Pemerintah RI jadi Sasaran Aksi Teroris

Target Bom Selanjutnya Masih Diselidiki

Selasa, 29 September 2009 – 18:50 WIB
JAKARTA - Kendati telah mengungkap isi laptop Noordin M Top, polisi mengaku masih belum menemukan petunjuk soal target pengeboman selanjutnyaPolisi hanya menyebut bahwa pemerintah Indonesia menjadi tujuan serangan kelompok tersebut

BACA JUGA: Survei Target, Jogging Depan Ritz Carlton

Sempat ada isu soal rumah SBY di Cikeas maupun Istana Negara yang jadi sasaran, namun itu belum dapat dipastikan sebagai target pengeboman.

"Yang belum kita ungkap hari ini, berarti masih dalam penyelidikan kami," kata Penyidik Utama Densus 88, Kombes Pol Tito Karnavian, saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (29/9).

Tito mengatakan, pemerintah Indonesia menjadi tujuan penyerangan karena didasari alasan sebagai near enemy (oleh teroris)
Pemerintah Indonesia mereka anggap telah memfasilitasi demokrasi yang dikembangkan pihak Barat di negeri ini

BACA JUGA: Atensi Khusus untuk Kapuspenkum

"Terjadi perubahan arah penyerangan mereka, dari sebelumnya kepentingan Barat sebagai far enemy
Bom di Jatiasih menunjukkan (bahwa) pemerintah Indonesia menjadi tujuan penyerangan," paparnya.

Dugaan adanya target pengeboman selanjutnya menguat, karena pada penggerebekan di Solo, polisi mendapatkan 200 kilogram bahan peledak

BACA JUGA: BPK Temukan Pelanggaran di Bank Century

Dari isu yang berkembang, Bali serta kota yang memiliki fasilitas kepentingan Barat bakal menjadi target selanjutnya"Memang kita temukan bahan peledak di Solo, namun itu belum tentu siap pakaiKita masih selidiki," lanjut Tito pula.

Tito pun menyampaikan bahwa sebagian besar aksi bom yang dilakukan di Indonesia mendapat dukungan dari NoordinPolisi juga menemukan bahwa telah kembali terbangun hubungan (kelompok Noordin) dengan teroris internasionalIni menyebabkan lahirnya jaringan-jaringan teror baru yang lain"Contohnya, ya, jaringan Syaifudin yang belum pernah muncul sebelumnya," paparnya.

Dari rangkaian peledakan bom yang pernah terjadi di Indonesia sebelumnya, polisi kini memastikan mendapatkan sedikit gambaran selanjutnya tentang serial penyerangan iniSeperti diketahui banyak orang, aksi peledakan bom (dari kelompok ini) tercatat dimulai sejak bom Bali I (2002), JW Marriott (tahun 2003), di Kedubes Australia-Kuningan (2004), bom Bali II (2005), hingga bom di hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott (2009)(mas/JPNN)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Desakan agar Kapolri Mundur Menguat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler