Pemberontakan Malam Tahun Baru (1)

Jumat, 01 Januari 2016 – 12:13 WIB
Koran Djago! Djago! yang diterbitkan PKI Minangkabau. Koran ini menyelaraskan ajaran Islam dan komunisme. Foto: Istimewa.

jpnn.com - PEMBERONTAKAN dimulai pukul 00.01, saat tuan-tuan dan noni-noni Belanda itu mabuk-mabukan dan berdansa-dansi merayakan malam tahun baru 1927. Begitu rencananya…

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Tapak-tapak Kaum Pergerakan Perempuan

Ketika orang-orang mulai ragu, Kamaruddin gelar Manggulung mengacungkan pistol. "Yang tidak setuju pemberontakan, angkat tangan!"

Hari itu para pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang berunding di Silungkang, Minangkabau. Almanak bertanggal 20 Desember 1926.  

BACA JUGA: Tak Cuma Penanya yang Tajam...

Rapat yang dihadiri lebih dari 30 orang itu, sebagaimana diceritakan Abdul Muluk Nasution dalam buku Pemberontakan Sarekat Rakyat, untuk membuat keputusan terakhir, apakah pemberontakan tetap dilaksanakan atau tidak.

Abdul Muluk anggota Sarekat Rakyat Silungkang. Dia saksi sejarah.

BACA JUGA: Gadis Kecil Penggagas Hari Ibu itu Menolak Menyembah Raja Jawa

Pemberontakan PKI

Pemberontakan menuntut kemerdekaan Indonesia digagas oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) saat Konferensi Prambanan, 25 Desember 1925.

Menurut Audrey Kahin dalam buku Dari Pemberontakan Ke Integrasi, saat Konferensi Prambanan, yang paling bersemangat menyuarakan pemberontakan adalah Sutan Said Ali, delegasi PKI Minang.

Di Jawa, pemberontakan PKI meletus serentak pada 12 November 1926. Namun tak lama berhasil dipatahkan pemerintah Hindia Belanda.

Di Sumatera, rencana pemberontakan di kocok ulang karena gempa bumi dan letusan Gunung Marapi, 28 Juni 1926 meluluh-lantakkan nagari Padang Panjang yang rencananya dijadikan pusat perlawanan.

Setelah Padang Panjang, basis yang terkuat di Sumatera adalah PKI cabang Silungkang, wilayah perlintasan kereta api antara kota tambang Sawahlunto dan Solok. 

Ada kemungkinan apabila Silungkang bertindak, maka cabang-cabang lain akan ikut berontak.

Maka, pusat pemberontakan pun dipindahkan ke kota ini.

Nah, mengingat gagalnya pemberontakan di Jawa, dalam rapat para pimpinan PKI Minang di Silungkang, 20 Desember 1926, muncul keraguan; revolusi di Minangkabau juga tidak mungkin berhasil. 

Karena mulai ragu-ragu itulah, Kamaruddin gelar Manggulung mengacungkan pistol, dan meminta yang tak setuju angkat tangan.

Akhirnya, semua peserta rapat setuju, meski, "sadar betul bahwa pemberontakan itu mungkin akan gagal seperti yang terjadi di Jawa,” kenang Abdul Muluk, seorang saksi mata dalam buku Pemberontakan Sarekat Rakyat.

Rencananya, gong pemberontakan mulai ditabuh pada malam tahun baru 1927. Tepat saat tuan dan noni Belanda sedang mabuk-mabukan dan dansa-dansi merayakan pergantian tahun. --bersambung (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Skenario Hari Ibu (1)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler