

Warga Desa Srikaton itu mengatakan, panen bisa dilakukan empat bulan sekali. "Kalau di sini sekitar enam ton bisa dipanen," katanya. 

Winarto juga mengatakan, petani menolak rencana pemerintah impor beras. "Kalau impor tidak setuju. Karena baru wacana saja, harga gabah sudah turun," katanya. 

Dia menjelaskan, harga gabah kering sebelum ada wacana impor mencapai Rp 5 ribu per kilogram. Sedangkan sekarang sudah turun menjadi Rp 4.500 per kilo.

"Stok juga mudah-mudahan tercukupi, sehingga tidak perlu impor," ungkapnya. 

Salah satu petani lainnya, Andeng juga menolak rencana impor beras. "Kami tidak setuju. Harga kami jadi jatuh kalau ada impor," ungkapnya. 

Dia meyakini stok beras mencukupi. Bahkan, kata dia, sampai saat ini saja belum semua sawah panen, tapi beras sudah banyak. 

Sedangkan Zulkifli mendukung penolakan petani terhadap rencana impor beras. "Gara-gara mau impor sekarang tinggal Rp 4.500 per kilo. Oleh karena itu petani tolak impor beras," ujar ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini di lokasi. 

Adapun Amran mengharapkan lahan persawahan di Banyuasin bisa tiga kali tanam tahun ini. Apalagi, dahulu lahan itu adalah rawa yang kemudian diubah menjadi pertanian.

"Dulu satu tahun satu kali sampai dua kali tanam. Tahun ini saya harap tiga kali," kata Amran.(boy/jpnn) 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rencana Impor 3 Jenis Komoditas Disebut Kebijakan Sadis


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler