Pasar Fluktuasi, Trader Pilih Profit Taking

Senin, 05 September 2016 – 07:24 WIB
Ilustrasi. Foto: JPNN

jpnn.com - JAKARTA-Fluktuasi market masih akan membayangi lalu lintas perdagangan saham September. Pemicunya, berporos pada rencana Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan (Fed Rate). Kondisi tersebut bakal dimanfaatkan pelaku pasar (trader) untuk melakukan aksi profit taking.

Kepala Riset Daewoo Securities Indonesia Taye Shim menyebut, faktor The Fed akan menjadi alasan kuat investor menuntaskan hajatan ambil untung. Sebab kalau tidak, pemodal kemungkinan besar bakal kehilangan momentum. Dan, timing tidak pernah datang dua kali. Jadi, pilihannya bertindak atau membiarkan potensial gain melintas.

BACA JUGA: Lewat Inpres 7 2016, Langkah KKP Semakin Mulus

Apalagi, sambung Taye Shim, sejak awal tahun, indeks harga saham gabungan (IHSG) tumbuh pesat. Tidak ada opsi paling menarik kecuali melakukan reposisi terhadap sejumlah portofolio saham.

Kalau pun tidak, investor dipaksa bertindak konservatif. “Itu kemudian bakal memicu gerak perdagangan saham bulan ini cenderung sideways,” bebernya di Jakarta kemarin.

BACA JUGA: Harapkan Feedback, GarudaFood Gelar Aksi Simpatik

Ada sejumlah dalih bagi The Fed menaikkan suku bunga September. Situasi itu amat menantang menyusul berbarengan dengan pesta demokrasi negara super power tersebut. November pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) bakal menjadi pertaruhan investor. “Secara price, investor domestik telah menyesuaikan dengan kenaikan Fed rate,” imbuhnya.

Akhir Agustus, petinggi The Fed mengklaim pertumbuhan ekonomi Amerika semakin kuat. Data itu menjadi barometer dan basis untuk menaikkan suku bunga. Itu sedikit memberi goncangan terhadap market global. Indeks Manufacturing PMI Tiongkok Agustus menunjuk penguatan setelah terkontraksi bulan sebelumnya.

BACA JUGA: Menpar Arief Memuji Pentahelix Pembangunan KEK Tanjung Kelayang

“Selanjutnya, tingkat inflasi rendah di Eropa dan Jepang, serta krisis politik di Brazil menjadi perhatian investor,” ulas Analis Reliance Securities Robertus Yanuar Hardy.

Sepanjang Agustus terjadi deflasi 0,02 persen dengan inflasi tahunan mencapai 2,79 persen terendah sejak 2009. Kalau Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga, juga akan mempertimbangkan faktor penguatan dolar Amerika Serikat (USD).

Mayoritas sektor berhasil ditutup naik akhir Agustus. Meski sempat ada guncangan, tetapi kenaikan signifikan sejak awal bulan, performa Indeks tetap positif.

September ini, Indeks diramal bergerak mixed cenderung melemah, menuju support 5.300-5.250. Apabila menguat resistance terdekat dapat ditemui pada 5.500. Investor akan cenderung wait and see menyambut pertemuan The Fed 21 September.

Karena itu, volatilitas perdagangan diperkirakan mengalami peningkatan. “Peluang Indeks masih terbuka dengan catatan BI memangkas suku bunga 7Day Reverse Repo untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi,” tegas Robertus. (far)

BACA ARTIKEL LAINNYA... DP Rumah Turun, Sektor Lain Diharapkan Terangkat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler